
30 menit perjalanan akhirnya Paris dan Zigo tiba di apartemen. Zigo berulang kali memberikan penjelasan. Akan tetapi wanita itu selalu menolaknya. "Paris, tunggu dulu dengarkan penjelasan ku."
"Apa kau benar-benar menginginkan ku?" Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu tiba-tiba berbalik dan menanyakan hal seserius itu kepada Zigo.
Zigo tersenyum lembut, menatap kekasihnya. "Tentu saja Sayang, kau sangat tahu jika aku tidak bisa berpisah denganmu."
"Kalau begitu hentikan hobi gilamu dan nikahi aku sekarang juga," ujar Paris dengan tegas. Pendar matanya mengatakan jika dia serius dengan apa yang baru saja dia katakan.
"What? Menikah!" Zigo memekik seketika. "Apa seseorang baru saja mengomporimu, setan apa yang sudah merasukimu, kenapa iba-tiba kau ingin menikah."
"Kau! Kaulah setannya," ujarnya berlalu tanpa memperdulikan raut wajah Zigo yang sangat kaget. Ia menekan beberapa angka pada barkode pintu apartemen-nya. Pintu terbuka dan keduanya pun masuk dengan beriringan.
"Sayang ...."
"Berhenti di situ," ucap Paris menghentikan langkah Zigo yang hendak mendekatinya. Wajahnya cukup serius membuat Zigo seketika menghentikan langkahnya dan berdiri diam di tempar.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini padaku." Zigo menatap tidak percaya, baru kali ini wanita itu membentaknya dengan sangat kasar. Padahal di mata Zigo Paris adalah sosok wanita yang lembut meskipun sedikit cuek.
Tidak ada jawaban membuat pria yang memiliki rambut sedikit ikal itu melangkah mendekati kekasihnya. Zigo meraih lengan Paris yang hendak masuk ke kamar mandi. "Jangan mengabaikanku, katakan ada apa? Kenapa kau begitu marah." Zigo benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada kekasihnya, dia tahu benar, Paris tidak akan pernah menanggapi dengan kasar apalagi memohon untuk di nikahi.
"Seharusnya itu menjadi pertanyaanku Tuan Elio." Paris menghempas cekalan tangan Zigo padanya. "Apa yang terjadi denganmu Zigo. Kau semakin menjadi liar dan tidak terkendali. Nafsu menutup otakmu hingga kau tidak sadar jika itu bisa mengancurkan hubungan orang lain," ujarnya Paris sedikit berteriak.
Hembusan napas kasar keluar dari bibir yang selalu mendendangkan keromantisan dan kenikmatan itu.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan Paris, aku sama sekali tidak melakukan apapun di Mansion Malvin. Aku hanya mengunjungi saudaraku, hanya itu."
"Jika ia, lalu kenapa Malvin menghubungiku, dia meminta agar aku menjaga dan menyekapmu agar kau tidak terlalu liar."
"Oh God! Dia mengatakan seperti itu?" Zigo memekik keras, dia sangat tidak suka Paris terpancing omongan orang lain seperti ini.
"Paris, ini hanya salah paham, aku tidak tahu jika Malvin menempatkan Andrea di kamarnya," ujarnya memberi pembelaan. Namun, sepertinya sia-sia. Paris terlihat sangat marah.
"Apa ke menginginkan Andrea?"
"Paris! Ini hanya salah paham." Sekali lagi Zigo berusaha menetralkan keadaan.
"Kau menginginkannya." Paris bergerak menjauh. Namun, Zigo segera menarik tangan wanita itu mendekat padanya. Zigo menguatkan pegangannya pada pinggul kekasihnya agar dia tidak lagi menjauh.
"No Paris. Demi Tuhan aku tidak menginginkannya."
Paris tertawa keras mendengar kalimat yang di rasanya itu sangat serius. "Hentikan permainan bodohmu itu atau kita akan selesai."
Zigo menelan salivanya dengan sangat susah. Dia melihat jelas manik mata cokelat yang ada di depannya. Mata paris benar-benar membuat hati Zigo terenyuh. Seketika dia benci dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia melakukan semua hal konyol ini dan menyakiti wanita yang selalu setia menemaninya.
"Oke ... oke aku mengakuinya. Aku memang sedikit menyukai Andrea, tapi aku sama sekali tidak mencintainya Paris itu hanya fantasi sesaatku saja, aku hanya ingin melihat sebesar apa keinginan ku untuk memilikinya."
"What?" Paris meronta melepaskan rangkulan Zigo.
Plak
Paris memberi satu tamparan keras di pipi Zigo. "Kau benar-benar tidak waras." Sungguh dia sangat kesal. Menjadi wanita mandiri dan independen yang memberi kebebasan kepada kekasihnya ternyata adalah kesalahan. "Sebaiknya kau pulang."
"Paris ...."
"Kita akan membicarakan tentang hubungan kita nanti, sekarang aku punya tanggung jawab yang lebih penting dari pada omong kosong ini."