
Mansion di penuhi teriakan keras Garilla saat melihat majikannya kembali dengan tangan berlumuran darah. Dan Andrea yang berada di pelukannya. Wajah penuh khawatir itu kini seperti sedang menahan kesakitan dengan lukanya. Namun, memaksa tegas untuk kekasih tercintanya.
"Signore apa yang terjadi?"
Andrea terlelap dan Malvin tidak ingin membangunkannya, dia berlalu tanpa menjawab pertanyaan dari pelayannya. Garilla mengerti dengan itu, dia berlari segera ke dapur dan menyiapkan apa yang seharusnya dia siapkan. Setelah semua sudah dia siapkan, wanita tua itu berlari kembali menuju kamar majikannya. Garilla mengetuk dengan pelan sebelum berlalu masuk.
"Signore, tangan anda terluka, sebaiknya obati dulu."
"Biarkan saja Garilla, Andrea mungkin membutuhkanku ketika dia sadar."
"Tetapi lukamu cukup serius Signore, darah terus mengalir. Aku akan membersihkan itu terlebih dahulu sebelum dokter datang, jika tidak itu akan membuatmu sakit. Jika kau sakit, lalu siapa yang akan menjaga Andrea."
"Lakukanlah," ucapnya dengan mata yang sama sekali tidak beralih dari wanita yang sedang menutup mata di hadapannya.
Andrea terbangun saat mendengar percikan air yang di sebabkan oleh remasan kain untuk membersihkan luka di tangan Malvin. Pelan-pelan saat matanya mulai terbuka sempurna manik abu-abunya bergetar saat menangkap wajah kekasihnya.
"Ma-Malvin? Kau di sini?"
Fokus Andrea kini beralih pada tangan penuh darah yang sedang di bersihkan oleh Garilla. Dia juga kaget kenapa Garilla bahkan ada di sini. Hal itu bahkan hampir membuat dia kembali tidak sadarkan diri "Apa yang terjadi, kenapa Garilla jika ada di sini? Dan tanganmu, kenapa bisa terluka?"
Gadis berambut panjang itu mengisyaratkan agar Garilla menjawab semua pertanyaannya. Tapi, belum sempat semua itu terjawab, Andrea teralihkan dengan keadaan sekitar. "Apa kita berada di Mansion?"
"Si, Signora."
"Bagaimana bisa, apa kau datang menjemputku di klinik itu? Tetapi bukankah kau tidak menjawab panggilannya." Andrea sedikit bingung. Namun, melihat luka Malvin membaut ia tidak fokus dengan hal itu. "Ambilkan kotak obat untukku Garilla!"
"Sudah di dekatmu Signore."
Andrea menelan ludahnya dengan cepat. Malvin tidak menjawab pertanyaannya, pria itu duduk dengan wajah penuh keringat menatapnya dengan diam. Namun, jauh dari tatapan diamnya, pria bermanik hitam itu bernapas legah, pertama kalinya dia merasa sangat bahagia saat menatap wajah kekasihnya yang kini duduk di depannya.
Dia menjatuhkan kepalanya tepat di bahu Andrea, bibirnya hanya berjarak beberapa senti dari ceruk leher kekasihnya. Malvin dapat mencium aroma obat dari wanita yang akan menjadi istrinya, sepertinya memang benar, Zigo dan Paris yang merawat dia, Malvin sudah salah paham dan menghajar habis-habisan pria predator itu hingga babak belur. Akan tetapi dia tidak peduli, Zigo dan dia sudah bermusuhan cukup lama, memukulnya seperti itu adalah kesempatan emas bagi Malvin. Aplagi, pria itu sama sekali tidak membalasnya.
"Jangan pernah meninggalkanku seperti ini lagi," gumamnya pelan sesaat sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
"Malvin!"
"No! Apa yang terjadi denganmu? Malvin sadarlah, jangan membuatku takut. Malvin!" teriak Andrea mengguncang tubuh kekasihnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi," tanya Garilla tidak kalah panik.
"Entahlah, Garilla. Aku bahkan tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Kenapa tangannya berdarah dan dia tidak sadarkan diri. Dan kenapa tiba-tiba aku sudah di sini."
"Signore membawamu kembali, dia datang dengan menggendongmu, tangannya sudah terluka saat itu. hanya itu yang aku tahu."
"Apa dia menjemputku di klinik itu?"
"Aku tidak tahu Andrea, lebih baik aku segera menghubungi Demetrio agar dia kembali."
"Cepatlah!"
Sembari menunggu Garilla menghubungi Demetrio, Andrea kembali membaringkan tubuh Malvin, tangannya tidak dia lepaskan dari jemari kekasihnya, tergenggam seerat mungkin.
"Malvin sadarlah, ada apa denganmu? Malvin." Andrea terus meneriaki kekasihnya, berharap pria itu akan segera sadar.
"Malvin ... Aku mohon buka matamu." Isakan Andrea bahkan tidak bisa membangunkan kekasihnya. Dia tertidur dengan meringat yang terus bercucuran, Andrea bahkan merasa genggamannya selalu mengerat jika tiba-tiba saja Malvin merancau.
"Garilla, sepertinya dia demam," pekik Andrea saat melihat keringat Malvin yang terus bercucuran dengan bibir yang sesekali bergerak dengan kalimat-kalimat yang tidak di mengerti Andrea.
"Sebentar." Garilla menempelkan telapak tangannya pada kening majikannya untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Bagaimana? Apa yang terjadi dengannya Garilla, cepat katakan."
"Signore memang demam, suhu tubuhnya sangat tinggi."
"Apa yang harus aku lakukan Garilla, aku tidak mau dia kenapa-kenapa."
"Andrea tenanglah! Signore hanya demam, dia baik-baik saja. Dokter segera tiba dengan Demetrio, kau tenanglah."
"Ini semua salahku." Andrea menangis, dia menyalahkan semua ini karena dirinya. Malvin terluka dan demam saat ini semua karena dirinya. Bagaimana dia bisa se bodoh ini, dia seharusnya tidak cemburu kepada orang yang sudah mati dan meninggalkan Mansion. Jika begitu, semua ini pasti tidak akan terjadi.