Endless

Endless
Chapter 153



Marisa keluar mengikuti Demetrio, pria itu kekwr menuju taman samping untuk melepaskan emosinya. Marisa berdiri tepat di belakang pria itu, menatap punggung tinggi dan kekar itu. Melihat tampang Demetrio yang begitu datar Marisa yakin jika pria bermata cokelat ini masih emosi.


"Aku tidak menyukai caramu menegur Andrea, itu terdengar sangat kasar."


Demetrio berdecak dengan senyum hambar. Kata-kata yang ingin ia hindari ternyata di ucapkan oleh Marisa. Pria itu berbalik, wajahnya terlihat jelas sangat dingin. Bahkan sudah beberapa hari bertengkar dengannya Marisa masih merasa sedikit getir.


"Lalu apa kau pikir aku senang jika sahabatku di perlakukan seperti itu? Ini adalah rumah Andrea, tidak mungkin bagi Malvin untuk melakukan hal-hal aneh, tapi ...." Demetrio menahan ucapannya. Kedua tangan yang tergantung diam-diam mengepalkan tinju. "Sudahlah, lagi pula bukan kapasitas kita untuk membahas hubungan orang lain."


"Aku hanya tidak ingin kau mengasari saudaraku, kau bisa mengatakan dengan sedikit baik bukan dengan mengasarinya."


Demetrio menatap intes wajah Marisa. Alis pria berwajah dingin itu sedikit berkerut. Ia menatap wajah Marisa lekat-lekat. Polesan makeup tipis dengan lipstik nude membuat kecantikan Marisa semakin terlihat alami, wanita ini ternyata tidak menyukai riasa tebal. Mungkin karena dia adalah seorang pelukis, tampilan alami lebih di sukainya dan itu sangat nyaman untuk di pandang. Meski sikap Marisa sangat arogan. Namun, di mata Demetrio dia adalah wanita yang sederhana.


"Sial! Apa yang aku pikirkan." Pria itu mengumpat kecil di dalam hati. Wajah polos Marisa terlihat sangat cantik meski emosi sedang bersarang di sana.


"Aku mengenal Andrea sejak kecil, meskipun dia kadang ceroboh, tapi dia tidak akan menyakiti orang yang dia cintai. Lagi pula dia sedang mengandung, hormon kehamilannya akan membuat dia lebih sensitif dengan apapun," ujar Marisa penuh penekanan. Ia bersikeras jika Demetrio sudah salah memperlakukan saudaranya.


Demetrio sedikit mengeryitkan kening. "Memangnya ada hormon seperti itu? Jangaj mengada-ngada."


Mulut Marisa sedikit terbuka. "Jadi kau tidak tahu ada hormon seperti itu?" Wanita yang suka melukis itu tertawa kecil. "Oh God! Aku lupa. Jelas saja kau tidak tahu, bahkan kau tidak memiliki kekasih."


Wajah tenang Demetrio mulai retak, terganggu dengan ucapan Marisa barusan. "Sialan!" Demetrio mengumpat pelan di dalam hati. "Jaga gaya bicaramu Nona, kau tidak mengenalku," ucap Demetrio, sorot matanya tajam mengarah pada manik Marisa penuh kekesalan.


Marisa mengedikkan bahunya. "Sayangnya aku tidak peduli, mengenalmu atau tidak, yang jelas aku tahu pasti tidak ada wanita yang mau mendekati pria dingin dan angkuh sepertimu" Ada sedikit nada sinis terselip pada ucapannya.


Demetrio tersenyum sinis. "Terserah padamu saja Nona." Ia melangkah pergi setelah mengatakan itu. Terus melayani Marisa bisa membuat ia kehilangan kewarasan. Semua kata-kata yang ia ucapkan selalu membuat Demetrio terpojok.


"Aku rasa otak dan mataku harus di cuci setelah kembali ke Verona."


"What?" Marisa mengeram, meski sedikit jauh, wanita itu masih bisa mendengar jelas ap,a yang Demetrio ucapakan. "Apa dia pikir aku ini kuman atau Virus?"


Dengan Langkah panjang marisa kemabli masuk ke dalam Mansion, menaiki tangga dan mendorong pintu kamarnya dengan kasar. Ia melangkah mendekati tempat tidir dan merebahkan tubuhnya dengan kasar di sana. "Dasar pria dingin menyebalkan. Akan ku buat kau bertekuk lutut di hadapanku, akan aku buat kau mengemis cinta kepadaku!"


Marisa menghebuskan napas kasar, emosi membuat dadanya terasa sesak. Wanita berambut hitam panjang itu memejakan mata, alam bawa sadarnya membuat ia membayangkan wakah Demetrio hingga tidak sadar menggumamkan nama pria dingin itu. "Aaah .... Apa itu. Apa yang baru daja aku pikirkan. Ini adalah pembalasan dendam, jangan memikirkan yang tidak mungkin Marisa."





NB: Jika ada beberapa typo di tiap bab yang sudah ke up. mohon di maklumi ya.. akan saya perbaiki nanti kok. Ngomong-ngomong, terimah kasi atas dukungan kalian selama 2 bulan ini. Alhamdulillah karya ku bisa masuk rangkir karya baru dan dapat naik julukan dari NT. Aku sangat menghargai kalian para pembacaku, tanpa kalian aku bukanlah apa-apa.


Selamat Natal dan tahun untuk yang merayakan. 🙏


sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Jikalau ada kata-kata yang kurang enak dalam komentarku. maaf yah. 💜💜🙏🥰