Endless

Endless
Chapter 151



Verona, Italia





Paris baru saja menyelesaikan mandi, dia keluar dari kamar mandi dan mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Handuk berwarna putih miliknya kini menempel membalut tubuhnya yang basah. Ia bersandar pada kursi pasangan meja rias nya yang berada di dekat jendela, menatap keluar sambil menyisir, hingga tak menyadari seseorang masuk ke kamarnya dan kini menatapnya dengan intens.


Paris tersentak kaget ketika puncak kepalanya di elus lembut. Tanpa melihat pun dia sudah tahu siapa yang kini berdiri di belakangnya. Paris hanya diam, dia memilih untuk tetap menikmati mekarnya bunga-bunga yang sudah semakin banyak memenuhi halaman membiarkan Zigo yang mengambil alih merapikan rambutnya.


"Paris Maafkan aku."


"Tidak." Gadis itu menggelengkan kepala.


"Maaf, aku Sayang. Alu janji akan berubah seperti yang kau inginkan. Kau menyuruhku untuk minta maaf kepada Andrea, sudah! Aku sudah melakukannya, dan dia memaafkanku."


Paris menahan napasnya, mengaturnya agar lebih tenang. "Keluarlah ... Aku ingin sendiri."


"Sayang ...."


"Aku mohon!"


"Tidak akan ada lagi wanita-wanita itu, aku sudah tidak lagi berkunjung ke bar atau kelam malam Paris. Mereka sekarang adalah masa lalu ku dan kau adalah masa depanku. Aku memang sangat berat untuk melepaskan kebiasaan itu, tapi aku akan berusaha Paris, aku sungguh-sungguh akan melakukan apa yang kai pinta."


Zigo mencoba meyakinkan Paris, ia berjongkok di depan wanita yang di cintainya, mengusap lembut pada jemari tangan yang ia genggam. "Aku mohon percayalah padaku, kali ini aku akan menepati janjiku."


"Kau hanya akan melupakan janjinya lagi."


"No!" ucapnya merangkak untuk lebih mendekat. "Aku berjanji."


"Kau yakin."


Zigo mengangguk pelan "Sangat yakin."


Paris pura-pura ragu, dia kembali menampilkan wajah bingung agar Zigo yang melihatnya semakin tertrkan dan merasa bersalah. Itu akan memicu perasaannya semakin tertekan. Perlahan dokter cantik itu mendekat, memeluknya dengan penuh cinta pada kekasihnya. "Baiklah! Aku memaafkanmu."


Zigo begitu bahagia, ia memberi jarak antara keduanya. Ketika Pria itu menyingkirkan rambut yang menutupi bahunya, Paris merasakan hembusan nafas hangat Zigo menyapu leher jenjangnya. 


"Ti amo davvero. (Aku samgat mencintaimu.)" ujarnya menatap manik wanita di depannya.


Paris menahan napasnya saat bibir hangat Zigo mulai mengecupnya. Sepasang mata itu menatap Pria di depannya dengan sayup. "Maaf, aku sudah meragukanmu."


Zigo menggeleng, ia menangkup wajah cantik milik kekasihnya mencium keningnya lama sebelum jemarinya mengusap lembut rambutnya perlahan. "Aku yang sqlah karena tidak bisa menahan diriku untuk tetap hidup dengan satu wanita, mulai sekarang aku akan mencobanya. Aku akan mencoba memahami mu Paris. Untuk itu aku mohon, jangan pernah mengabaikanku lagi. Kau tahu jika aku tidak suka jika tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini."


Paris terkekeh. "Aku tidak benar-benar mengabaikanmu Zigo, hanya ingin membuatmu jera saja."


Kening pria tampan itu sedikit berkerut, berusaha memahami apa yang baru saja di katakan kekasihnya. "Maksudmu, kau hanya pura-pura marah dan merajuk padaku?"


Paris mengangguk dengan senyuman kecil.


"Jadi semua kemarahanmu ini hanya sandiwara?"


Paris kembali mengangguk.


"What?"


"Awas saja jika kau melupakan janjimu dan kembali liar seperti predator. Kau akan benar-benar aku habisi." Paris mengangkat tangannya melakukan gerakan seperti sedang mengiris leher.


Seketika itu membuat Zigo terbatuk. "Aku sudah di tipu. Aaaaaaaa ..... Tidaaak ....!"