Endless

Endless
Chapter 184



Wanita itu berdecak dengan tertawa hambar. Ia memalingkan wajah dari tatapan Malvin menatap Selena dengan tajam, tidak menunggu lama wanita itu langsung melangkah pergi tanpa memperbaiki penampilannya yang sangat berantakan. Zigo bahkan tidak berkedip sama sekali, antara bingung dan terpanah, pria itu sampai tidak melepaskan mata dari Selena.


"Andrea aku ...."


"Dasar bajingan!"


"Demi Tuhan Andrea, aku benar-benar tidak tahu jika--"


"Jika kau sedang berdua dengan wanita lain." Andre memotong ucapan Malvin, wanita yang sedang marah itu lalu tertawa hambar. "Kau sungguh membuat lelucon yang luar biasa malam ini Signore Malvin Alexander. Kau mengabaikan semua panggilan dan pesanku, karena ingin menikmati malam panjang dengan wanita tadi? Huh!" Mata wanita itu melotot hingga hampir keluar.


"Demi tuhan Andrea, aku sama sekali tidak ada pikiran seperti itu." Malvin mendekati Andrea dengan tumbuh yang limbung. Sesekali ia menggelengkan kepala untuk menghilangkan rasa pusingnya.


"Tutup mulutmu! Kau pria paling licik yang pernah aku kenal." Andrea terisak, air matanya mulai terjatuh membasahi pipinya. Kemarahannya bukan karena kejadian yang baru saja terjadi. Namun, kesal karena Malvin mengabaikannya demi wanita liar itu.


"Sayang, dengarkan aku dulu."


"Berhenti memanggiku seperti itu! Kau berpelukan dan berciuman di depan mataku, lalu dengan polosnya kau mengakui jika kau tidak tahu apa-apa! Hahahha." Andrea tertawa hambar. "Jangan konyol Malvin. Aku melihat semua, bahkan Demetrio dan Marisa pun melihatnya."


"Melihat apa! Memangnya apa yang sudah ku lakukan."


"Hei kawan! Apa kau tidak lihat tadi? Selena berlari dengan pakaian setengah terbuka," ujar Zigo yang kemudian berlari ke belakang karena merasa sangat mual.


Malvin melangkah dan jatuh tepat di bawah kaki Andrea. Saat ini dia benar-benar sedang tidak terkontrol karrna efek alkohol dan juga obat yang di berikan Selena pada minumannya. "Ah kepalaku kenapa aku tidak mengingat apapun. Aku bahkan tidak ingat sudah membuka bajunya."


Andrea dan Marisa meninggalkan bar setelah aksi mereka selesai. Selanjutnya, Marisa tidak ikut pulang karena dia harus menyelesaikan misi mereka hingga akhir. Wanita arogan itu mengatakan jika orang seperti Selena harus benar-benar di kasi pelajaran.


"Si!" Agrio menganggung segera. Pria polos itu segera mencari tali untuk mengikat Malvin. Namun, dia malah di timpuk oleh Demetrio. "Aaahh!! Tuan, kenapa kau memukulku."


"Untuk apa kau mencari tali huh! Apa kau mau mengingatnya seperti kata Andrea? Apa kau sudah gila!"


"Bukankah Signora mengatakan seperti itu tadi," jawabnya dengan begitu polos.


"Dasar bodoh! Apa kau ingin di penggal saat dia sadar. Kau harus menggendongnya lalu bawa dia ke mobil. Cepat! Signora menunggumu."


"Si."


Dengan wajah panik Agrio segera menggendong Malvin dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia bahkan menjelaskan kepada Andrea jika tidak mengikatnya karena mengamankan dirinya dari amukan majikannya itu.


"Di mana Marisa?"


"Dia sudah kembali?"


"What? Dengan siapa? Bukankah kalian datang bersama tadi."


"Sepertinya dia tidak menyukaimu lagi, kau bersekongkol dan membuat saudaranya ini sakit hati." Andrea menaikan sudut bibirnya tersenyum miring ke arah Demetrio. Setelah memberikan kekesalannya kepada kekasih saudaranya ia beralih menatap Malvin dan menamparnya dengan keras. Bahkan Andrea menggigit kuat pada lengannya. Namun, tentu saja itu sia-sia. kekasihnya benar-benar sudah tidak sadarkan diri.