Endless

Endless
Chapter 79



"Aku janji akan membawamu kembali."


Lalu tatapan keduanya beradu, Andrea menangisi kekasihnya yang berlumuran darah. Manik hitam yang menjanjikan kabahagiaan dan manik biru yang memperlihatkan ketakutan.


"Malvin! Aku mohon jangan pergi, aku takut jika sendiri, dan bukankah kau terluka. Tetaplah di sini kita akan menunggu hingga Demetrio tiba."


Malvin menggeleng. "Jumlah mereka terlalu banyak Andrea, aku harus segera mencari jalan keluar. Tetaplah di sini aku akan segera kembali." Elusan tangan Malvin pada pipi Andrea membuat gadis itu tenang. Namun, ketika Malvin menjauh, suara tembakan tiba-tiba terdengar, peluru-peluru itu mengujani tubuh Malvin hingga membuat pria itu terjatuh.


Tidak jauh dari tempat persembunyian Andrea melihat itu, dia bergerak untuk mendekat tetapi Malvin memberi gelengan kepala agar dia tidak melakukannya. Tentu saja Andrea mengabaikan itu, dia berlari kencang mendekati kekasihnya yang sudah terbujur kaku.


"Malvin! Malvin .... Malvin!"


Teriakan itu membuat Andrea tersadar dari mimpinya. Dengan napas yang keringat dan tubuh yang bergetar, Andrea membuang napas panjang dan menyapu keringat yang bercucuran di dahinya. "Hanya mimpi, hanya mimpi, iti hanya mimpi," ucapnya berulang kali. Dia mendokrin dirinya sendiri jika semua itu hanya mimpi dan tidak akan menjadi kenyataan.


Pukul 6 dini hari, ini adalah awal pergantian musim, dimana musim dingin berubah menjadi musim semi. Andrea bangun dan melangkah ke jendela. Matanya berbinar saat tirai jendelanya terbuka. Bunga-bunga bermekaran dengan sangat indah dengan matahari yang mulai memberi sinarnya.


"Musim telah berganti." Wajah bahagia Andrea terlihat, Tentu saja bahagia, karena musim semi kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Setiap musim Andrea selalu menangis karena di musim itu dia kehilangan Ibunya. Namun, tahun ini, dia tersenyum bahagia menyambut kehidupan barunya. Malvin akan datang menjemputnya, pria yang sangat dia cintai itu berjanji saat bunga bermekaran nanti dia akan kembali.


****


"Aku sudah mengikuti semua ucapanmu, lalu kenapa kita masih di tempat kumuh ini?"


"Berhenti bersungut Arsula, situasi kita semakin terjepit. Kau dengar, Santos mengatakan Malvin dan para anggota Dio della morte ada di segala sisi kota Roma. Kapanpun kita bisa tertangkap."


Marco menyapu wajahnya dengan kasar. "Memberi pengertian kepadamu seperti membuang garam di lautan. Jika kau ingin kita tertangkap, maka pergilah! Lakukan apapun yang kau inginkan Signora Arsula Simon."


Arsula berdecak, seketika dia memperlihatkan wajah marah. "Aku muak dengan semua ini." Dia membuang diri menghempaskannya di atas sofa yang sama sekali tidak empuk.


Dan hal itu membuat Marco kesal. Saat hendak memberi Arsula umpatan, tiba-tiba saja suara pintu terbuka terdengar. Santos muncul dengan langka panjang menuju keduanya. "Ada apa?" tanya Marco.


"Kita harus segera meninggalkan kota ini, Sepertinya Malvin dan anak buahnya sudah tahu tempat persembunyian kita."


"What? Bagaimana bisa!"


"Seseorang yang aku utus juga sama sekali tidak ada kabar. Tuan sebaiknya kita mencari tempat persembunyian yang baru."


"Buat Malvin terkecoh, pancing dia dengan beberapa anak buah kita dengan lokasi yang baru agar tempat ini tidak di temukan."


Arsula tersenyum miring. "Yah, biarkan dia terkecoh, kumpul semua anak buahmu untuk melumpuhkan mereka. Setelah itu giliran kita untuk menyerang. Aku ingin melihat bagaimana ekspresi Malvin saat tahu dia dan anak buahnya di jebak."


Arsula mengeluarkan suara tawa dengan keras, memberi tatapan tajam mengiringi kepergian Santos. Melewati lorong yang sempit dan gelap di antara perumahan kumuh yang kotor. Tidak ada yang menyadari jika kedua orang itu bersembunyi di sana. Meskipun awalnya dia tidak menyukai ide gila Marco yang bersembunyi di tempat kumuh. Namun, sepertinya ini akan menjadi awal dari kehidupan terbaiknya. Karena jika Malvin dan Demetrio mati, maka satu-satunya orang yang bisa menikmati segala yang di miliki Malvin adalah dia.


"Aku sangat tidak sabar melihat bagaimana kau mengemis untuk kehidupanmu Malvin. Hahahahahaha." Wanita itu kembali tertawa hingga suara pintu terbuka dan kembali menampilkan Santos yang kembali datang dengan raut wajah datar.


"Hei! Untuk apa kau kembali?"