Endless

Endless
Chapter 125



Zigo mendengus kemudian menarik nafasnya berat. Entah sudah berapa kali dia melakukan panggilan kepada Paris. Namun, panggilannya selalu saja di tolak, bahkan semua pesan chatnya tidak di balas oleh dokter muda itu.


"Apa dia benar-benar akan mengakhirinya?" Zigo memijat pelipisnya. "Siapa yang menyangka akan menjadi seperti ini. Aaargh sial!"


Zigo benar-benar seperti orang bodoh kali ini. Dia mencoba dengan mengirimkan pesan suara, mungkin saja Paris mau mendengarnya dan mau menerima panggilan teleponnya. Akan tetapi kekecewaan sekali lagi mengampiri. Wanita itu mengabaikan pesan suaranya juga, entah sudah berapa pesan suara yang dia kirim. Namun, tidak ada satupun yang di baca oleh Paris.


"Oh God!" Zigo semakin gusar, dia mengumpati dirinya sendiri. Hampir saja ponsel mahal itu dia lempar ke dinding karena sama sekali tidak berfungsi dengan semestinya.


•Sementara itu di Mansion keluarga Alexander.•


Malvin tengah menenangkan Andrea, wanita itu masih sedikit gemetar karena Zigo yang tiba-tiba saja muncul di kamarnnya tadi. Di pkirannya saat ini adalah Pria itu pasti sudah melihat bagaimana lekuk tubuhnya, baju yang ia kenalan benar-benar minim, bahkan warna pakian dalamnya telihat jelas. Itu karena dia yang akan bersiap mandi, maka darinya dia melepas jubah piyamanya.


"Sayang, sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Yang terpenting adalah Zigo tidak melakhlukan apapun padamu."


Andrea mendengus. "Saudaramu itu melihat penampilanku yang seperti ini, lihat belahan dadaku bahkan terlihat jelas. Dia pasti sudah melihat warna dari pakian dalamku."


Malvin terkekeh melihat Andrea yang mengatakan tentang warna pakaian dalamnya. "Dia tidak akan mengingatnya Sayang, penampilan seperti ini adalah pemandangan biasa untuk seorang Zigo."


Andrea memamnyunkan bibirnya. "Aku tidak terima jika kau hanya melukai sudut bibirnya." Ia mengalungkan tangan pada leher kekasihnya dan mulai bermanja.


Malvin melebarkan mata, kaget dengan reaksi Andrea yang sama dekali tidak dia duga. Wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya itu terlihat semakin manja, bahkan dia tidak menduga jika Andrea bisa menjadi sangat romantis dengan lebih dulu mendekatinya. Perempuan itu kini berada di atas pangkuannya.


Sesaat sebelum keduanya akan bercumbu, suara getaran ponsel membuyarkan kenikmatan. Malvin mencoba mengabaikannya. Namun, getaran itu terus terdengar, berulang hingga membuat pria dengan manik hitam itu mengeram kesal. Andrea yang meringkuk di dalam pelukan kekasihnya itu hanya terkekeh pelan.


Dengan gerakan malas Malvin meraih ponselnya yang ia letakan di atas nakas dan langsung menerima panggilannya.Tatapannya berubah saat mendengar suara seorang wanita di sana. Malvin menjauhkan ponselnya melihat nama yang muncul pada layar untuk memastikan siapa yang menghubunginya. Kening pria bertato elang itu sedikit bergelombang, dia menatap kekasihnya lalu memberikan ponselnya.


Kini alis Andrea yang berkerut, ia menatap kekasihnya dengan tatapan bingung. "Denganku?"


Malvin mengedikkan bahunya seraya memberikan ponselnya kepada Andrea. Wanita berambut cokelat itu menerimanya dan langsung menempelkan benda pipi itu di kupingnya.


"Hallo?"


"Hallo Andrea. Apa kau masih mengingatku? Aku Paris dokter yang menanganimu di malam saat kau di rampok."


Ya, tentu saja aku mengingatmu Dokter Paris." Andrea sedikit melirik pada kekasihnya yang melangkah menuju kamar mandi, Malvin memberi isyarat bahwa dia akan membersihkan diri. "Ada apa, Malvin mengatakan kau ingin bicara denganku."


"Sì. Aku ingin berbicara soal Zigo." Nada bicara Paris sedikit turun. "Maukah kau memafkannya, dia memang sedikit berlebihan. Aku mewakilinya meminta maaf kepdamu. Aku janji akan memastikan dia datang dan meminta maaf juga padamu."


Andrea merasa bimbang, entah dia harus memaafkan Zigo ataukah dia harus memperingati Paris agar tidak selalu membela kekasih gilanya itu. Di dalam benaknya Andrea tidak membenarkan apa yang di lakukan Zigo padanya, ia sangat terganggu dengan kehadiran pria itu. Namun, mendengar bagaimana Paris memohon padanya membuat dirinya di dera perasaan bersalah jika dia tidak memberi maaf. Biar bagaimana pun, sepasang kekasih itu sudah menolongnya, meski tidak saling mengenal.


Paris!" Andrea menjedah sedikit kalimatnya. "Apa kau tidak merasa risih dengan tingkah Zigo yang seperti itu? Jika itu adalah Malvin maka aku pasti akan membunuhnya."


Paris tertawa pelan. "Aku pernah begitu posesif kepada orang yang aku cintai tetapi itu berakhir dengan perpisahan. Maka dari itu aku berhenti menjadi seorang yang pencemburu."


Andrea mengatur napasnnya dengan perasaan yang kini bercampur aduk. "Baiklah. Aku memaafkannya. Tetapi dia juga harus datang dan meminta maaf kepadaku secara langsung."


Paris tersenyum legah di sana. Kini dia harus meyakinkan predatornya untuk mendatangi Andrea dan meminta maaf atas kelakuannya. "Grazie Andrea, ku harap kita bisa bertemu dan mengobrol seperti seorang teman."