
"Oh God!" Malvin memekik keras saat keluar dan mendapati Zigo yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Zigo melirik pada rambut saudarnya yang basah. "Apa kalian baru saja selesai bercinta?"
Malvin melebarkan matanya. "Dasar gila, untuk apa kau menguping di depan kamar orang."
Tentu saja Zigo tahu, mereka sudah bersama lebih dari 20 tahun, Malvin selalu membersihkan diri setelah selesai bercinta. Itu adalah kebiasaan yang tidak pernah dia hilangkan. "Sedang apa kau di sini? Bukankah aku baru saja menendangmu keluar?" ujarnya kesal karena Zigo terus saja mengekor di belakangnya.
"Aku harus meminta maaf kepada Andrea, Paris akan meninggalkanku jika kekasihmu itu tidak memafkanku," pekik Zigo dengan tatapan kekhawatiran.
"Pergilah! dia sedang tidur."
"Tidur?" Zigo tercengang. "Memangnya berapa kali kalian melakukannya?"
"Hentikan pertanyaan bodohmu itu. Dan pergilah! Kau selalu saja membuat masalah jika berada di sini." Malvin mengingatkan dengan tatapan datar. Sudah jelas jika Andrea tidak menyukainya. Malvin dan Demetrio bahkan menyeretnya keluar dengan beberapa pukulan. Namun, masih saja dia kembali.
Zigo mengabaikan ucapan Malvin, dia menoleh pada seorang wanita tua dengan seragam pelayan yang mendekat. "Garilla bisa kau buatkan Gnocchi untukku, aku sangat lapar." ujarnya memelas.
"Si signore."
"Gunakan daging sapi terbaik di Mansion ini. Oke."
"Sì."
Malvin menyipitkan mata, menatap tidak suka ke arah pria yang sudah duduk dengan manis di ruang makannya. "Seenaknya saja kau memberi perintah kepada pelayanku."
Zigo sedikit menoleh lalu berkata. "Paris tidak memberiku makan Malvin, dan aku tidak terlalu suka menyantap makanan di restoran untuk itu aku memintanya di sini. Koki andalanmu ini, apa bisa aku pinjam beberapa hari?"
"Dasar gila! Kau pikir pelayanku ini barang yang bisa kau pinjam sesuka hatimu. Kau memiliki Mansion yang megah tapi terlihat seperti kuburan."
Zigo tertawa hambar. "Kau benar. Apa aku harus menjual Mansionku dan tinggal di sini bersamamu. Itu akan lebih baik bukan. Aku bisa makan dan tidur dengan baik bahkan sama sekali tidak perlu khawatir dengan keselamatanku."
"Tidak ku ijinkan," jawab Malvin dengan cepat. Dia tidak ingin kehadiran Zigo membuat Andrea merasa tertekan, tentu saja akan berpengaruh pada perkembangan janinnya.
Alih-alih menjawab, Malvin malah meneriaki pelayannya. "Garilla! percepat gerakannmu, beri dia makan agar segera menghilang. Kepala ku akan bertambah sakit jika dia terus berada di sini."
Zigo menghela napas berat. "Hei, Brother Ayolah, biarkan aku tinggal di sini."
"Tidak!"
"Malvin!" Zigo beringsut mengikuti langkah Malvin yang berlalu darinya.
"Pelankan suaramu Zigo, kekasihku sedang istirahat," ujar Malvin memperingati. Suara teriakan Zigo menggema dan itu bisa saja membangunkan Andrea.
"Di siang yang panas seperti ini harusnya dia bangun dan menikmati suasana pantai, untuk apa kau mengurungnya."
"Bukan urusanmu." Malvin menatap kesal pada Zigo yang terus mengikutinya. Dia memberi isyarat lewat tatapannya agar saudaranya itu bisa diam di tempat. Dia tidak ingin di ikuti sampai ke dalam kamarnya. Karena jika itu terjadi maka Andrea pasti akan ikut mengutuknya. Dan nasibnya akan sama seperti yang sedang di alami Zigo.
"Dasar predator, bahkan orang hamil pun dia sikat ...Arrghhh. Sial!" Zigo mengumpat saat kakinya tidak sengaja menabrak anak tangga.
"Tutup mulutmu atau Gnocchi mu akan berganti tempat dengan peluruhku."
"Saudara yang kejam, bukannya menolong malah menakuti."
•
•
Brother Tim
Malvin Alexander dan Zigo Elio.