
"Akhirnyaa ...." Zigo memeluk saudaranya dengan erat. Dua minggu pria itu meninggalkannya ke Puelba dengan sejuta pekerjaan yang membuatnya lelah. "Akhirnya aku bebas," ujar Zigo sambil membuang napas legah. Namun, saat ingin memberi salam penyambutan kepada Andrea, wanita itu membentaknya dengan tatapan aneh.
"Menjauh dariku!"
Zigo mengerutkan keningnya menatap kepergian Andrea. "Ada apa dengan wajah cantikmu, apa kau tidak bahagia bertemu dengan ku?"tahan Zigo hingga langkah wanita itu tertahan.
"Menyingkirlah!"
Zigo mengedikkan bahu ke arah Malvin untuk mencari tahu penyebab kekasihnya berwajah seperti itu padanya. Dan langsung di jawab dengan gelengan kepala dari pria bermata hitam itu.
Andrea sedang merajuk karena sepanjang perjalanan dia sama sekali tidak bisa mengobrol bersama Marisa, Demetrio memonopoli Marisa hingga pesawat mereka tiba di Puelba. Bahkan Andrea tidak bisa mendengar bagaimana bisa dia dan Demetrio berada di hotel. Padahal ia sangat penasaran akan hal itu. Namun, lihatlah, bahkan sekarang Pria dingin itu terus menggandeng kekasihnya hibgga tidak ada jedah untuk Andrea mendekati Marisa.
Saat berbalik, manik predator itu melihat wanita lain yang datang bersama Demetrio. Wanita dengan warna rambut hitam itu di dekap erat oleh pria dingin itu. "Ternyata ada wanita cantik lainnya di sini." Wajah predator itu langsung berbinar, Zigo melangkah dengan cepat dan langsung berdiri tepat di depan Marisa.
"Siapa kau?" tanya Zigo dengan raut wajah nakal.
"Jangan menyentuhnya atau kupatahkan batang ***** mu."
"Oh God!" Zigo spontan mundur dan langsung memegang alat di balik celannya menutup barang berharganya itu dengan kedua tangan.
Marisa yang sama sekali tidak mengenal Zigo pun langsung tertawa kecil melihat reaksi pria itu. Namun, di sisi lain ia bahagia karena Demetrio menjaganya dari pria lain yang ingin mendekatinya meski hanya sekedar menanyakan siapa dia.
"Huh?"
Marisa melongos di tarik oleh Demetrio. Wanita itu mengangguk meskipun tampak sedikit heran kenapa Demetrio begitu tidak suka jika saudara dari Malvin mengajak untuk berkenalan. Marisa ikut saja saat tangannya di tarik oleh Demetrio masuk ke dalam Mansion, akan tetapi rasa penasarannya membuat dia bertanya saat keduanya sampai di ruang utama.
"Memangnya siapa dia? sejak tadi ku perhatikan kau sangat tidak menyukainya," tanya Marisa dengan raut wajah penasaran. Tapi Demetrio hanya meliriknya kemudian melangkah pergi tanpa menjawab.
"Dasar wajah es, aku hanya bertanya kenapa dia harus marah."
"Ada apa dengan pria kaku itu?" tanya Malvin membuat Marisa menjauh seketika karena wajah pria bermanik hitam itu berada tepat di samping telinganya hingga membuat ia sedikit kaget.
"Oh astaga, Malvin! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu, kau membuatku kaget."
Malvin terkekeh. "Maaf .... Itu karena kau yang terlalu serius menatap kepergian kekasihmu," sela Malvin dengan cepat. Melihat bagaimana Demetrio meninggalkan Marisa dan kembali keluar membuat Malvin tersenyum tipis. "Apa dia sedang pergi untuk memperingati Zigo agar tidak mendekati Marisa?" Malvin Menaikan satu alisnya, membatin pelan sambil tersenyum sendiri.
"Apa kalian bertemu dengan saudara ku di depan?" tanya Malvin lagi.
"Si." Wajah Marisa seketika murung. "Apa Demetrio marah karena saudaramu itu mengajak ku bicara?"
Pria bertato elang itu kembali terbahak. "Demetrio tidak pernah marah Marisa, raut wajah dan tingkah nya memang selalu seperti itu. Kaku dan dingin. Tenang saja, dia tidak sedang marah padamu," jelas Malvin masih dengan tertatawa kecil. Pria bermata hitam itu tidak menyangkah kalau Demetrio akan menajadi pria sensitif sama sepertinya saat awal jatuh oada Andrea dulu.