
Malam hari setelah tadi sore Sea yang mengantarnya pulang, Lou sama sekali belum mendapat kabar dari Alaska. Mereka memang jarang berkabar, tapi setidaknya lelaki itu pasti menghubunginya setelah mengoper Lou begitu saja. Setidaknya lelaki itu pasti akan bertanya keadaannya, atau apakah ia pulang dengan selamat. Tapi malam ini lelaki itu seolah menghilang.
Lou berada di balkon kamarnya, mengamati langit malam yang lebih gelap dari biasanya. Ditemani dengan secangkir teh hangat Lou menatap langit gelap yang sepertinya akan turun hujan. Benar saja, kilatan dilangit bahkan sudah terlihat sekarang.
Lou sebenernya sedikit takut, karena hari hujan identik dengan guntur. Lou takut mendengar suara kencang seperti itu, rasanya sama seperti cara Papah dan Mamah membentaknya.
Lou memasuki kamarnya, menutup rapat pintu balkon. Meletakkan gelas teh keatas nakas lalu menaiki tempat tidur, Lou membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut juga meletakkan beberapa bantal dan boneka di sekelilingnya.
Baru saja Lou merapatkan selimutnya, sesuatu terdengar dari balkonnya. Lou mendengar samar-samar suara ketukan di antara rintik hujan yang kini menyapa.
"Cella!" Lou mendengar namanya disebut, ia segera keluar dari selimut.
Membuka pintu balkonnya, ekspresi terkejut tak bisa disembunyikan saat mendapati Alaska dengan keadaan basah disana. Oh oke, sekarang karena panik Lou bahkan tidak bisa berpikir jernih.
"Gimana kalau ketahuan orangtua gue" katanya berbisik, jelas saja suaranya tidak akan terdengar oleh Alaska.
"Alaska!" katanya sedikit meninggikan suara.
Alaska acuh saja, ia memilih memasuki kamar mandi. Meninggalkan Lou yang kini tengah berjalan menuju pintu kamarnya, memastikan pintu terkunci. Walaupun tidak akan ada yang mengecek kamarnya.
Lou membuka lemari pakaiannya, karena ia rasa pernah menyimpan pakaian Alaska disana. Benar saja, Lou mendapat satu sweeter dan celana training disana yang merupakan milik Alaska.
"Buka pintunya, ganti baju" katanya sambil mengetuk pintu.
Sementara Alaska berganti pakaian, Lou menyempatkan dirinya untuk pergi kedapur. Karena sudah cukup larut Lou sebisa mungkin berjalan tanpa suara.
Lou baru saja mencapai dapur saat melihat juga ada orang disana. Karena ada orang lain, Lou tidak perlu terlalu menjaga langkahnya.
Lou tidak berniat bicara sama sekali, karena saat ini Mamah lah yang berada di dapur. Entah sedang apa wanita itu sekarang, Lou mengambil susu bubuk dan air panas yang selalu disiapkan didalam tremos. Ia menyeduh susu itu dengan fokus, tanpa menoleh sedikitpun.
"Kamu minum susu juga?" Jelas itu hanya sebuah basa-basi, karena wanita itu tidak tahu bahwa Lou alergi susu sapi.
"Iya" Jawab Lou sekenanya.
Lou segera melangkah pergi dari dapur, tapi sebelum itu ia sempat mendekat kearah Mamah "Jangan begadang, Mamah harus kerja besok." Anggaplah itu sebagai sebuah bentuk perasaan sayang darinya untuk wanita yang telah melahirkannya.
Saat langkah Lou sudah cukup jauh dari dapur, suara Mamah terdengar "Besok Mamah mau keluar kota, kamu bisa nginap di rumah teman kalau nggak nyaman" katanya.
Lou abaikan, ia segera melangkah menuju kamarnya. Lebih baik ia cepat masuk saja ke kamarnya karena ada Alaska disana.
Jika dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya mereka bicara tanpa bentakan atau nada dingin satu sama lain. Rasanya terlalu asing, dan Lou tidak suka hal itu.
Lou menemukan Alaska yang berbaring di sofa kamarnya, ia melangkah mendekat. Meletakkan gelas keatas meja lalu mendudukan dirinya di sofa single.
"Minum, mumpung masih panas" katanya pada Alaska.
Lou dapat mengamati dengan jelas wajah Alaska sekarang, saat lelaki itu bangun ada beberapa luka di wajahnya. Tanpa keraguan Lou meraih wajah Alaska setelah lelaki itu meletakkan gelas kembali ke atas meja.
"Sakit?" tanyanya, menekan beberapa memar di wajah Alaska.
Alaska tersenyum masam "Gimana menurut lo aja" katanya.
Lou tertawa pelan, jelas saja itu sakit.
"Pulangnya aman kan?" Alaska meraih tangan Lou yang berada di wajahnya.
"Dia pacarnya Zio."
"Gitu ya."
"iya"
Setelahnya hening menyapa mereka. Lou melirik beberapa kali kearah Alaska, ingin sekali bertanya mengenai keberadaan lelaki itu tadi sore dan tentang luka-luka yang ada sekarang.
Jika dipikirkan lebih lanjut, hanya ada Alaska yang mengetahui banyak hal dari Lou. Sedangkan Lou hanya tahu sedikit tentang Alaska.
"Gue mungkin nggak akan sekolah beberapa hari" Alaska memecah keheningan itu.
Lou mengangkat sebelah alisnya "Kenapa? Lo nggak buat masalah sebesar itu kan?" tanyanya.
Alaska menggeleng "Gue ada kerjaan, nanti ada Sea yang bakal jaga lo" katanya.
"Nggak perlu, nanti nyusahin. Gue bisa jaga diri" tolaknya.
Alaska mengehela nafas kasar "Jangan ngebantah, kali ini aja" katanya.
Lou diam, tidak ingin lagi melanjutkan percakapan mereka yang mungkin saja bisa jadi perdebatan. Berdebat dengan Alaska itu akan membuang waktu, karena Lou akan kalah.
"Besok gue bakal nginap di rumah Ibu" katanya, teringat akan percakapan tentang Mamah yang akan keluar kota besok.
"Kerumah Ibu?."
"Iya. Besok Mamah gue keluar kota, lo tahu kalau gue nggak mungkin bisa dirumah kalau cuman ada Papah sama anaknya itu." Karena seberapa jahat Mamah padanya, Papah lebih jahat.
"Kenapa nggak mau nginap apartemen gue lagi?." Oke, hal ini terdengar sedikit nakal.
Lou mengangkat sebelah alisnya, memberi senyum mengejek pada Alaska "Mau banget nih gue nginap disana?."
Alaska mengangkat kedua bahunya acuh "Nggak mau juga nggak apa-apa" katanya.
"Maaf ya, gue kagen banget sama Ibu. Lain kali gue nginap." Lou tersenyum kecil "Gue obatin luka lo dulu ya?" katanya.
Alaska memperhatikan Lou yang tengah mencari-cari P3K. Akhir-akhir ini gadis itu terlihat lebih aneh, entah perasaan Alaska saja atau bukan. Gadis itu terlihat lebih kasar dari sebelumnya, bagaimana cara bicaranya dan sikapnya.
Dan bolehkah Alaska berharap sekarang, bahwa gadis itu punya setidaknya rasa suka terhadapnya. Karena gadis itu lebih sering bersikap seolah gadis itu punya rasa yang sama dengannya.
...
Alaska tidak ada lagi dikamarnya, Lou menemukan sebuah sticky note tadi pagi diatas nakasnya. Kemungkinan lelaki itu pergi setelah Lou tidur semalam.
Gue nggak nungguin lo bangun karena ada urusan mendadak.
Lou membiarkan sticky note itu disana, ia segera bergegas bersiap untuk sekolah. Tak lupa juga menyiapkan satu tas berisi baju, Buku-buku pelajaran, skincare dan peralatan mandi miliknya, tidak lupa beberapa uang tunai.
Ingat selalu bahwa Lou tidak pernah menggunakan kartu debit miliknya. Paling-paling ia menggunakan kartu itu untuk menarik sejumlah uang tunai dalam jumlah banyak.
Lou melirik jam di pergelangan tangannya, sekarang pukul 5:46. Ia harus segera pergi sebelum orang rumah bangun, karena akan sulit untuknya keluar. Karena Mamah sudah berangkat pukul lima tadi, maka ia juga harus pergi secepatnya menghindari Papah.
...