Endless

Endless
Chapter 111



"Agrio dimana kau?"


"Aku ...." Agrio menjedah, dia menelan ludah menatap Andrea yang sedang berdiri mengawasinya. Wanita itu menyuruhnya untuk membohongi majikannya. "Aku di Mansion Signore."


"What?"Malvin memekik "Apa kau ingin aku membunuhmu!"


"Maaf Signore, tetapi Nona Andrea tidak mengijinkanku untuk ikut bersamanya," jawab Agrio masih dengan kebohongan karena Andrea terus menatapnya. Wanita itu bahkan menatap sambil menahan tawanya, jika Malvin mendengarnya rencana dia untuk mengerjai Malvin akan gagal.


"Dasar bodoh! Jika dia tidak mengijinkanmu kau bisa mengikutinya, apa aku mengajarkanmu untuk diam dan di tindas."


"Tapi, dia adalah kekasihmu Signore, mana berani aku melawan perintahnya."


"Oh s-hit! Tutup mulutmu dan ikuti dia sekarang juga. Hubungi semua penjaga kelab dan tanyakan apa Andrea ada di sana atau tidak."


"Sì, Signore."


"Dasar bodoh! Bahkan hal sekecil itu pun harus aku ajari. Arrgh ...." Malvin mengumpar dengan keras. Tentu saja tidak akan ada yang menyadarinya karena suara lagu terdengar keras.


Andrea tertawa lepas saat Agrio menutup sambungannya, dia menepuk bahu pria yang wajahnya sungguh merasa bersalah karena telah membohongi majikannya. Tentu saja nasibnya akan menjadi abu jika Malvin tahu. "Signora, aku akan di hukum karena melakukan ini."


"Tenanglah, 1 jam lagi aku pasti menghubunginya. Aku akan mewakilimu meminta maaf karena ikut membohonginya."


"Tetapi kau adalah kekasihnya, tentu dia akan memaafkanmu. Tetapi, aku hanya seorang pengawal Signora, pelurunya tentu adalah ketakutanku," ucapnya dengan wajah menunduk. Malvin pernah memukulnya hingga babak belur karena kelalaiannya menjaga Andrea, jika sekali ini lagi maka peluru yang akan dia dapatkan.


Andrea memasang wajah memelas. "Maafkan aku, apa kau takut?"


"Tidak ada yang tidak kami takuti dari Signore Malvin Signora. Dia adalah singa bagi kami."


Andrea sedikit bergetar mendengar itu, ia menimbang, apakah harus melanjutkannya atau tidak. Wajah Agrio sungguh membuatnya merasa tidak enak, tapi bagaimana lagi, dia ingin membuat Malvin kapok dan tidak lagi meninggalkannya tanpa memberi tahu.


"Aku akan bertanggung jawab penuh atas keselamatanmu, aku janji."


"Maafkan aku Signora, aku menjadi tidak enak padamu. Seharusnya apapun resikonya harus menjadi tanggung jawabku."


"Hei! Santailah, kau adalah pengawalku. Kau lebih baik dari pada Demetrio dan aku sangat menyukaimu, kau mengutamakan keselamatanku, maka aku pun harus membalasnya dengan menjamin kau tetap selamat di hadapan majikanmu."


"Hentikan Agrio! Tenanglah. Tidak ada yang terjadi, untuk kau atapun aku. Aku janji, semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu mengatakan sesuai yang ku peritahkan."


Agrio seketika menunduk. "Maafkan aku Signora."


"Hmmm, pergilah dan Istirahat. Aku akan kembali ke kamarku."


"Sì, Signora."


****


Dan satu jam sudah berlalu, Andrea memandang ponselnya sedari tadi. Dia menunggu hingga satu jam untuk mengaktifkannya kembali. Dan sekarang ketika ia sudah mengaktifkannya bahkan satu pesanmu tidak dia terima. Dia merasa jengkel karena sepertinya ini sudah gagal.


Namun, faktanya. Malvin terus menghubunginya hingga berpuluh-puluh bahkan ratusan kali. Pria itu tidak sempat mengirimkan pesan karena fokusnya terbagi. Dia harus fokus dengan kliennya, dan ia sendiri yang harus menghubungi semua anak buahnya karena Demetrio yang sedang sibuk melayani klien. Dia memberi perintah di tiap kelab agar menolak jika Andrea datang ke sana. Bahkan ponsel Agrio tidak berhenti berdering karena pria itu terus menghubunginya untuk menanyakan tentang Andrea.


Sementara pikirannya yang masih kacau, Zigo datang memberi kabar jika mereka harus bersiap untuk pesta yang akan di adakan oleh kliennya. Dan pesta itu akan di adakan di kapal pesiar. Mereka harus mengenakan pakaian yang rapih.


Malvin semakin kesal karena itu akan memakan waktu dan dia tentu saja tidak bisa kembali ke Verona dengan cepat. Namun, bagaimana lagi, dia harus tetap melakukannya karena ini adalah klien yang sangat penting bagi usahanya pun Demetrio akan sangat marah karena lagi-lagi dia meninggalkan klien untuk Andrea.


"Sial! Andrea, di mana kau. Jangan membuatku gila di sini." Malvin menekan ujung keningnya, seperti orang yang tengah frustasi, dia gelisah hingga tidak peduli dengan sekitarnya. Bahkan, ia tidak tahu jika ponsel kekasihnya sudah aktif.


*


*


Just info.


"Ciao!"


Sebelum mulai, aku ingin katakan jika revisi typo dan memperbaiki tanda baca juga merubah sedikit kalimat untuk menjadi pas masih sampai di bab 52 yah. Jika masih ada typo dan kataΒ² yang salah atau tidak sama mohon di maklumi. πŸ™πŸ™


Sekali lagi saya ingatkan untuk tidak memberikan komentar yang kasar atau menyakiti. Saya selalu baca semua komentar kalian dan itu kadang nyakitin. Jika saya harus ikutin alur yang kalian mau yah ceritanya bakal kaga sesui plot dan alur yang udah aku rancang. πŸ₯ΊπŸ˜­. Jadi please, jika tidak suka dengan karakter mereka nggak usah komentar kasar skip saja skip. Tidak suka yah tinggalkan saja. Jangan buat saya jadi malas nulis karena mood hancur. βœŒβœŒπŸ™πŸ™


...Oh ya, terus kasi dukungan kalian yah, karena sudah mau 1 M. yeaaa. Tahu kan kalau 1 M nanti ada apa. "Selamat membaca teman-teman."...