Endless

Endless
Chapter 63



Verona, Italia.


"F u c k!" Malvin membuka matanya mengumpat seorang perempuan yang terus mengganggunya. Mata kelamnya menyipit seakan ingin menghabisinya.


"Hei, tampan. Apa kau butuh teman kencan?"


"Menjauh dariku!" Tangan kekarnya mendorong dengan kasar jemari lentik yang hendak menyentuhnya.


Perempuan itu tidak peduli, dia menduduki kursi yang ada disamping Malvin, mengembangkan senyum terbaiknya untuk pria yang sedang di bawa pengaruh alkohol itu. "Ku lihat kau butuh teman, dan aku bersedia menemanimu malam ini."


Malvin menengadah, menatap wanita di hadapannya dengan tajam. "Menyingkirlah, aku tidak butuh teman atau apapun."


Sedetik setelahnya, Demetrio muncul, dia memberi isyarat agar wanita itu menjauh majikannya. Wanita itu pun tersenyum kecut lalu meninggalkan dua pria tampan itu.


"Signore, sudah berhari-hari kau berada di sini. Sebaiknya kita kembali."


"Untuk apa kau menghitungnya, tempat ini milikku, aku bebas berada di sini selama yang aku mau."


Demetrio membuang napas kasar, beginilah Malvin. Satu bulan semenjak Andrea meninggalkan Verona dan kembali ke Puelba, yang dia lakukan hanya mabuk dan menghabiskan waktu berhari-hari di kelab dan jarang kembali ke Mansion.


Demetrio bahkan harus melakukan tugas ekstra, selain mengontrol Manison dia harus mendatangi Arsula merayunya dengan segala cara agar mengatakan di mana keneradaan Marco. Namun, wanita itu tetap tidak memberi informasi apa-apa.


Lelah, tentu saja. Demetrio bahkan harus bolak balik Mansion kelab untuk memberitahukan setiap apa yang terjadi di Mansion dalam satu bulan ini. Dia selalu mengatakan hal-hal buruk agar Malvin tertekan dan kembali ke Mansion. Namun, kenyataan tidak sesederhana yang Demetrio pikirkan. Malvin selalu menolak untuk kembali. Entahlah, mungkin saja karena bayangan Andrea yang selalu muncul di mana-mana membuat dia semakin frustasi dan enggan kembali ke Mansion. Dan jika ini terus berlangsung, maka kehancuran Dio della morte akan di depan mata.


"Signore, aku mohon kembalilah. Aku tidak mampu membuat Arsula mengakuinya."


"Lakukan dengan kekerasan, jika dia masih tidak mau mengatakannya. Singkirkan dia."


"What?" Demetrio kaget luar biasa. "Bukankah dia harus tetap hidup untuk menemukan Marco.


Tanpa menjawab, Malvin kembali menutup mata. Kepalanya terasa berat dan pusing, ini semua karena alkohol yang terus menerus dia konsumsi tanpa henti. "Kenapa kau di sini?"


"Aku akan menemanimu minum sepuasnya di sini, apa kau tidak senang?"


"Akhirnya kau berperan sebagai sahabatku."


"Berhenti bertingkah seperti anak kecil, jika kau merindukannya, pergilah! Temui dia dan bawa kembali ke Verona."


Dan saat Demetrio hendak menyela, ponselnya tiba-tiba berdering. Satu panggilan dari nomor tidak di kenal.


"Ciao!"


"Demetrio!"


"Daniel?"


"Demetrio, aku tidak punya banyak waktu, jadi dengarkan aku baik-baik," ucapnya dengan sangat cepat.


"Sì, katakan."


"Marco berada di Puelba saat ini."


"Kau serius?"


"Mana mungkin aku berbohong. Dia tahu kalian sedang mengurung Arsula saat ini, dan saat mendengar Andrea di bebaskan dia kembali ke Puelba untuk mencarinya."


"Dari mana dia tahu Andrea sudah di bebaskan."


Manik hitam itu terbuka lebar saat mendengar nama Andrea. Dia mengusap wajah kasar sebelum tatapan tajam kedua pria itu beradu.


"Demetrio, aku butuh senjata. Marco tahu aku memberikan info kepada kalian, dia menyerang klan kami. Persenjataan anak buahnya sangat lengkap, dan kami kekurangan senjata. Katakan pada majikanmu untuk menolong kami, bukankah aku sudah memberikan informasi kepada kalian."


"Oke. Kalian akan mendapatkannya. Tetao pantau dia dan berikan info apapun yang kalian dapatkan."


"Sì," ucap Daniel mengakhiri panggilan.


"Ada apa, kenapa kau menyebutkan nama Andrea?"


"Kita harus segera bergerak Signore., ini darurat."


Dengan sigap Malvin menarik kerak Demetrio mendorongnya keras hingga punggung belakangnya terpukul dinding.


"Katakan! Apa yang terjadi pada Andrea."