
Sella yang sudah tidak bisa kembali menghubungi Arsula merasa khawatir jika sesuatu terjadi. "Apa aku harus ke sana? Tapi bagaimana dengan pekerjaanku." Dia merasa khawatir karena Arsula tidak membalas pesannya atau mengangkat telponnya. Pasalnya dia harus melaporkan apa yang dia lihat semalam kepada Arsula. Dengan itu, Andrea akan segera di usir dan majikannya itu akan kembali berkuasa.
Pelayan itu tampak bingung sejenak, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tetap tenang dan menunggu kedatangan Arsula. "Semoga saja Nona tidak melakukan hal aneh, dan segera datang kemari. Aku penasaran, apa yang akan dia lakukan pada wanita *-***** itu." Sella tertawa bahagia mengingat wajah kesakitan dari Andrea.
"Apa kau baik-baik saja Sella? Ku perhatikan, dari tadi kau tersenyum saat menatap ku."
"Tentu saja, aku selalu merasa baik-baik saja."
Sella mendekat ke arah Andrea, menikmati sarapannya dengan senyum yang tidak pudar. "Apa tidur malam-mu nyenyak Andrea?" Nada suara Sella terdengar mengejek mulai memancing keadaan untuk tidak ada yang merasa curiga.
Andrea yang kaget dengan pertanyaan Sella menatap dengan wajah aneh ke arah Garilla. Namun, Garilla membalas dengan mengangkat bahunya. Dia pun tidak mengerti dengan tingkah wanita iblis itu. Kadang-kadang Sella selalu melakukan hal yang baik. Namun, kadang-kadang dia terlihat seperti iblis dama seprti majukannya yang juga iblis.
"Yah, tentu saja," jawab Andrea mencoba berdamai dengan tinggkah Sella yang manis.
Di waktu yang sama Sella kembali melebarkan senyumannya. Suara bising itu mulai menggema lagi. Dia segera menjauh dari Andrea dan mendekat ke arah pemilik suara itu. "Signora, aku pikir anda tidak akan datang hari ini."
Garilla yang merasa aneh, segera berlari kecil mendekati Andrea saat jarak Sella sudah sedikit menjauh. "Apa kau tidak merasa dia sedikit aneh."
"Entahlah, Garilla, aku tidak bisa menebak Sella. Dia selalu memberikan kejutan di tiap tingkahnya."
"Kau harus hati-hati de--" Ucapan Garilla terhenti saat langkah kaki dengan heels itu mulai mendekati keduanya. "Akhir-akhir ini dia sangat rajin untuk berkunjung."
"Hei, perempuan penggoda!"
Dan benar saja, seperti dugaannya. Arsula memang selalu melirik ke arahnya, dan entah kali ini masalah apalagi. Langka Andrea terhenti, dia menoleh dengan tersenyum, yang mana semakin membuat darah Arsula mendidih. Andrea tidak langsung menjawab, perempuan itu menengok ke kiri dan ke kanan pura-pura mencari siapa yang Arsula maksud. Padahal dia tahu jelas panggilan itu tertuju padanya. Tanpa Andrea duga, Arsula berjalan ke arahnya, dengan cepat menarik dagu wanita itu dan mengeratkan cengkeramannya di sana.
"Aku memanggil mu, wanita sialan!"
"Anda memanggilku Signora."
"Ikut denganku?"
"Setelah aku menghabiskan sarapanku ini," jawab Andrea santai.
"Apa kau tuli, Nona Arsula memberimu perintah untuk mengikutinya Andrea?" Sella dengan cepat menyelah.
"Tapi aku sedang sarapan Sella, aku akan menyelesaikan ini lalu mengikutinya."
Sella memutar kedua bola matanya. Dia tahu wanita ini sedang membangun benteng perlawanan. "Dasar pembangkang, majukanmu sedang memanggilmu dan kau malah asik dengan sarapanmu. Apa kau ingin di siksa."