Endless

Endless
Chapter 75



Keributan dengan suara tembakan di malam hari membuat para penghuni Mansion terjaga. Garilla yang sebelumnya sudah tertidur kini membuka matanya. Wanita berkulit hitam itu memakai jubah tidurnya dan segerah berlari keluar. Dan benar saja, ketika sudah di luar, seluruh penghuni Mansion ternyata sudah berkumpul dengan wajah penuh pertanyaan, apalagi saat melihat beberapa pria berbadan kekar membawa senjata lengkap.


"Agrio! Ada apa ini? Bunyi tembakan apa itu?" Garilla bertanya kepada salah satu anak buah yang selalu ikut bersama Demetrio.


"Salah satu pelayan yang di ketahui menolong Nona Arsula sudah di tangkap."


"Apa pelayan yang kau maksud adalah Sella?"


"Sì. Dia sudah mati, Signore menembaknya."


Wajah kaget Garilla tidak bisa di sembunyikan. "Signore sudah kembali?"


"Si," jawab Agrio.


"Lalu di mana dia?"


"Masih di ruang bawah tanah."


Garilla menegok saat melihat Malvin keluar dari dalam ruangan itu dengan wajah datar yang begiru dingin. Jelas terlihat jika majikannya sedang di selimuti amarah. Namun, rasa penasaran membuat Garilla mengabaikan itu, dia memberanikan diri berlari mendekat saat sosok yang dia tunggu-tunggu sudah sedikit menjauh darinya.


"Signore!" teriak Garilla saat pria bermata hitam itu akan menaiki tangga.


Langkag kaki Malvin terhenti dan Garilla pun segera mendekat. "Apa Andrea baik-baik saja? Aku dengar dia di sandera."


Malvin mengambil napas dalam sebelum menjawab. "Dia baik-baik saja," ucapnya tanpa menatap Garilla. Malvin berlalu setelah mengatakan itu. Tidak boleh ada waktu sedikit pun yang di sia-siakan. Malam ini juga dia harus segera bergerak untuk mencari dua mangsa yang terus saja memancing naluri liarnya.


"Tidak."


Garilla terdiam sejenak, merasakan dadanya yang sesak. Dia kembali memgingat saat Andrea menceritakan mimpinya dua hari yang lalu. Setelah itu keduanya tidak lagi saling menghubungi sampai dia mendapat kabar bahwa Andrea di jadikan sandera oleh Marco.


"Bawa dia kembali Signore, dia akan aman di sini."


"Jangan khawatir Garilla, dia baik-baik saja di Puelba. Aku kan memastikan dia aman dari siapapun meski taruhannya adalah nyawaku." Malvin menoleh ke arah pelayan tua itu. "Kau akan melihatnya lagi setelah keadaan sudah kembali normal."


Garilla tidak terdiam, tidak bisa terus bersabar. Jika semua yang Andrea alami dalam mimpi itu menjadi kenyataan, maka dia akan sangat menyesal tidak mencoba untuk menolongnya. Dan ketika pria bermata kelam itu mulai mengisi kembali senjatanya, dengan guratan cemas Garilla mendekat. "Signore"


Sama seperti sebelumnya, pria itu tetap sibuk dengan senjatanya tidak peduli dengan Garilla yang sedang menunggu.


"Signore!"


Pria itu menoleh. "Istrihatlah Garilla, tugasmu akan sangat berat setelah kami pergi. Jadi tidurlah lebih awal."


Wanita tua itu tetap pada posisinya, berdiri di belakang Malvin dan menatapnya tanpa melepaskan pandangan. "Maaf, jika aku tidak sopan. Tapi, ada yang ingin aku sampaikan, ini tentang Andrea."


"Kita akan membahas tentang itu setelah aku kembali nanti Garilla, aku harus segera mencari keberadaan Arsula dan Marco sekarang."


Garilla menatap khawatir punggung Malvin yang semakin menjauh, hingga suara bising mobil yang beruntun membuat dia berlari keluar dengan tatapan sendu. Wanita tua itu memegang kedua tangannya yang di gabungkan di depan dada, memejamkan mata sejenak. Wanita berkulit hitam itu memanjatkan doa, meminta agar majikan dan semua yang ikut serta dengannya mendapatkan perlindungan dan kembali dengan selamat.