
Malvin dan Andrea tiba di Puelba setelah berjam-jam berada di pesawat. Mereka menggunakan pesawat pribadi keluarga Alexander, padahal Andrea sudah mewanti-wanti bahwa dia ingin menaiki pesawat umum bukan pribadi. Dia tidak ingin orang-orang di Puelba menganggap bawa gosip dia menjual diri adalah benar. Namun, ternyata Malvin tidak melakukannya, dia memilih pesawat pribadi agar Andrea bisa istirahat dengan tenang, dia tidak ingin kekasih dan calon bayinya mendapat gangguan dari orang-orang yang mungkin saja mereka kenal di dalam pesawat. Andrea dan bayinya harus tetap merasa nyaman.
"Aku merindukanmu?" Dayla memberikan pelukan untuk putri sambungnya. Setelah itu menarik tubuhnya menjauh dari Andrea untuk menyapa Malvin. "Selamat datang untuk ke dua kalinya di Puelba, bedanya hari ini anda masuk lewat pintu bukan dari jendela."
Malvin membeliak, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Malvin menatap Andrea ragu-ragu, lebih tepatnya dia memberikan pertanyaan bagaimana Dayla tahu tentang Malvin yang mendatangi Andrea dengan melewati jendela.
"Maaf Dayla, tapi aku bi-"
"Tenanglah, kau tidak perlu segugup ini. Lazaro tidak tahu tentang hal itu," potong Dayla dengan cepat. Dia tahu, Malvin pasti canggung karena rahasia di ketahui oleh Dayla.
Andrea mengalungkan lengannya di pinggang kekasihnya. "Maafkan Aku, karena menceritakannya kepada Dayla," bisiknya dengan terkekeh.
Malvin menghela napas. "Oh God! Andrea, kau membuatku malu di depan Dayla."
Andrea tertawa halus. "Maafkan aku Sayang. Apa kau marah?"
Malvin tersenyum, ia menyingkirkan sejumput rabut yang menghalangi pipinya membawanya ke belakang telinga. "Mana bisa aku marah padamu Sayang. Sekarang aku harus menghadapi dua orang, tentu saja aku akan kalah." Dia memberikan kecupan pada bibir Andrea tepat di depan Dayla.
Secepatnya Andrea mendorong pelan dada kekasihnya untuk menjauh. "Malvin! Dayla ada di sana?" Andrea memberikan isyarat dengan memainkan matanya ke arah Dayla.
Wanita yang sudah menjadi ibu sambungnya selama 10 tahun itu langsug berdehem. Seketika langsung membuat Malvin memekik dengan keras.
"Oh Tuhan!" Malvin menutup wajahnya dengan kedua tangan menunduk malu karena perbuatannya. Entah kenapa dia sangat tidak bisa menahan godaan untuk mencium bibir Andrea. "Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf Nyonya Lazaro," ucapnya dengan wajah penyesalan.
Dayla tertawa. "Kekasihmu sangat manis. Aku menyukainya."
"Sudah ku duga," ucap Andrea dengan wajah berseri. "Dan aku berharap Ayah juga menyukainya."
"Dia sedang keluar, sebentar lagi akan sampai. Tenanglah, dia sudah tahu kalian akan datang hari ini."
Malvin membuang napas legah, setidaknya Lazaro tahu kedatangan mereka. Untuk selanjutnya dia serahkan kepada Tuhan. Semoga segala doa dan keinginnanya di kabulkan oleh pria yang sangat di hormati oleh kakasih hatinya itu.
"Kau gugup?" bisik Demetrio saat Dayla sedang sibuk mengobrol dengan Andrea.
"Apa itu terlihat?"
"Celanamu hampir basah karena kau yang terus menyeka keringat di sana," ejek Demetrio.
Malvin berdecak. "Kurang ajar kau, aku lupa membawa sapu tanganku, berikan punyamu untukku." Malvin menadahkan tangan, meminta agar Demetrio memberikan sapu tangannya.
"Jangan membasahinya."
Malvin terkekeh, dia menarik sapu tangan berwarna biru navi itu lalu menoleh pada wanita cantik yang sedang mengobrol bersama ibunya di sana. Sekali lagi dia mengucap syukir karena Tuhan mempertemukannya dengan wanita luar biasa seperti Andrea, yang akan memberinya seorang anak sebentar lagi.
"Demi dia, aku terlihat seperti bukan seorang Mafia. Cinta membuat kita menjadi lemah dan berperasaan." Malvin membalikan arah tatapannya kepada Demetrio. "Kau harus mencobanya, aku yakin wajah es mu itu akan beruba menjadi Marsmellow. Manis dan lembut."
"What?"
Malvin tertawa saat membayangkan bagaimana sikap dari wajah sedingin es itu berubah menjadi pria lembut dan manis. Tahu apa yang sedang di pikirkan sahabatnya Demetrio menyentil keras kuping Malvin agar menghentikan hayalannya.
"Hentikan! Aku tidak akan menjadi seperti dirimu."