Endless

Endless
Chapter 29.



Arsula mengeram kesal saat mengetahui Andrea tidak ada gudang, dia melangkah cepat masuk ke dalam Mansion mencari perempuan yang sudah terus saja membuat dia kesal itu dengan penuh kemurkaan. Dengan wajahnya yang menahan amarah, dia menodongkan senjata kepada Garilla karena telah membantu menyelamatkan Andrea.


"Kau tidak akan berani melakukannya Signora." Garilla menatap tanpa berkedip.


"Aku akan menembakmu wanita tua sialan," desisnya menodongkan senjata pada wanita yang mengganggu kesenangannya.


"Signora! Tidak!" Sella menahan Arsula untuk tidak melakukannya.


"Sedang apa kau!"


"Kita akan terkena masalah jika ada dua korban Signora."


"Itu tidak masalah bagiku!"


"Tapi Signiora."


"Kau berani memerintahku."


Mata Andrea perlahan terbuka, tidak makan seharian membuat dia semakin lemah. Apalagi setiap jam Sella dan Arsula selalu datang dan menyiksanya, membuatnya menjerit kesakitan lalu pergi dengan tawa. Baru saja Andrea ingin bersuara, sebuah langka terdengar mendekat. Dan Sella yang sudah lebih dulu melihat kedatangan Malvin, terdiam di tempat.


"Signora, aku mohon hentikan ini," teriak Garilla.


Ucapannya Garilla seperti tertiup angin. Arsula memberi perintah pada Sella untuk kembali menyeret Andrea keluar. Namun, saat akan menoleh matanya membulat melihat seorang pria berbadan kekar yang selalu dia gilai selama dua tahun terakhir ini berdiri tepat di hadapannya.


"Baby?" Wajah Arsula berubah menjadi lebih bahagia. "Lihat, apa kau suka peregangan ototku?"


"Signore, aku mohon ampuni dia, ini sudah sangat berlebihan. Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun," mohon Garilla kepada Malvin. Namun, Arsula menampiknya, dia kembali memberi tatapan perintah kepada Sella untuk menyeret Andrea ke hadapannya.


"Seret dia kehadapanku!"


"Tapi, Signora?" Sella ketakutan saat menatap Malvin. Pria itu berdiri diam menyaksikan dengan tatapan dingin yang sangat menyeramkan.


"Apa yang kau lakukan, cepat! Ikuti perintahku. Jambak dia dan seret dia kehadapanku."


"No Malvin!" Arsula menolak untuk menyudahi penyiksaannya.


"Aku bilang hentikan!" Ucapannya begitu santai. Namun tidak dengan kepalan di tangannya. Bahkan hatinya sudah sangat ingin sekali memerintahkan tangannya untuk mencekik wanita di hadapannya."


"No!"


"Jangan lagi menyiksa orang karena kecemburuanmu yang tidak beralasan itu Arsula."


"Malvin! Apa-apaan ini."


"Hentikan semua ini Arsula, sudah cukup!"


Arsula tersenyum miring, dia berdiri lalu mendekat ke arah Andrea, meremas pada lengannya yang terluka. Andrea menggigit bibir bawahnya merasakan rasa sakit itu dengan air mata yang kembali menetes. Dan malvin refleks bergetar melihat aksi kekasihnya. Pria bermata kelam itu memggertakan giginya tatkala melihat air mata Andrea.


"Jangan berfikir kau bisa lolos dari semua ini wanita sampah. Kita belum selesai."


Arsula menyilangkan tangan di dada mendapati tatapan datar dari kekasihnya. "Manusia kotor sepertimu memang selalu akan mendapatkan belas kasihan dari orang lain."


Andrea menelan ludahnya, bibirnya bergetar menahan isakan. Pria itu bahkan hanya diam melihat bagaimana kekasihnya menyakiti orang lain.


"Tinggalkan dia Arsula, ini sudah cukup."


Arsula tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dia bergeming tidak akan meninggalkan Andrea.


"Arsula!"


Selama beberapa menit manik hitam itu terus menatap, membuat kekasihnya semakin geram dan akhirnya meninggalkan kamar Andrea dengan terpaksa.


Garilla bernapas legah, dia tahu Andrea pun merasakan hal yang sama. Kini entah dia harus berterima kasih ataukah mengutuk pria itu. Seharusnya dari awal kedatangannya dia sudah mengusir wanita iblis itu agar tidak terus mengatakan hal buruk padanya. Siksaan yang dia berikan cukup membuat Andrea merasa akan mati.