
"Sedang apa kau di sini?"
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak usa pura-pura mencemaskan aku." Nada suara Andrea terdengar sangat sinis.
"Sayang ...." Malvin menjedah ucapannya karena tatapan Andrea begitu tajam ke arahnya.
"Pergilah! Habiskan waktumu bersama wanita-wanita pemuas mu itu."
Bibir Malvin mengulas senyum. "Aku tidak tidur dengan siapa pun Sayang, aku juga tidak ke mana-mana. Demetrio dan aku bermain kartu hingga pagi di kamar tamu, kau bisa bertanya padanya."
Andrea tersenyum miring. "Dasar pembohong!"
"Demi tuhan Andrea! Aku bersumpah demi kau dan anakku yang sedang kau kandung. Aku hanya akan membawa satu wanita di atas rajanjangku, dan itu hanya kau."
Andrea tertawa hambar. "Jadi kau pikir aku percaya karena sumpahmu ada namaku juga anakku? Kau bahkan tidur dengan Arsula di atas ranjang dimana kau juga tidur denganku."
"Andrea ...." Malvin menjeda ucapannya, mata hitamnya membulat menatap manik abu-abu milik Andrea "Arsula sudah tidak ada, jangan membandingkan diri dengan orang yang sudah tiada. lagi pula, kau tahu dari mana aku pernah membawa Arsula untuk tidur di atas ranjangku?"
Andrea menegakkan bahunya, mata abu-abunya bergerak ke kiri dan kanan. Ia sedikit menyesal karena kembali mengungkit Arsula. "Pergilah, aku baik-baik saja. Hanya sedikit mual karena sakit di kepalaku yang di sebabkan oleh pria yang menyebalkan."
"Kau tidak tidur semalaman?"
"Apa urusanmu!"
"Aku kekasihmu Andrea sebentar lagi kita akan menikah dan kau masih menganggapku orang lain."
Andrea tidak peduli dengan ucapan Malvin, ia mengambil teh herbal yang di buatkan Dayla untuk meredahkan mualnya tadi. Namun, saat teh itu ingin di teguk Andrea, tiba-tiba saja gelasnya jatuh dan tumpah karena Malvin yang tiba-tiba saja terhuyung di hadapannya.
"A--aku merasa ing .... Uhhmm."
"Malvin!" Andrea berlari kecil mengejar Malvin yang tiba-tiba seperti orang kesakitan. "Malvin! Kau kenapa, apa kau baik-baik saja? Malvin!"
Andrea menggedor-gedor pintu kamar mandi agar meminta agar Malvin menjawabnya. Pria itu tiba-tiba merasa mual, ia memuntahkan semua sarapannya pagi ini. "Malvin .... Kau baik-baik saja? Jawab aku!" Andrea terisak di depan pintu kamar mandi.
Saat pria dengan setelan jas hitam itu keluar, air matanya tidak bisa ia bendung lagi. Ia menabrakkan dirinya pada tubuh kekar di depannya dan menangis di sana. "Ada apa denganmu? Jangan membuatku takut."
Andrea menatap wajah Malvin dengan lekat, ia menyeka keringat pada dahi pria bermata hitam itu. Jantungnya seakan tertika, ia mengingat kembali saat terakhir Malvin tidak sadarkan diri karena ulahnya, dan itu masih tentang Arsula. Bagaimana jika karena kembali mengungkit Arsula, kondisi Malvin menjadi buruk. Ia takut jika Malvin akan mengingat saat-saat menyakitkan bersama Arsula yang sudah dia lupakan. Andrea takut jika trauma masa lalu Malvin kembali di saat kebahagiaan mereka baru di mulai.
Malvin terkekeh pelan melihat reaksi Andrea. Sepertinya dia sudah tidak marah lagi. "Aku baik-baik saja, mungkin sama sepertimu. Hanya masuk angin biasa."
"Kau yakin?"
Malvin mengangguk pelan, ia menangkup wajah Andrea menatapnya dengan tersenyum. "Apa kau masih marah padaku?"
"Lupakan itu."
"Cih .... Katanya ada yang tidak ingin melihatku."
"Siapa?" tanya Andrea malu-malu.
Malvin menaikan satu alisnya. "Dia seorang wanita yang angkuh, selalu salah paham dengan dengan hal. Untung saja aku menyukainya, jika tidak sudah ku patahkan hidungnya."
Andrea mendorong tubuh Malvin pelan. "Dasar gila! Bagaimana aku bisa bernapas jika hidungku kau patahkan."
"Sayang, aku hany---" Ucapan Malvin terhenti karena tiba-tiba dia merasa pusing dan kepalanya terasa berputar. "Sepertinya aku harus ke kamar mandi lagi."