Endless

Endless
Chapter 127



Zigo kembali ke Mansionnya dengan wajah kusam, Paris tidak mengijinkan dia untuk datang ke apartemennya sebelum dia memutuskan pilihan mana yang akan dia ambil. Dia juga memberi syarat agar Zigo tidak bermain dengan wanita manapun selama kesempatan itu dia berikan.


Pilihan yang wanita itu berikan benar-benar berat untuknya. Melepas kebebasannya dan fokus pada satu wanita bukanlah gayanya. Namun, jika dia memilih untuk tetap menjadi pria penikmat wanita maka dia harus pasrah jika Paris benar-benar mengabaikannya.


Zigo memutar gelas wiskinya pelan, entah sudah berapa jam pria itu menghabisakan waktu dengan meneguk minuman. Sungguh menyedihkan sekali penampilannya sekarang. Bahkan dia tidak di ijinkan menikmati minuman ini di bar atau kelab yang sering dia kunjungi.


"Apa yang harus aku lakukan Paris, apa aku harus meninggalkan semua kebiasaanku dan hidup hanya denganmu?" Zigo membuang napas kasar. Dia terus mengutuk dirinya karena belum bisa mengambil keputusan apapun. Dia mengingat kembali apa yang Demetrio katakan, bahwa dia akan menyesal jika sekali saja dia membuat Paris terluka.


"Oh S h i t!" Zigo Dengan cepat meraih kunci mobilnya dan melangkah dengan langkah panjang keluar Mansion. Dia harus menyelesaikan semua ini agar pikirannya bisa tenang. Zigo menginjak pedal gas nya menuju rumah sakit, berharap kali Ini adalah kesempatan terbaik.


***


"Bukankah sudah ku katakan jangan menghampiriku jika aku sedang bekerja, pasien ku membutuhkanku Zigo. Jika kau seperti ini terus aku akan di pecat," ucap Paris sedikit berteriak.


"Aku bahkan lebih membutuhkanmu," ujarnya meraih pergelangan tangan Paris. Namun wanita itu dengan cepat menepisnya.


"Ini rumah sakit Zigo, perhatikan tingkahmu."


Zigo mengerutkan bibir, kini fokusnya beralih ke yang lain, diam-diam dia memperhatikan penampilan Paris yang sungguh terlihat berbeda hari ini. Sangat berbeda dari biasanya. Yah, karena biasanya Paris akan menggenakan kulot yang di padukan dengan kemaja yang di isi ke dalam celana agar terlihat rapi, dia selalu menolak untuk terlihat cantik saat bekerja. Namun, pagi ini, sangat berbeda. Paris menggenakan kemeja dengan belahan kancing yang cukup jauh dari leher, dia juga menggenakan rok span sebatas lutut dan mempelihatkan kaki jenjangnya. Bahkan rambut panjangnya ia gerai begitu saja.


"Apa ada sesuatu hari ini? Kau merubah penampilanmu."


"Bukan urusanmu," ujarnya berlalu pergi. Paris ingin sekali lagi melabrak kekasihnya itu. Namun, hari ini rumah sakit sangat ramai, dia tidak mungkin mengamuk di depan para pengunjung dan lagi rekan-rekan kerjanya akan menganggap dia wanita yang kasar.


Paris berdecak dengan tertawa hambar. "Kau bahkan tidak bisa meninggalkan wanita-wanitamu untuk ku. Lalu untuk apa aku menjadi wanita setia."


Zigo menarik keras lengan Paris, rahangnya jelas terlihat mengeras. "Aku akan membunuh semua pria yang mencoba mendekatimu."


Paris kembali terkekeh. "Benarkah?"


"Akan aku lakukan," ujarnya dengan tegas.Dan itu membuat Paris menoleh dengan seketika. "Aku akan meninggalkan semua wanita-wanita itu untuk mu."


Paris menghela napasnya. "Buktikan! Jangan hanya dengan mengucapkan saja."


"Aku benar-benar akan melakukannya, kau ingin aku tetap bersamamu? Oke! Kau ingin aku tidak bermain dengan wanita lain? Oke! Hanya satu, aku tidak bisa meningggalkan dunia malamku. Aku janji, tidak akan bermain dengan wanita manapun, hanya dengan mu dan alkohol."


"Bagaimana jika ada yang merayumu di di sana."


"Paris kau tahu menahan rayuan itu sangat sulit bagiku," ujar Zigo dengan wajah memelas.


"Kalau begitu kau gagal Tuan Elio."


"Oh Sh i t! Baiklah."


"Good Boy."