
Seteleh memastikan jika Andrea tidak lagi mempermasalahkan tentang Zigo, Paris bergegas memeriksa beberapa pasiennya sebelum kembali membersihkan ruangannya untuk segera pulang. Waktu juga sudah menunjuhkan pukul 3 sore, itu artinya jam kerjanya sudah selesai.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Paris meminta maaf atas nama kekasihnya, dia enggan melakukannya karena itu akan membuat Zigo semakin besar kepala. Hanya saja, dia turut merasa bersalah karena keadaan Andrea yang sedang hamil, dia hanya ingin memberi ketenangan agar fokus Andrea tidak lagi untuk masalah itu.
Saat sedang membereskan beberapa barang yang harus dia bawa pulang tiba-tiba saja asisten pribadinya masuk dengan seseorang yang sama sekali tidak ingin dia lihat.
"Kayla ada ap--" Ucapannya terhenti saat wajah sang predator muncul di balik punggung Kayla.
"Maaf Dokter, kekasihmu memaksa untuk masuk," ujar Kayla dengan wajah memelas.
"Baiklah, biarkan saja."
Kayla kembali ke tempatnya setelah mendapat persetujuan Paris. Dan Zigo, dia berdiri menatap dengan wajah tanpa dosa ke arah kekasihnya. "Kenapa kau mengabaikan semua panggilan dan juga pesanku?"
"Kau tidak lihat! Aku sedang sibuk. Dan lagi, ini rumah sakit bukan bar. Jangan membuat keributan."
"Jika aku tidak membuat keributan, aku tidak akan bisa punya kesempatan untuk menjelaskannya."
Mata tajam Paris membuat Zigo langsung melanjutkan ucapnnya. "Aku bersumpah, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa pada Andrea."
Paris tertawa pelan. "Jika tidak, lalu dari mana luka di sudut bibirmu itu kau dapatkan. Apa salah satu wanitamu menggigitnya?" Paris mendongak, menatap wajah kekasihnya yang mulai gugup. Tanpa berkata apa-apa dia keluar dari ruangan meninggalkan Zigo
"Paris aku--" Ucapannya tertahan karena Paris yang sudah menghilang di balik pintu. "Sial!" Zigo mengumpat pelan, dia baru menyadari jika membujuk wanita yang sedang marah lebih susah di banding merayu mereka.
"Paris, tunggu!" Zigo menyamakan langkahnya dengan sang kekasih, keduanya melangkah beriringan dengan Zigo yang terus menarik selama menuju tempat parkir.
"Paris aku mohon! Dengarkan aku sebentar. Ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"Dengar Tuan Elio. Aku berubah menjadi wanita yang tidak suka memusingkan apa yang di lakukan kekasihku karena pernah merasakan kegagalan karena sikap posesifku, dan kau tahu akan hal itu. Aku bahkan membebaskanmu berhubungan dengan siapapun di luar sana meskipun kau selalu menahanku untuk tidak berhubungan dengan pria lain. Dan sekarang, kau terang-terangan sedang berusaha menggoda kekasih saudaramu yang sedang hamil? Apakah seorang pria berkelas harus seperti itu?"
Paris menarik gagang pintu mobilnya. Namun karena masih merasa begitu kesal, dia kembali membalikan tubuh menghadap pada kekasihnya. "Bisa-bisanya kau merayu dan melakukan trik kotor seperti itu kepada Andrea, apa kau ingin melakukannya agar sama seperti yang kau lakukan dengan Arsula? Dendam apa yang kau simpan untuk saudaramu itu hingga membuatmu seperti ini padanya."
"Paris hentikan! Aku mohon hentikan." Zigo memohon karena melihat manik kekasihnya yang hampir berair. Dia mengutuk dirinya sendiri karena membuat kekasihnya menjadi bersedih.
"Aku menahannya selama ini karena ku pikir pekerjaanku jauh lebih penting tapi kau ...." Paris menahan sejenak kalimatnya, dadanya begitu sesak karena terus mengeluarkan emosi. "Kau sungguh menjijikan," ujarnya tanpa ragu-ragu.
Zigo menatap Paris dengan tatapan lurus, ia tidak bisa menjawab, tenggorokannya seperti tercegat mendengar kalimat itu.
"Paris ...." Zigo berusaha meraih perglangan tangan kekasihnya. Sayangnya Paris sudah lebih menutup pintu mobil. "Sayang, aku mohon dengarkan penjelasanku." Zigo berkata dengan sangat lembut, anggaplah dia sedang memohon saat ini.
"Hanya ada dua pilihan saat ini dariku." Paris mengatur napasnya yang sudah bercampur dengan emosi. "Tetap menjadi predator dengan hoby anehmu itu atau menikahiku, itu saja. Dan kau bebas memilih salah satu dari keduanya."
"Oh tidak Paris jangan memberikan pilihan seperti itu, aku belum sanggup memilih di atara pilihan itu apalagi harus merelakanmu aku benar-benar belum bisa."
"Lalu apa kau pikir hubungan kita ini hanya lelucon? Jadi kau tidak serius denganku, begitukah."
"No Sayang, bukan begitu. Tetapi--"
"Sudahlah!" potong Paris dengan cepat. "Aku sangat lelah, dan butuh istirahat. Pikirkan pilihan mana yang akan kau pilih setelah itu temui aku."
Saat ini, yang Paris butuhkan adalah kejelasan hubungannya dengan Zigo. Jika dia salah memilih maka hubungan merrka akan benar-benar selesai. Dia tidak ingin menjadi masa bodoh lagi seperti biasa. "Kita sudah cukup bermain-main."