
Sudah semakin larut, jam menunjukan pukul 02:27 waktu Veroan italia. Malvin dan Zigo semakin tidak terkendali. Kedua pria itu terus meneguk alkohol yang di berikan Selena. Seperti candu, kedua saudara itu tidak bisa berhenti menggerakan tangan untuk menarik gelas menuangkannya kedalam mulut.
Zigo mulai merancau yang bukan-bukan, dan Malvin yang semakin tidak sadarkan diri, pria itu sepertinya bukan mabuk. Namun, sekan terbius. Reaksinya terlihat berbeda dengan Zigo. Entah apa yang Selena masukan kedalam minuman mereka. Akan tetapi, meski Malvin dan Zigo sudah memberi reaksi, tetapi Selena masih terus berjaga karena Demetrio ternyata tidak meminum minumannya. Dia mengambil gelas yang lain dan keluar saat menerima panggilan dan belum juga kembali hingga sekarang.
"Ke mana pria menyebalkan itu," sungut Selana. Kesempatan sudah di depan mata. Namun, tidak bisa ia raih karena salah satu targetnya belum di lumpuhkan. Saat wanita itu sibuk mengumpat sosok yang ia nantikan muncul dengan tatapan yang sangat terkejut.
"Astaga! Selena, apa yang kau kau lakukan kepada mereka," teriak Demetrio sambil mengguncang tubuh kedua sahabatnya agar sadar. "Malvin sadarlah!"
Dia tidak terlalu peduli dengan Zigo, pria berkulit cokelat itu terlihat masih sedikit sadar. Namun, Malvin, dia sama sekali tidak membuka matanya bahkan ketika Demetrio menyiramkan air padanya dia sama sekali tidak sadar. "Apa yang kalian minum." Demetrio mengambil gelas dan menciumnya sejenak. "Apa ini?" Wajahnya terlihat buruk setelah mencium bau yang tertinggal di gelas.
Selena mengangkat kedua bahunya. "Tanyakan kepada bartendermu, apa yang dia sajikan kepada mereka."
"What? Jadi kau tidak tahu apa yang mereka minum?"
Selena menggeleng, pura-pura tidak tahu. "Tidak, aku pikir itu sama dengan minumanku."
Seperti sekarang ini, dia baru saja meninggalkan mereka untuk menerima panggilan dari Marisa. Namun, ketika kembali, keadaan mereka sudah terbalik 180 derajat. Mereka sudah seperti tidak bernyawa. Demetrio serba menjadi serba salah, di satu sisi mereka harus menyelesaikan rencana untuk menahan Daniel. Namun, di sisi lain, dia tidak suka jika Malvin mengabaikan Andrea seperti ini.
Demetrio menatap curiga kepada Selena. "Apa yang kau berikan padanya? Kenapa Zigo tampak mabuk tetapi Malvin seperti terbius. Dia benar-benar tidak sadarkan diri."
"Kau menuduhku? Apa kau tidak waras. Untuk apa aku melakukan hal seperti itu, bahkan kau dan aku masih terlihat baik-baik saja," pekik Selena dengan wajah tertindas.
Demetrio berfikir sejenak, Selena benar. Jika dia ingin menggunakan kesempatan harusnya dia membuat dirinya tidak sadar agar bisa luasa bersama Malvin. Namun, ia masih sadar bahkan setelah meneguk beberapa kali minuman sebelum akhirnya dia pergi menerima panggilan Marisa.
"Jika kau berada di balik semua ini kau akan aku habisi." Demetrio melangkah pergi untuk menyiapkan mobil.
Selena mendekat dan duduk di samping Malvin. Wanita itu tersenyum licik menatap dengan tatapan kemenangan saat melihat punggung Demetrio menjauh. Dia sudah menyuru orang untuk mengempeskan ban mobil Zigo dan Malvin, dan tentu saja hanya mobilnya yang bisa mereka gunakan. Namun, ia masih sedikit kesal karena tidak tahu, bagaimana cara agar membuat Demetrio menjadi tidak sadarkan diri.
Selena mengalihkan kesalnya, dengan menatap Malvin. Pria itu telihat sangat tampan meski sedang terlelap. "Malvin .... Malvin." Suara panggilan Selena terdengar sayup dan penuh penekanan sensual. Ia menggesekkan tubuhnya pelan pada lengan kekar milik Malvin membuat pria itu terangsang dengannya.