
Malvin dan Andrea terbangun saat mendengar keributan yang terjadi di luar sana. Dari yang mereka dengar, sepertinya Marisa dan Dayla sedang bertengkar. Andrea bergegas mengenakan jubah tidurnya dan melangkah panjang keluar dari kamarnya.
"Sayang! Pelan-pelan, jangan sampai kau terjatuh," teriak Malvin saat melihat Andrea yang melangkah dengan terburu-buru.
Andrea tidak mendengarkan Malvin, wanita itu menuruni tangga dengan buru-buru, mendekat ke arah Marisa yang berdiri tenang di tempatnya. "Apa yang terjadi kenapa Dayla meneriakimu."
"Aku bersama Demetrio Andrea, kami berada di hotel hingga pagi ini," bisik Marisa.
"Oh God! Apa yang kalian lakukan di sana?" pekik Andrea seketika.
"Sutttt .... Pelankan suaramu Andrea, Mom akan mendengarnya."
Andrea menyingkirkan jari telunjuk Marisa pada bibirnya. Wanita bermanik abu-abu itu menghela napas pelan lalu mendorong tubuh Marisa pelan mendekat ke arah Dayla yang berdiri dengan tatapan tajam sambil melipat tangan di dadanya. "Cepat memohon maaflah kepada Dayla."
"Dari mana saja kau, kenapa kau tidak berada di kamarmu semalam? Apa kau pergi ke jalanan dan melukis lagi?" ujar Dayla sedikit berteriak. Lama sekali wanita itu menjedah ucapannya. Namun, tatapan tajamnya tidak ia hilangkan, itu terus mengarah kepada Marisa yang terus saja tidak menjawab.
"Dasar anak nakal! Bukankah sudah ku katakan untuk tidak melakukannya lagi, apa kau tidak mengindahkan kata-kataku? Mau jadi apa kau jika terus seperti itu," ujar Dayla dengan nada tinggi, ia semakin terbakar oleh emosinya.
"Mom ...."
"Apa! Apa lagi yang ingin kau katakan pada wanita tua ini."
Marisa mengadakan wajahnya menatap sosok wanita yang sangat ia hormati itu. "Melukis adalah hidupku dan pekerjaanku. Aku melakukannya karena menyukainya. Lagi pula semua ini demi Lexi dan demi kehidupan kita yang lebih baik."
"Dayla ...." Andrea mendekat melerai, agar Dayla bisa menurunkan emosinya. "Hentikan, apa yang terjadi dengan kalian. Ini masih pagi, malu jika para pelayan melihat kalian seperti ini," ujarnya menahan kedua tangan Dayla agar diam. Andrea yakin Dayla hanya emosi sesaat saja.
"Andrea!! Pergilah, biarkan mom mengatakan apa yang ingin dia katakan padaku. Aku siap mendengar kemarahannya, kau tidak perlu membelaku, ini tidak baik untuk perkembangan anakmu."
"Tidak! Aku juga akan mengatakan apa yang ingin aku katakan." Andrea berbalik menoleh pada Dayla yang mulai terisak di sana.
"Dayla, Marisa adalah pelukis terbaik. Dia membuang masa remajanya untuk mencari nafka di jalanan. Yah, memang terdengar sedikit tidak baik karena waktu dia bekerja adalah jam yang terlalu larut. Tapi apa kau tahu, dia menjual lukisannya untuk menafkahi pendidikan saudaranya agar kelak bisa jadi orang yang membanggakan, dia ingin Lexi mendapatkan hidup yang lebih baik." Jemari kecil itu menggengam tangan yang sudah mulai terlihat mengeriput lalu dengan lembut menciumnya.
"Tolong, jangan terus menyudutkan dirinya dengan apa yang dia kerjakan. Tidak salah bukan menjadi pelukis jalanan. Toh dia menghasilkan uang yang halal, dia tidak menjual dirinya."
"Tapi Sayang, dia adalah seorang wanita, seha---"
"Seharusnya dia menjaga diri bukan?" Potong Andrea cepat. Andrea menangkup wajah Dayla agar fokus padanya. "Dia akan menjaga dirinya dengan baik Dayla. Marisa sudah dewasa, jangan terus menekannya seolah-olah anak kecil yang baru mengenal dunia."
Sepasang mata yang berdiri tidak jauh dari wanita bermanik abu-abu itu, mendengar semua yang di ucapkan Andrea. Begitu pun dengan Malvin. Marisa melengkungkan senyumnya, benar-benar terkesiap. Sedetik setelahnya ia melangkah mendekat memeluk Andrea.
"Sudahlah! Hentikan! Jangan di teruskan lagi, kau sedang mengandung, jangan ikut-ikutan." Marisa takut jika masalah akan semakin rumit, ia takut kondisi Andrea akan drop lagi.
Dayla adalah wanita yang keras dalam didikan bertemu dengan Andrea yang selalu keras dengan kepercayaannya. Tidak akan ada titik penyelesaian jika dua wanita di hadapnya saling memberi pembelaan.