
"Zigo sengaja membuat Andrea membencimu Malvin."
Pria bermata hitam itu tersenyum. "Apa dia benar-benar akan mengirimkan foto saat aku mencium wanita itu."
Demetrio menatap malas dan memutar tubuhnya menjauh. Malvin terlihat santai mengadapi masalah membuat dia harus lebih ekstra bertindak. Dia bahkan tidak tahu apa tujuan pria gila itu dengan mengirim foto-foto itu kepada Andrea. Apa dia akan membuat Andrea dan saudaranya berpisah lalu dia bisa lebih leluasa menaklukan Andrea. Demetrio berdecak dengan tawa licik. "Kau kalah langkah Zigo."
Sedetik setelahnya ponsel Malvin berdering. Pria itu tersenyum sebelum mengangkatnya. "Hallo Sayang."
"Siapa wanita itu? Kau menciummnya!"
Tepat sesuai dugaan. Predator itu ternyata benar-benar mencari masalah dengannya. "Dia hanya seorang pelayan di sini Sayang, aku hanya sedikit memperingatinya, itu hanya ciuman biasa."
"Kau berbohong!"
"Demi Tuhan! Zigo hanya memancing wanita itu agar mendekatiku. Aku bersumpah yang aku inginkan hanya kamu."
"Aku tahu."
Kening Malvin berkerut. "Kau tidak marah?"
"Untuk apa aku marah pada seorang pelacur yang terang-terangan di tolak oleh kekasihku," ujar Andrea. Sudut bibirnya terlihat masam. Meski sebenarnya dia tidak marah. Namun, melihat foto yang di kirimkan oleh Zigo dimana pria yang dia cintai mencium wanita lain, itu sangat menjengkelkan. Apalagi wanita itu terlihat sangat seksi.
Malvin semakin bingung, dia tidak mengerti. Dari mana kekasihnya tahu jia dia mengatakan wanita itu dengan sebutan pelacur saat menolaknya. "Kau tahu aku menolaknya?"
"Cepatlah kembali, aku tidak mau Zigo terus mengerjaimu. Pria itu benar-benar membuatku hampir membunuhmu. Jika saja Demetrio tidak mengirimkan pesan suara saat kau menolaknya, mungkin aku akan terbang ke Madrid dan membunuhmu dan juga wanita itu."
Malvin tersenyum legah. Bersyukur karena Demetrio sudah membantu untuk membereskannya. Jika Zigo tahu, dia pasti akan sangat jengkel pada Demetrio.
"Oh Baby, jangan beteriak dengan nada seperti itu, jika tidak aku akan berlari sekarang juga kembali ke Verona."
Bibir wanita itu sedikit cemberut. "Bisah kau alihkan panggilannya, aku ingin melihatmu,' pinta Andrea kepada kekasihnya.
"Sesuai perintahmu Nona." Malvin mengalihkan panggilan suara menjadi Video. Saat itu terhubung, wajah cantik kekasihnya muncul di layar ponselnya. Dan itu semakin menambah rasa rindunya untuk wanita bermata abu-abu itu. "Kau sudah bersiap-siap untuk tidur?"
"Ya!" Andrea mengelus ranjang yang kosong di sampingnya. Dan ini kosong, kapan kau akan kembali?"
"Besok pagi Sayang. Aku janji, akan berada di pelukanmu saat kau terbangun."
Andrea melayangkan satu kecupan pada layar ponselnya. "Baiklah, aku akan menunggumu. Taoi sekarang aku harus tidur, agar cantik ku tidak luntur saat kau tiba besok."
Malvin terus saja tertawa melihat bagaimana kekasihnya yang terus menampilkam wajah memelas. "Baiklah Sayang. Sampai bertemu besok."
Andreq memberikan satu kecupan pada layar ponselnya. "Aku mencintaimu, selamat malam."
Malvin tersipi di sana. Dia menarik napas dalam-dalam lalu membalas kecupan penghantar tidur untuk kekasihnya. "Aku mencintaimu juga, selamat malam. Mimpikan kehidupan bahagia kita."
Sambungan telepon di matikan, Andrea mengambil satu foto untuk di kirimkan kepada kekasihnya. Dan itu adalah foto pertama yang dia kirimkan kepda Malvin. Di Foto itu bahkan Andrea memberikan lambat hati pada jari manisnya. Dia ingin pria itu terus mengingatnya dengan banyak cinta di mana pun dia berada.
Namun, fokus Malvin bukan pada tanda cinta yang Andrea berikan. Tetapi pada satu foto lain yang tidak sengaja terkirim saat Andrea menindih ponselnya ketika akan berbaring. Malvin baru ingat, bukankah Andrea mengatakan akan ke kelab malam tadi. Dia lupa menanyakan hal itu. Lalu apakah penampilannya ini adalah saat dia pergi tadi, jadi benar dia melakukannya. Cat kuku wanita itu bahkan membuat Malvin tidak berkedip. Andrea terlihat sangat berbeda. "Oh God! Apa-apan ini, apa dia pergi dengan penampilan seperti ini?"