
Andrea meringkuk menangis dengan keras di bawa selimut tebal milik Malvin. Mengumpat tiada henti untuk pria yang baru saja membuat dia kesakitan. Sungguh di luar dugaan Malvin akan melakukan itu padanya.
Andrea menghentikan tangisannya, jemari cantiknya membuka selimut tebal yang menutupinya secara perlahan-lahan. Mata abu-abunya berpencar mencari sosok yang baru saja dia umpati. Namun, ternyata dia belum kembali. Pria itu meninggalkan kamar setelah menggigit kupingnya dengan sangat keras.
Andrea benar-benar merasa malu karena berfikir mereka akan melakukannya lagi. Namun, ternyata, pria itu hanya menggigit kuping saat Andrea berfikir dia akan memulainya dengan ciuman.
"Aaaaaaaa! Benar-benar memalukan."
Jam yang bergantung pada dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Andrea beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Dia membersihkan diri sebelum keluar untuk melakukan tugasnya. Tetapi, pikirannya masih di penuhi dengan Malvin.
"Kemana dia?"
Raut wajah Andrea terlihat sangat khawatir, dia berfikir, jangan-jangan Malvin kembali menemui Arsula dan menyiksanya lagi. Kejadian dia mana Malvin menembaki Arsula masih terus terngiang, membuat napasnya serasa sesak. Andrea selesai dengan membersihkan diri, berniat keluar dengan aman. Akan tetapi, wanita berdarah Meksiko itu malah terkejut saat seseorang mengetuk dengan meneriaki namanya dari balik pintu.
"Andrea .... Andrea apa kau di dalam?"
"Dem? Apa dia tahu aku di kamar Malvin?" Perempuan berambut panjang itu membukakan pintu, dan benar saja, suara itu adalah milik Demetrio.
"Ada apa?"
"Bisakah kau membantuku?"
"Tentu saja, apa yang harus aku lakukan."
"Ikutlah denganku?"
Meskipun bingung, Andrea akhirnya mengikuti Demetrio tanpa protes. Sampai keduanya tiba pada bagian paling selatan Mansion, ada taman kecil dengan gajebo yang terdapat di sana, itu satu area dengan taman yang terdapat di bagian belakang Mansion. Mata Andrea membulat sempurna saat dia melihat seseorang tertidur dengan botol alkohol yang berhamburan di sekitarnya.
"Signore?" Andrea menoleh pada Demetrio. "Apa dia mabuk?"
Demetrio mengangguk pelan.
"Oh Tuhan, aku pikir dia ...."
"Berjanjilah padaku untuk membuat Malvin kembali seperti dahulu. Bantu aku untuk menghilangkan trauma dan rasa sakitnya."
"Aku?" Andrea menggeleng. "Apa yang bisa di lakukan seorang pelayan sepertiku."
"Kau berbeda Andrea, dan aku yakin kau adalah orang yang tepat untuk Signore Malvin. Dia menginginkanmu, aku bisa melihat keseriusan dari sorot matanya. Sangat berbeda saat dia bersama Arsula."
Andrea mengangkat alis. "Jangan konyol, aku tidak mau melakukannya."
"Andrea aku mohon!"
"Aku mohon!"
Perempuan dengan bekas sayatan di pipi itu menggeleng. "Aku takut ini akan semakin memperburuk keadaannya."
"Percayalah padaku. Satu hal yang harus kau lakukan saat mendekati Signore adalah tetap tenang, ikuti alur yang dia inginkan maka semua akan baik-baik saja."
Andrea menggigit ujung jarinya, merasa takut akan keputusan yang akan dia ambil ini. "Baiklah! Aku akan melakukannya, tapi dengan 1 syarat"
"Katakan."
Jika aku berhasil membuat Malvin kembali, kau harus membantuku agar bisa bebas dari sini."
"Kau ingin melarikan diri?"
"No! itu hal paling buruk yang tidak mungkin aku lakukan."
"Lalu?"
"Kau bisa bicara dengan Malvin untuk membebaskanku bukan? Bulan depan adalah yang terakhir. Itu adalah perjanjiannya dengan Ayahku, aku hanya takut dia melupakannya dan menahanku untuk lebih lama di sini."
"Aku tidak yakin bisa menolongmu Andrea, jika Malvin menginginkanmu, maka apapun akan dia lakukan untuk menahanmu."
"Kalau begitu aku tidak jadi menolongmu." Andrea hendak melangkah pergi. Namun, Demetrio dengan cepat mencekalnya.
"Hei! Kita sudah menyepakatinya."
"Kau bahkan tidak mampu memenuhi satu syaratku. Lalu untuk apa kesepakatan itu."
"Andrea, ayolah. Aku tidak sedang bercanda."
"Kau pikir kebebasan ku juga candaan. Aku tidak mau berakhir seperti Nona Arsula, aku ingin pulang Demetrio. Aku merindukan Ayahku, merindukan kehidupan ku yang normal."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan Andrea, tapi kau juga harus memikirkan Malvin, dia menderita! Dendam itu membuatnya menjadi dingin dan hanya kau yang bisa menyembuhkan luka itu."
"Kenapa aku harus memikirkannya, dia bahkan sudah menghancurkan sebagian hidupku. Aku terpaksa harus berada di sini karena ulahnya. Aku pun menderita, lalu siapa yang akan mengobatinya."
"Andrea aku ---"
"Sudahlah Dem, aku tidak mau melakukannya, kita bahkan tidak seakrab ini untuk membuatmu memohon bantuanku."