Endless

Endless
Chapter 42



Malvin menaikan kedua alisanya saat menatap wajah Andrea. "Apa yang ingin kau dengar."


"Aku?"


Malvin mengangguk.


"Kebebasanku."


Bibir Malvin mengulas senyum tipis. "Sayangnya itu tidak mungkin."


"Kenapa? Kau tidak sedang menahanku untuk terus menjadi budak nafsumu bukan," ucap Andrea membuat Malvin yang hendak mendekatinya menghentikan langkah.


"Andrea sudah ku katakan, aku tidak pernah mengatakan kau adalah pemuas nafsuku," sela Malvin.


"Aku berbicara fakta."


"Karena malam itu? Aku menginginkanmu Andrea, bukan menjadikanmu sebagai pemuas nafsu belaka. Aku sungguh-sungguh menginginkanmu."


Andrea tertawa hingga membuat bekas luka di perutnya terasa sakit. "Aku yakin kau gila. Mana ada seorang majikan sepertimu menginginkan pelayan rendahan seperti diriku."


"Aku serius Andrea." Mavin berkata sungguh-sungguh, dia tidak bisa terus menutup dirinya jika pada kenyatannya dia memang menginginkan wanita bermata abu-abu itu. Wanita yang telah memikat hatinya.


Andrea terdiam, dia menurunkan pandangannya untuk menghindari tatapan Malvin yang seakan menjadi candu baginya. Tatapan itu yang membuat dia menjadi tenang, hangat dan penuh pengertian meski pria itu sedang dalam keadaan emosi.


"Andrea ...." Suara pria itu terdengar datar. Namun sedikit memohon.


Andrea yang sedang menatap lantai sedikit menegang. Tubuhnya bergetar mendengar suara Malvin menyebutkan namanya. Tanpa dia sadari, Malvin sudah berdiri di hadapannya. Mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. Malvin mendekap tubuh Andrea, menyandarkannya pada dada kekar miliknya. Pria bermata hitam itu menghirup bauh harum rambut Andrea yang begitu wangi. Sesaat keduanya sama-sama terdiam, bergelung dalam pikirannya masing-masing.


"Apa kita akan berdiri diam terus seperti ini."


Andrea mengerjabkan mata, berdehem untuk menetralkan dirinya yang sedikit tegang. Ini bukan karena rasa takut akan kejahatan Malvin. Namun, karena dentuman jatungnya yang tidak karuan nyaris terdengar oleh Malvin. Bagaimana tidak, tubuh pria di depannya hanya berjarak 1 jengkal, dengan tangan yang saling bertautan.


"Ada yang ingin aku katakan padamu."


Malvin mengerutkan keningnya. "Apa."


"Ini tentang Nona Arsula," ucapnya dengan gugup.


"Arsula?"


"Katakan."


"Wanita yang pernah aku ceritakan, ketika terakhir Marco memutuskan hubungannya denganku. Teman wanitanya yang berambut pirang dan selalu menggunakan kaca mata. Aku abru menyadarinya. Itu adalah Arsula."


Malvin tersenyum di dalam hati. Mengucapkan syukur berulang kali karena akhirnya semua menjadi terlihat. Ingin sekali dia mengatakn bahwa dia sudah tahu. Namun, itu akan melukai harga diri Andrea, maka dia birakan wanita itu terus menjelaskan. "Apa kau yakin."


"Aku sangat yakin. Dia pernah melukai ku di lengan kanan, saat dia menghukumku karena mendekatimu dia melukainya lagi. Berulang kali dia mengatakan aku dan anak kecil itu selalu merepotkannya. Aku tahu, yang dia maksud anak kecil pasti adalah adikmu, Daisy."


"Lalu kenapa kau menyembunyikannya dari ku."


"Sudah ku katakan, aku baru menyadarinya saat dia melukaiku."


"Apa ada yang lain lagi yang ingin kau sampaikan padaku?"


"Ada."


"Katakanlah."


"Apa kau tidak keberatan untuk sedikit menjauh dariku Signore."


"Jika aku pergi, apa kau akan menerima tawaranku?" Malvin kembali bertanya.


"Tawaran apa?"


"Tetap Menjadi pelayanku seumur hidupmu."


"Apa kau gila! Aku ingin kembali bersama keluargaku."


"Keluarga yang telah membuangmu?"


"Itu tidak benar, mereka menyayangiku. Tidak ada yang membuangku, aku tetap bagian dari keluargaku."


"Lalu bagaimana dengan ku Andrea, aku menjadikanmu pelayan seumur hidup hanya agar kau tetap berada di sisiku." Suara batin Malvin yang menyedihkan.


****


4x mengajukan bab ini namun tidak lulus sensor karena vulgar 😆. Ya Allah revisi yang menegangkan hingga akhirnya menjadi seperti ini. 🙏😫💜. selamat membaca. maaf telat up.