
"Sayang." Pendar dari manik hitam itu berkilau. "Kau sudah sadar."
Perlahan mata berat itu terbuka menatap wajah kekasih yang sudah 1 malam ini tidak beranjak dari sisinya. "Kau terlihat lelah Sayang." Andrea menjulurkan tangan mengelus wajah kekasihnya. "Maaf, sudah membuatmu khawatir."
Malvin menggeleng. "Tidak, jangan meminta maaf. Semua ini adalah salahku, aku yang sudah membiarkan Selena menyakitimu," ujar Malvin menatap penuh bahagia kepada Andrea. Sekarang pria itu sudah bisa merasa legah karena Andrea tersadar dengan keadaan yang baik-baik saja. "Bagaimana perasaanmu? Apa ada sakit di punggung atau masih pusing."
Andrea mengabaikan pertanyaan Malvin dan berbalik bertanya. "Apa anak kita baik-baik saja?" Nada itu terdengar sangat pelan. Namun, penuh kegelisahan.
"Si, dia baik-baik saja."
"Syukurllah, aku sangat takut waktu itu. Aku takut tidak bisa menjaga anak kita."
"Kau sudah menjaganya dengan baik Sayang."
Tiba-tiba Andrea teringat sesuatu, ia mwngibak selimut dan segera beringsut untuk turun dari tempat tidur. "Di mana Marisa, dia tidak melakukan hal-hal mengerikan kepada Selena bukan?"
"Sayang, pelan-pelan. Kau tidak boleh banyak bergerek," cegat Malvin menghadang langkah Andrea untuk keluar dari kamar perawatan.
"Tolong! Jangan halangi aku, akuingin melihatnya Marisa."
"Dia sedang bersama Demetrio sekarang Sayang, kau tidak perlu khawatir."
Andrea mengeritkan dahi hingga terlihat bergelombang. "Tidak perlu khawatir bagaimana maksudmu Malvin, apa sesuatu terjadi padanya? Apa dia masuk penjara karena membunuh Selena? Katakan padaku, ada apa?"
"Sayang, tenanglah, tidak terjadi apa-apa. Marisa dan Demetrio berada di luar. Saudaramu itu hanya memenjarakan Selena, bukan membunuhnya."
"Benarkah?"
Malvin mengangguk membenarkan apa yang ia katakan tadi. Hingga akhirnya Andrea bisa lebih tenang.
*****
Dua hari berlalu dan Andrea sudah semakin sehat. Meski lukanya belum benar-benar membaik, karena tinggal beberapa hari lagi pernikahan mereka akan di langsungkan, hari ini Malvin dan Andrea harus melakukan fiting baju pengantin. Andrea merasa sedih karena ia tidak bisa di temani oleh Marisa. Wanita pelukis itu sedang terbang bersama Demetrio ke Prancis untuk membicarakan tentang hari pernikahan mereka juga.
"Sayang, apa ini bagus?" Andrea sedikit berputar dengan gaun putih penuh brokat yang ia kenakan.
Andrea berputar masuk kedalam ruang ganti dan menggenakan gaun yang lain, lalu kembali keluar.
"Ini?"
"Ganti!"
"Kalau ini bagaimana?"
"Ganti!"
"Ini?" Andrea menampilkan wajah ceria dengan gaun putih yang belahan dadanya yang seksi.
"Tidak! Itu terlalu seksi. Ganti!"
"Oh God! Aku sudah lelah berganti pakaian," ujar Andrea kesal. Ini sudah gaun kesekian yang ia coba. Namun, Malvin terus saja menolaknya membuat dia harus terus berulang kali bergaya di depan kekasihnya seperti model.
"Maaf, bisakah kau carikan gauj yang sedikit sederhana tapi terlihat berkelas untuk kekasihku? Aku lebih suka melihat kecantikannya dengan gaun seperti itu."
"Si, Signore. Akan aku siapkan, silahkan Signora." Pegawai butik itu mempersilahkan andrea untuk kembali ke ruang ganti dengan sangat sopan.
"Ini yang terakhir, setelah itu kita akan pulang. Aku lapar ...." Wanita hamil itu menghentakkan kaki dengan cemberut sepanjang langkah kakinya menuju ruang ganti, membuat pegawai wanita yang menemaninya tersenyum.
"Kalian adalah pasangan yang sangat manis, kekasihmu sangat menyayangimu dan dia terlihat begitu setia. Semoga pernikahan kalian di berkati dan di anugerahi anak-anak yang manis dan tampan."
Andrea tersenyum malu mendengar ucapan pelayan itu "Terima kasih."
Setelah bersiap dengan gaun yang Malvin minta, Andrea keluar dengan langkah hati-hati dan berdiri tepat di depan kekasihnya. "Aku sudah siap."
💜