Endless

Endless
Chapter 55



Malvin mendekatkan bibirnya, sangat dekat hingga nyaris bersentuhan. "Aku menginginkanmu Andrea, bisakah kau melupakan kebebasanmu dan tetap berada di sini?"


Pengakuan Malvin bagai badai yang sedang menerjang perasaan Andrea, dari tatapan matanya Andrea tahu. Benar bahwa pria ini menginginkannya. Hati Andrea sedikit bergetar. Namun, bagaimana dengan keluarganya di Puelba? Dia merindukan mereka, lalu bagaimana dengan keinginan untuk kembali menjalani hidup normal.


"Aku hanya seorang pelayan Signore, apa yang membuatmu menginginkanku."


Andrea menjauhkan wajah dari hadapan Malvin, wajah keduanya sangat dekat, jika dia bergerak sedikit lebih maju, maka bisa di pastikan bibir mereka akan bersentuhan.


"Seorang pelayan juga manusia Andrea, jika tuhan berkenang, apapun bisa terjadi."


Andrea mengerjabkan matanya, bibir tipis gadis itu bergetar. "A-apa maksudmu?"


Bersamaan dengan itu, bibir Malvin sudah berada di bibir Andrea. Ciumannya kembali di curi oleh pria yang namanya masih mengambang di hatinya. Tubuh Andrea menegang seluruh sarafnya seakan menjerit dalam suka cita. Namun dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Malvin mencium bibir Andrea yang sama sekali tidak bereaksi. Dia mendorong,


masuk ke dalam rongga mulut Andrea, tangan dia gunakan untuk lebih meraptakan tubuh keduanya. Bibir Malvin sedikit berkedut tersenyun di balik ciumannya. Dari sikap kaku dan kasar Andrea padanya dia tahu, wanita ini menyukainya.


Terimah kasih Demetrio, aku berhutang padamu. Malvin bergumam berulang kali mengucapkan itu.


Andrea merasakan dadanya nyeri, mengeras dengan bibir yang semakin basah. Dengan perlahan dia pun membalas cuman Malvin yang semakin memghantar sengatan listrik pada tubuhnya hingga semakin menegang. Aroma tubuh Malvin yang masuk ke dalam indera penciumannya bahkan membuatnya candu.


"Ini salah Tuhan, tapi aku tidak ingin ini terhenti."


Andrea mendesah kembali saat tangan Malvin mulai menelisik masuk di antara rambut panjangnya. Ciuman mereka semakin dalam dsn bergairah. Seolah-olah saling membutuhkan hingga tidak ingin terhenti.


Sesaat Andrea tersadar, tubuhnya kini sudah berada di bawa Malvin, entah kapan pria itu membalikan posisi. Dia bahkan tidak mengingatnya karena terlalu terbuai dengan ciumannya. Andrea memindahkan telapak tangannya di dada Malvin, alih-alih ingin mendorong tubuh pria itu untuk menjauh, dia malah justru meremas pakian yang Malvin kenakan. Ia mengerang saat Malvin mulai menindihnya. "Jangan di sini Signore, aku mohon."


Satu ciuman lagi Malvin berikan di puncak kepala Andrea, lalu bergerak ke samping dan memberikan satu tangan sebagai alas kepala wanita yang tertidur di sampingnya.


Malvin menyandarkan kepala Andrea padanya agar lebih dekat, mencium bau harum rambut wanita itu, dan itu dia lakukan berulang kali hingga membuat Andrea sedikit merasa malu.


"Kenapa kau di sini?" Malvin mengulangi pertanyaannya karena tidak puas dengan jawaban Andrea tadi.


"Sudah ku katakan aku ingin menennangkanmu?"


"Karena Demetrio memaksamu?"


"Kau mendengarnya Signore?"


Malvin tersenyum mengingat bagaimana dia terbangun saat keduanya sedang berbincang akan syarat yang di berikan Andrea. Untuk itu, Malvin tidak menunda untuk menyatakan perasaannya. Dia takut, jika Andrea akan meninggalkannya.


Tatapan mata keduanya saling terkunci sementara Malvin masih bermain dengan jemari Andrea yang dia genggam. Andrea pun menatap jemari tangannya yang masih berada dalam kuasa Malvin.


"Kau terlalu banyak merayuku Signore, aku yakin banyak wanita yang sudah menjadi korbanmu termasuk Arsula."


"Jangan membahas wanita itu sekarang Andrea, kau menghancurkan mood ku yang sedang baik."


"Baiklah! Tapi aku rasa jika mereka tahu, maka aku tidak akan aman. Kau tahu bukan, hanya Garilla yang berada di pihak ku."


"Dan Aku," ucap pria bermata kelam itu dengan tegas. Dan Andrea harus kembali mengatur napasnya dan detang jantungnya yang menggila, karena Malvin kembali menciumnya.


Sementara Demetrio, pria itu tersenyum dari kajauhan menyaksikan adegan manis di hadapannya. Perasaannya tidak pernah salah, Malvin akan semakin lebih baik jika bersama Andrea. Tidak ingin menganggu, ia pun berlalu meninggalkan dua orang yang kembali bercumbu.