
Hari sudah pagi, matahari sudah mulai menampakkan kegagahannya. Namun, Andrea belum juga keluar dari kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Demetrio sudah menunggunya sedari tadi.
"Ini sudah dua jam, kenapa dia belum bangun juga." Pria berwajah es itu mondar-mandir di depan kamar Andrea dengan gelisah. Demetrio menelan ludah kasar, lagi-lagi, dia harus berurusan dengan dua manusia yang selalu membuatnya pusing ketika sedang bertengkar. Yang satu akan berubah menjadi siput yang lamban dan satunya akan berubah menjadi harimau yang ganas.
"Arrghh .... Benar-benar merepotkan. Untuk apa mereka bertengkar hanya karena ingin bercinta, Dasar aneh!" Demetrio meninggalkan kamar Andrea, dan kembali ke kamar tamu. Sepertinya perseteruan ini akan berlangsung lama.
"Seharusnya dia tidak mengatakan itu." Demetrio mendesah. "Kenapa wanita selalu saja salah paham." Demetrio kembali menghadap manjikannya untuk memberi tahu jika Andrea masih marah padanya. Wanita iru bahkan mengabaikan panggilannya dan membiarkan dia menunggu selama dua jam di depan pintu.
••••
"Mana?"
"Kekasihmu masih tertidur, pintunya di kunci. Dua jam aku menunggu di depan pintunya Malvin, dua jam."
Dahi Malvin berkerut, pria dengan manik hitam itu membuang napas kasar berulang kali. "Dasar bodoh! Untuk apa dia cemburu untuk sesuatu yang tidak aku lakukan," erang Malvin kesal. Andrea sudah sangat keterlaluan, dan ini tidak boleh terus di biarkan. Kehamilannya masih 1 bulan, jika selama hampir satu tahun dia seperti ini, hubungan mereka akan benar-benar hancur. "Siapkan baju baru untuk ku."
"Sì Signore."
1 jam berlalu, Malvin sudah siap. Demetrio memesan pakaian baru unthk ia kenakan karena semua barangnya ada di kamar Andrea. Hari ini adalah perjamuan keluarga, meskipun Andrea sedang marah padanya, dia juga tidak boleh mempermalukan dirinya dan Andrea di depan calon mertuanya karena tidak ikut menghadiri perjamuan keluarga Lazaro. Malvin bahkan sengaja bangun lebih awal untuk membangunkan Andrea. Namun, lihatnya wanita keras kepala itu belum memafkannya.
Saat sedang asik mengobrol sambil menunggu Andrea, Marisa berlari kencang mendekar ke arah mereka. Ia baru saja di perintahkan Lazaro untuk memanggil wanita berambut cokelat itu.
Karena sangat khawatir Malvin malah berlari mendekati Marisa. "Marisa! Ada apa? Kenapa kau berlari, di mana Andrea?"
"Andrea terus saja muntah dari tadi, aku pikir hanya Morning sickness karena wanita hamil selalu seperti itu, tapi tubuhnya sangat dingin, dia mengeluh sakit di bagian perutnya."
"Apa!!"
"Maaf Malvin." Marisa menahan langkah kekasih saudaranya. "Andrea mengatakan jika kau tidak boleh melihatnya.
"What? Memangnya kenapa! Aku kekasihnya, apa karena hal sepeleh dia marah hingga tidak ingin menemuiku?"
Marisa mengedikkan bahu. "Aku hanya menuruti keinginan Andrea. Aku mohon, jangan menambah masalah. Kalian bisa menyelesaikan masalahnya setelah Andrea membaik."
Malvin mengeram, dia tahu jika wanita itu pasti masih marah padanya. Tetapi, menahannya seperti ini sama saja menjatuhkan harga dirinya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan semua orang, hanya Andrea saja yang boleh melihat kelemahan itu. Lagi pula ini bukan lagi tentang harga dirinya, tetapi Andrea dan anaknya, mereka tidak boleh kenapa- kenapa. "Aku tidak peduli, Marisa! Dia menyukainya atau tidak aku akan tetap melihatnya.
"Malvin!" Marisa berlari mengikuti Malvin yang melangkah dengan panjang menuju kamar Andrea. "Malvin berhenti! Andrea masih marah padamu, jangan membuatnya semakin marah. Kondisi tubuhnya sedang lemah, aku mohon."
"biarkan saja."
Malvin kembali melangkah, dia tidak ingin melewatkan apapun yang di alami Andrea, sakit atau tidak Malvin harus berada di sampingnya. "Panggilkan dokter sekarang Tuan Lazaro, aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada mereka."