
Andrea berdecak kesal, kembali dia menatap Garilla dan Agrio yang sama sekali tidak berani mengangkat wajah untuk menatapnya. "Bagaimana bisa kalian tidak tahu ke mana pria itu pergi? Ini sudah hampir sore dan batang hidungnya belum juga terlihat."
Wanita itu memijat pelipisnya yang terasa pening. Pasalnya baru beberapa menit yang lalu dia dan Malvin bertengkar karena pertanyaan yang sering dia ucapkan saat masih bersama Arsula. Karena Andrea yang sama sekali tidak ingin bicara, dan terus mengabaikan pria itu, dia berfikir Malvin mungkin kesal dan meninggalkan Mansion tanpa mengatakan apapun padanya seperti ini.
"Apa Demetrio tidak mengatakan ke mana mereka akan pergi Agrio?"
"Maaf Signora, aku tidak tahu ke mana Tuan Demetrio dan Signore pergi," ujarnya masih dengan kepala yang tak berani terangkat. Agrio sebenarnya tahu. Namun, dia ragu-ragu untuk mengatakannya karena takut Andrea akan merasa kecewa dengan majikannya.
Perempuan dengan manik abu-abu itu menarik napas dalam, ingin sekali dia menumpahkan rasa kesalnya di hadapan para pelayan. Namun, mengingat dia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pelayan yang kebetulan di cintai oleh majikannya.
"Oh God! Apa yang terjadi denganku." Andrea mengusap dadanya, beberapa kali dia mengumpat di dalam hati untuk membuat perasan-nya sedikit legah.
"Signora, apa kau baik-baik saja?" tanya Garilla saat melihat mata Andrea yang sedikit bergetar. Sepertinya dia akan menangis.
Andrea menggeleng, saat sebelum air matanya akan jatuh, ia berbalik dengan cepat. "Maaf, membuat kalian ikut khawatir. Aku permisi."
Andrea melangkah dengan panjang agar Garilla tidak melihat air matanya. Dia bergegas menuju kamar untuk menyembunyikan tangisannya juga untuk menenangkan pikirannya. Namun kamar yang cukup luas itu tidak mampu untuk membuat dia tenang. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar Mansion. Mungkin saja Malvin juga sedang mencari udara segar di luar untuk menghindari udara panas yang berasal darinya. Dia bertekad, jika menemukan pria yang dia cintai itu di luar, maka dia akan meminta maaf atas untuk kelakuannya yang sudah membuatnya kesal.
"Signora, maaf. Apa kau akan keluar?"
"Si, aku ingin berjalan-jalan di luar sebentar."
"Aku akan menemanimu," ujar Agrio memberi jalan.
"No Agrio. Aku ingin sendiri," ucpnya pelan. Dia tidak ingin reaksinya akan membuat pria itu merasa tidak enak.
"Kau bukan kekasihku, lalu untuk apa kau terus berada di sisiku." Ucapan Andrea membuat Agrio malu, dan langsung menunduk.
"Maaf Signora, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin agar kau tetap aman. Itu adalah tugasku untuk tetap menjaga, untuk itu aku harus tetap berada di sisimu Signora."
"Tidak, tetaplah di Mansion. Kabari aku jika mereka sudah kembali."
Agrio mengangguk tanda mengerti. "Sì."
Akhirnya Andrea sendirian berjalan keluar, dia tidak merasa khawatir sama sekali karena berfikir Marco dan Arsula sudah tiada dan Sella sudah berubah menjadi baik. Dengan santai, dia berjalan menelusuri sekitar Mansion, menghirup udara sore kota Verona. Ini adalah pertama kalinya perempuan berdarah Puelba, Meksiko itu keluar Mansion tanpa merasa khawatir tentang apapun.
Angin musim semi membelai rambutnya yang panjang, raut wajah yang sedang khawatir itu terlihat sedikit berfikir, menyesali perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. 30 menit berjalan di luar Mansion membuatnya berfikir bisa tenang, faktanya malah dia semakin merasa gelisah. Sejenak dia berfikir, mungkin saja Malvin sedang mengunjungi adiknya, tetapi bukankah baru kemarin mereka berkunjung. Dalam kegundaannya Andrea akhirnya memutuskan untuk ke sana. Bisa saja pria itu sedang menenangkan pikiran dengan mengobrol bersama Daisy.
Dan benar saja, saat taksi yang dia naiki berhenti di area pemakaman, Senyum Andrea mengembang saat melihat mobil kekasihnya terparkir di sana. Andrea melangkah dengan panjang, pria yang sedari tadi dia khawatirkan pun benar-benar ada di sana. Andrea melangkah dengan perasaan legah, mendekat ke arah dua pria yang terlihat bersimpuh. Namun, saat langkahnya semakin mendekat fokus matanya menangkap keanehan. Mata abu-abunya terbuka ketika melihat bukan nama Daisy yang tertera di makam itu. Dia pun baru sadar jika makam Daisy berada di bagian barat dan tentu saja beberapa bunga yang mereka bawah kemarin seharusnya ada di atas makam itu.
"Jadi ini adalah alasan kau tidak berpamitan padaku."
•
•
•
Note : Jangan lupa kasih dukungan kalian yah. Karena akan ada hadiah menarik untuk 3 top Fans saat angka Popnya sudah 1M nanti. Selamat membaca. 💜🙏🥰