Endless

Endless
Chapter 45



Malvin memecah kesuyian Mansion dengan suara tawanya yang keras saat membaca pesan yang di kirimkan oleh Demetrio. Andrea dan Garilla yang berada di Lantai bawah sampai saling memandang, apalagi Garilla. Dia begitu bahagia karena baru kali ini dia mendengar tawa sang majikan yang begitu keras.


"Apa Signore sedang bahagia? Tawanya sungguh nyaring."


Andrea membisu, tidak ada tanggapan atas pertanyaan Garilla, karena bagi Andrea, suara tawa Malvin seakan mengatakan jika dia sedang tidak baik-baik saja.


"Apa dia baik-baik saja? semoga saja aku benar sudah mengatakan tentang Arsula kepadanya, itu lebih baik agar posisiku aman. Tapi .... Apa dia sedih karena itu, atau karena aku yang-- Aaahh, ada apa denganmu Andrea, jangan berfikir yang tidak-tidak."


Andrea larut dalam pikirannya, membuat Garilla yang melihatnya mengerutkan kening. "Sayang! Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


"Apa sesuatu terjadi hari ini."


"No!"


"Benarkah?"


"Garilla, memangnya apa yang harus terjadi untuk pelayan seperti kita."


"Maksudku bukan kita Andrea, tapi kau dan Signore Malvin. Apa sesuatu yang baik terjadi hari ini?"


Untuk yang kesekian kalinya, Andrea menatap Garilla dengan kesal. Wanita tua itu selalu saja mengharapkan hal-hal aneh untuk dia dan Malvin. Andrea yang sedang menikmati makan malamnya itu mendesah pelan. Dia beranjak melewati Garilla yang sedang membersihkan piring-piring sisa makanan dari Majikannya.


"Aku sudah selesai, selamat malam."


"Garilla ...!"


Seolah ingin menjambaknya, Andrea mengepalkan kedua tangannya, bibir mungilnya membuat suara erangan agar membuatnya terlihat sedang marah.


"Kau tidak cocok marah Sayang."


Wanita Puelba itu pasrah, dia tidak lagi membalas Garilla dan berlalu ke kamarnya dengan langkah panjang. Namun, berada di kamar sempit itu membuat Andrea gelisah dan tidak bisa tidur. Dia terus saja memikirkan Malvin, suara tawa pria berjulukan dewa kematian itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya.


Pria itu tertawa dengan keras. Namun Andrea tahu hatinya pasti sangat hancur, kekasih yang sebelumnya menjadi sahabat selama kurang lebih 3 tahun, lalu menjadi kekasih selama 3 tahun lagi. 6 tahun kebersamaan mereka di hadiakan dengan penghianatan.


Andrea terdiam selama beberapa saat di kamarnya, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berjalan sebentar. Mungkin saja pikirannya akan sedikit lebih tenang jika menghirup udara di luar. Wanita bermata abu-abu itu keluar dari Mansion utama, menelusiri taman tempat ini cukup sepi karena tidak ada yang berani datang karena Malvin selalu berada di sana saat ingin menyendiri.


Andrea berjalan melewati beberapa tiang lampu yang berjejer hingga berakhir pada pembatas antara Mansion utama dan taman yang selalu menjadi tempat favoritnya untuk melepas kesedihannya. Di dalam gelap itu, tanpa rasa takut Andrea berjalan pelan menikmati angin malam. Hanya ada sinar bulan yang masuk dari sela-sela pohon rimbun yang menerangi langkahnya, Andrea tidak tahu kenapa Malvin tidak menaru lampu di taman ini, padahal jika ada sinar lampu, tempat ini akan menjadi sangat indah di malam seperti ini, Jika beruntung dia bisa melihat sekumpulan kunang-kunang dan taburan bintang dari atas batu besar yang sering dia gunakan untuk berbaring.


Dalam perjalanan menuju tempat rahasianya, pendengaran Andrea tiba-tiba fokus pada dinding tinggi yang menjadi pembatas area Mansion. Suara itu terdengar sepertinya seseorang yang meminta tolong. Awalnya wanita itu tidak berani mendekat, mengingat Malvin pernah berkata jika tidak ada yang boleh melewati gajebo. Namun, karena rasa penasarannya, Andrea akhirnya mendekat. Akan tetapi, sebelum wanita itu melangkah Malvin sudah lebih dulu mencegatnya. Andrea menghembuskan napas terengah saat tangannya tertarik.


"Signore?"


"Apa yang kau lakukan di sini Andrea?"


"Aku?" Perempuan bermanik abu-abu itu bernapas dengan tidak teratur, membuat dia susah untuk bicara.