Endless

Endless
Endless Six



Lou berada di kantin sekolah saat ini, duduk dengan tenang tanpa menghiraukan makanan di hadapannya. Tiga hari Lou berada di apartemen Alaska dan lelaki itu tidak menemuinya sama sekali, lelaki itu tidak ada di sekolah sama sekali. Rencananya Lou akan kembali ke rumahnya hari ini, karena rasanya ia sudah cukup untuk menenangkan diri.


"Shut the **** up, Re!"


Lou mengangkat pandangannya, menemukan Anin yang baru duduk dihadapannya.


"Kesel sama Reza, kenapa dia selalu ganggu aku sih"


Lou menatap kearah lelaki yang kini terang-terangan memandang Anin, pandangan Lou beralih pada Anin "Nggak nyangka lo bisa kasar juga" katanya.


Anin mencibir pelan "Dia ganggu banget, dari kemaren nggak berhenti" katanya.


"Suka sama lo kali" Ya, mereka tidak akrab sebelumnya, tapi tiga hari ini mereka terus bersama.


Lou tidak pernah punya teman perempuan dan ini kali pertama ia memiliki teman.


"Lo tahu Alaska dimana?"


Anin mengangkat sebelah Alisnya "Bukannya kamu sama Alaska dekat banget? Masa kamu nggak tahu dia dimana?. "


Mereka memang dekat, terlalu dekat sebagai teman. Tapi mereka tidak punya pengetahuan tentang masing-masing, mereka hanya berteman. Jalan, Makan dan belajar bersama, mereka tidak mengenal keluarga masing-masing.


"Kita sekedar kenal, nggak pernah terlalu mengusik privasi masing-masing" ucap Lou.


"Aku juga nggak tahu, Dia bakal balik sekolah. Kamu nggak usah khawatir, Alaska bisa jaga diri dengan baik" ucap Anin menenangkan.


...


Lou baru saja pulang, membawa barang-barang yang ia bawa ke apartemen Alaska. Wajah datar Papah menyambut kepulangan Lou, hal itu cukup mengejutkan. Biasanya pria itu akan berada di kantor saat jam seperti ini.


Lou melangkah tanpa menghiraukan kehadiran pria itu, menaiki undukan tangga menuju kamarnya. Lou melempar tasnya keatas kasur sebelum ikut menjatuhkan dirinya disana. Tangannya mencari ponsel didalam tas, Lou membuka ponsel miliknya yang sama sekali tak ada notifikasi satupun. Entah kemana lelaki itu menghilang hingga tak mengabarinya sama sekali.


Lou menegakkan tubuhnya saat pintu kamarnya diketuk, ia menghela nafas kasar lalu berdiri. Membuka pintu kamarnya, Lou menemukan Papah disana, berdiri dengan wajah datar seperti biasanya.


"Kabur dari rumah selama tiga hari, apa itu sikap yang bagus seorang perempuan?" Papah dengan nada dinginnya menayapa langsung pada indra pendengaran Lou.


"Kemana saja kamu Louqina Marcella?"


Lou memilin jemarinya satu sama lain "Bukannya itu nggak termasuk urusan Papah?" tanyanya tanpa mendongak sedikitpun.


"Bukannya kamu tinggal di rumah saya, haruskah saya menjelaskan aturan dirumah ini?."


"Sejak kapan Papah peduli?" Lou mengangkat wajahnya dengan culas "Ah, atau karena warisan itu?" tanyanya.


"Jala*g!"


Lou jelas mendengar hal yang baru saja Papahnya ucapkan, uh rasanya sakit. Bagaimana bisa seorang Ayah berkata demikian pada putrinya.


"Kamu memang sama seperti ibumu, jala*g gila" hinanya.


Kedua tangan Lou jelas menggepal dengan kuat, matanya berkaca-kaca seolah siap menumpahkan cairan bening yang kini berada di pelupuk matanya "Bukannya kalian sama aja, satu Jala*g dan satu bajingan" katanya.


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Lou "Kurang ajar!, begini cara wanita itu mendidikmu hah!" bentaknya.


"Ah saya lupa, bukannya kamu memang tidak pernah mendapatkan itu. Tapi saya rasa, anak cacat seperti kamu memang tidak layak mendapat hal itu" katanya sebelum berlalu meninggalkan Lou yang mematung di tempatnya.


Cacat


Lou rasanya muak sekali mendengar satu kata itu. Tidak bisakah mereka tidak mengungkit kata-kata jahat seperti itu.


"Lou, lo emang paling terbaik. Cacat, nggak tahu malu lagi"


Lou menolehkan wajahnya, menatap lelaki yang satu tahun lebih muda darinya. Namanya Gravin Marcellio, saudara satu Ayah. Yang Papah bawa masuk ke rumah satu tahun lalu.


"Bukannya lo yang nggak tahu malu? lo dengan bangga datang kerumah ini. Padahal kalian bakal gue usir setelah umur gue delapan belas tahun, dan faktanya satu tahun itu nggak akan lama lagi" Lou menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai mengerikan "Anak dari selingkuhan Papah gue harusnya nggak disini kan? harusnya gue tunjukin sama lo tempat yang sebenarnya" Lou melangkah mendekati Gravin hingga lelaki itu mentok di ujung tangga.


Lou meletakkan telunjuknya pada dagu Gravin, menyusuri hingga ke dada lelaki itu. Tidak ada CCTV disini, dan tentunya tidak akan ada yang berani berbuat berlebihan terhadapnya. Lou baru saja akan mengayunkan telunjuknya untuk mendorong Gravin saat seorang lelaki berada di tangga pertama.


"Lo gila!" Gravin menyentak telunjuk Lou dari dadanya.


"Sakit" Lou mengusap lengannya, hingga seseorang meraih tangannya.


"Lo apain dia?!" Alaska menatap tajam Gravin. Tatapannya kembali mengarah pada Lou, ada bekas merah di wajah gadis itu "Lo tampar dia?" Alaska melotot menyeramkan.


"Bukan gue" Gravin segera pergi dari sana.


Alaska menetralkan nafasnya, menatap Lou yang kini menunduk. Diraihnya dagu Lou hingga menatap dirinya, Alaska bisa mengamati ada bekas jemari yang tercetak di wajah gadis itu.


"Sakit?" Alaska mengelus pipi Lou yang memerah.


Lou menggeleng "Nggak kok" katanya.


"Cel" Alaska menangkup wajah Lou, menatap serius pada gadis itu "Lo nggak boleh luka, sedikitpun tanpa izin gue. "


...


Kemarin Alaska kerumahnya, Lou tidak tahu bagaimana cara lelaki itu masuk kerumahnya begitu saja. Papah bukanlah tipe orang yang dengan mudahnya mengizinkan orang luar memasuki rumahnya. Dan kemarin, Alaska dengan mudahnya masuk kesana tanpa takut sama sekali.


Lou sempat bertanya pada dirinya semalam penuh, bagaimana Alaska bisa bersikap demikian pada Gravin saat lelaki itu bahkan hanya menjadi tamu. Tidak masuk akal.


"Mikir apa?" Suara Alaska terdengar.


Ah, Lou lupa bahwa mereka sedang berangkat ke sekolah. Tentunya Alaska yang menjemputnya, seperti yang selalu lelaki itu lakukan selama sepuluh tahun terakhir.


"Kenapa lo bisa masuk rumah gue semalam?" tanyanya tak ingin lagi memendam pertanyaan dihatinya.


Alaska menoleh sejenak lalu kembali fokus pada setir "Kenapa nggak? Gue bisa masuk kerumah lo kapanpun gue mau" katanya.


Lou memutar tubuhnya hingga benar-benar menatap Alaska, meraih sebelah tangan lelaki itu hingga Alaska menyetir dengan satu tangan "Papah biasanya nggak ngebiarin orang luar masuk sembarangan" katanya sambil memainkan jemari Alaska.


Alaska menarik kedua sudut bibirnya, menoleh kearah Lou dalam sekejap "Bukannya gue bakal jadi orang rumah lo nantinya?."


...