
"Kantin nggak?" suara Alaska menyapa pendengaran Lou.
Sejak kembali dari toilet Lou banyak diam, dan hal itu menjadi perhatian Alaska sejak tadi. Gadis itu kadang mencuri pandang kearahnya.
"Lo ada masalah?" Karena tidak ada sautan Alaska kembali melontarkan pertanyaan.
Lou tersentak kaget"H-hah, apa?"katanya linglung.
Alaska menghela nafas kasar"Lo kenapa sebenarnya? Gue udah dari tadi ngomong sama lo"katanya.
"Gue denger kok" Bantah Lou.
"Coba ulangin apa yang lo dengar" Alaska menghela nafas kasar saat tak sedikitpun gadis itu akan menjawab "Kantin dulu ya? Kayaknya ini efek karena lo belum makan" Karena lebih mudah begitu.
Lou mengangguk, Saat tangan Alaska meraih lengannya ia segera bangkit dari bangku secepatnya. Lou berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Alaska yang berjalan di belakangnya.
Lou menghela nafas kasar, ia ingin mengatakan ini ada Alaska tapi takutnya lelaki itu membuat keributan pada apa yang belum terjadi. Sebisa mungkin Lou ingin sedikit menjaga jarak dari Alaska, setidaknya satu minggu ini sebelum UTS berlangsung.
Langkah kaki Lou bertambah cepat saat ada Anin di depan sana, tepat didepan kelas XI MIPA 1. Lou langsung meraih tangan Anin dan menariknya untuk ikut bersamanya.
"Kamu kenapa?" tanya Anin diseleh langkah mereka yang terburu-buru.
"Cepatin Nin, Gue lagi ngindarin Aska" bisiknya takut Alaska mendengar.
"Kenapa? Kalian berantem?."
"Jangan tanya ih, gue lagi dalam bahaya tahu," masih dengan bisikan pelan.
Kantin tepat di depan mata mereka, Lou langsung saja mengajak Anin menuju meja yang kosong. Lou menarik kursi kemudian mendudukan dirinya disana.
"Nggak pesan?" Alaska menarik satu kursi di samping Lou, kemudian mendudukan dirinya disana.
"Biar aku yang pesan" kata Anin melihat kondisi saat ini.
"Gue pengen mie ayam."
"Kamu Al, mau apa?" pasalnya lelaki itu tidak mengucapkan pesanannya.
"Samain" Alaska tidak menoleh, pandangannya fokus pada Lou. Saat terdengar langkah Anin menjauh, ia menarik kursi Lou lebih dekat dengannya "Sebenarnya lo ada apa?" tanyanya.
Lou menundukkan wajahnya, posisi mereka saat ini membuat banyak pasang mata memandang. Mungkin mereka sudah menjadi atensi pertama saat ini.
"Lo kerasukan setan setelah dari toilet? atau ada yang nyakitin lo?" Alaska sungguh tidak senang dengan sikap Lou sekarang "Harusnya lo kasih tau gue kan?" katanya.
Lou menarik nafasnya dalam, masih dengan kepala menunduk ia berucap "Gue lagi mikirin UTS, takut nilainya nggak sesuai" oke, ini adalah alasan paling bodoh yang pernah Lou pikirkan.
Alaska mengangkat dagu Lou hingga gadis itu menatapnya "Sejak kapan Louqina Marcella mikirin soal nilai?" katanya dengan kedua sudut bibir tertarik membentuk senyum mengejek.
Lou mendorong sedikit bahu Alaska agar lelaki itu sedikit mundur "Itu... Gue lagi mikirin universitas yang cukup terkenal, nilai gue harus stabil kalau mau masuk kesana" katanya.
Alaska mengangguk tanpa merubah ekspresinya sedikitpun "Terus?" tanyanya.
Lou menahan nafasnya sejenak, apa tidak bisa ia berbohong pada lelaki ini. Nyatanya seperti itu, karena Lou menghabiskan lebih dari setengah hidupnya bersama Alaska. Lelaki itu sangat pandai untuk melihat kebohongan yang ia buat.
"Lo bisa kalau nggak mau ngasih tahu sekarang, tapi cerita sama gue kalau lo udah siap" katanya.
Lou mengangguk, bertepatan dengan itu Anin kembali dengan membawa satu nampan yang berisi pesanan mereka. Ah, jangan lupakan seorang lelaki tinggi yang bebera hari lalu Lou lihat di kantin ini.
"Thanks.... so you can leave us"
Lou memperhatikan bagaimana Anin mengusir lelaki itu dengan pelan hingga lelaki itu pergi. Lou mengalihkan pandangannya menuju Anin "Kenapa diusir? Bukannya dia baik mau baru lo?."
Hal ini tidak dapat dipercaya, karena seorang yang berucap lembut seperti Anin nyatanya mampu bersikap sedikit kasar.
"Makan, nggak usah bicara lagi" tegur Alaska, karena bisa saja kedua gadis itu akan terus-terusan bicara alih-alih makan.
Lou mengangguk, mulai menyantap mie ayam kesukaannya. Tapi biarpun begitu, Lou masih saja sempat mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Matanya tak sengaja menatap beberapa gadis yang menatap tajam kearahnya, tapi Lou abaikan begitu saja.
...
Mereka baru saja keluar kelas, bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu dan kelas mereka terlambat karena guru yang mengajar belum ingin keluar sebelum materi habis. Lou meregangkan tangannya, menendang-nendang kecil udara didepannya sebagai bentuk pelampiasan kekesalan.
"Langsung pulang atau mau jalan?" Alaska menatap Lou yang mencebikkan bibirnya kesal.
"Pulang, capek banget" keluhnya.
"Yaudah kalau-" Deringan ponselnya membuat Alaska menghentikan ucapannya, melihat sebentar nama kontak yang menghubunginya "Sebentar, gue angkat telpon dulu" pamitnya pada Lou.
Sementara Lou mengamati Alaska yang berjarak cukup jauh darinya. Lelaki itu nampak berbicara dengan serius, dilihat dari wajahnya yang nampak tegang.
Lou berdehem pelan saat Alaska berjalan kearahnya, lelaki itu langsung menarik tangannya dengan langkan terburu-buru. Lou berusaha mengimbangi langkah lebar Alaska, ia ingin protes tapi tahu waktu saat ini tidak tepat.
Mereka sampai parkiran dan ada seorang gadis disana. Alaska mengehtikan langkahnya tepat di depan gadis itu.
"Antar dia pulang, tanpa lecet sedikit pun" titahnya dengan nada tegas.
"Gue jamin dia bakal pulang selamat, lo cuman harus bawa teman-teman gue pulang" katanya.
Lou masih mencerna situasi yang terjadi, ia meraih lengan Alaska saat lelaki itu akan melangkah pergi.
"Pulang sama dia, Gue punya urusan mendesak" katanya.
Lou menarik kembali tangannya, menatap punggung Alaska yang pergi menjauh darinya. Selama ini Lou tidak pernah mengamati bagaimana saat lelaki itu menjauh darinya, rasanya ada sesuatu yang mengganjal saat lelaki itu menjauh.
"Hei" Lou menoleh dengan alis terangkat "Gue Sea" katanya mengulurkan tangan.
Lou meraih tangan gadis yang sepertinya seumuran dengannya itu "Louqina Marcella, lo bisa panggil gue Lou" katanya.
Saat keduanya menarik tangan masing-masing ada jeda disana. Lalu Sea berjalan lebih dulu menuju mobil miliknya, mempersilahkan Lou untuk naik.
Bunyi saat mobil di stater dan saat mereka perlahan menjauh dari area sekolah. Lou menatap kearah belakang, tempat dimana sekolahnya berada.
"Alamat lo?."
"Hah, itu...Cendana no 10" katanya.
"Siapanya Alaska?."
Lou menoleh pada Sea "Apanya?."
Nampak gadis itu terkekeh pelan "Hubungan.Lo berdua punya hubungan apa?" tanyanya lagi.
Lou mengangguk "Teman" jawabnya.
"Kayaknya bukan, karena Alaska nggak akan bersikap kayak sekarang kalau lo cuman temannya" Sea menoleh sebentar kearah Lou lalu kembali fokus pada setirnya "Dia nggak akan sepeduli itu kalau kalian cuman temanan" katanya.
"Nggak.Kita benar-benar cuman teman" Lou terdiam setelahnya, ia mulai memikirkan ulang. Sebenarnya Alaska itu orang seperti apa? Karena Lou tidak pernah benar-benar memahami lelaki itu. Karena saat Lou merasa dia sangat dekat, maka jarak itu seperti semakin besar.
...