
"Andrea ada di bandara, Agrio mengatakan jika dia bersikeras untuk menjemputmu."
"Apa kau bilang?" Zigo meminta kepada Demetrio untuk mengulangi ucapannya. "Andrea ada di bandara! Bukankah seharusnya kalian bertengkar hebat saat ini?" Wajah tidak percaya dia tampilkan untuk Malvin.
"Kau kalah telak kawan." Demetrio memberikan tepukan pada bahu Zigo. Pria itu berjalan melewati saudara sahabatnya dengan tawa kemenangan.
"Kau!" Geram Zigo, rahangnya mengeras dengan tatapan yang mengancam.
Seharusnya ini adalah hari kemenangannya. Bagaimana tidak, gadis yang dia pikir akan meradang malah sekarang berdiri di depannya dengan senyuman penuh cinta kepada kekasihnya. Parahnya lagi, dia bahkan datang dengan penampilan yang sangat luar biasa. Zigo tampak tidak bisa berkedip ketika Andrea muncul. Dengan manisnya, dia melambaikan tangan dari kejauhan. Demi Tuhan, dia tampak sangat cantik, Zigo hampir tidak bisa bernapas karena itu.
Saat dia mulai melangkah mendekat ke arah mereka, jantung Zigo semakin berpacu. Ini adalah wanita kedua yang membuatnya tidak bisa berkedip. Pesona Andrea benar-benar membuat Zigo hampir saja lupa jika wanita itu adalah milik saudaranya.
Set baju yang dia pakai bahkan sangat pas dengan model rambutnya yang lurus. Rok selutut yang menemoel dengan stoking hitam membuat dia semakin menggoda. Saat Zigo hendak melangkah, suara Malvin lebih mendahuluinya. Dia mengumpat karena terjebak dengan pesona wanita di hadapnya hingga di sadari oleh Malvin.
"Jaga matamu jika tidak ingin aku keluarkan!"
Zigo tersenyum sinis, kesal karena pria itu seperti meremehkan-nya. "Dasar tukang pamer!"
Malvin tersenyum sinis, dia tahu seberapa kerasnya Zigo. Dia tidak akan mengalah begitu saja, apalagi yang di incar saudaranya adalah kekasihnya. Malvin akan selalu menggagalkan semua trik kotornya itu. Tanpa mempedulikan wajah kesal saudaranya, dia melangkah tegas mendekati kekasihnya.
"Penampilanmu membuatku hampir tidak mengenalimu." Malvin mengecup lembut pada kening milik kekasihnya, menyalurkan seluruh rasa rindunya di sana. "Aku sangat merindukanmu."
"Begitupun denganku," jawab Andrea dengan gerakan memeluk. Dia tidak peduli dengan beberapa tatapan yang mungkin sedang fokus padanya saat ini.
Zigo tertawa hambar. "Sialan."
Ia harus segera pergi agar menepis semua fantasinya terhadap Andrea karena kalau tidak dia akan terperanjat dan menghianati wanita-wanita yang jauh lebih seksi dari Andrea. Wanita itu jauh dari kata seksi tetapi pesonanya membuat hati bergetar.
Malvin menatap Andrea. Namun wanita bermata abu-abu itu dengan cepat mengedipkan satu matanya, membuat pria yang memiliki tato elang itu seperti tersihir. Dia berdiri kaku dengan tatapan yang terkunci pada kekasihnya.
"Apa kau ingin pulang bersama kami?"
"Tidak terima kasih. Aku bisa memesan taksi Nona Andrea."
"Owh! Aku pikir ada wanita seksi lainnya yang menjemputmu secara diam-diam." Mata Andrea berpendar berpura-pura mencari.
Zigo tersenyum manis. "Aku tidak bermain secara diam-diam Nona An, dan kekasihku cukup mengerti akan hal itu."
"Maka seharusnya kau tidak mengirimkan foto-foto itu secara diam-diam padaku."
Zigo masih mempertahankan senyum di bibirnya. meski dalam hatinya meronta. Berniat melangkah pergi. Namun, sekali lagi ucapan Andrea membuat pria dengan julukan predator itu mengeram.
"Aku ingin mengatakan satu hal kepadamu Tuan Zigo. Saat menemukan hal menarik tentang kekasihku, usahakan kau mengambil dari sudut yang cukup meyakinkan agar aku bisa percaya. Pakaian wanita itu cukup terbuka, kekasihku tidak menyukai wanita yang mengumbar tubuh."
Zigo menyeringai. "Sial! Apa dia mengejek ku?"
Permainan yang Zigo siapkan kini benar-benar menjeratnya. Dia merasa seperti berdiri di tepi jurang kekalahan. Satu-satunya wanita yang dia rayu adalah Andrea, dia bahkan menyiapkan segala kemampuan rayunya untuk menaklukan wanita itu. Tetapi wanita yang dia targetkan sama sekali tidak terpengaruh. Padahal, biasanya dia hanya cukup mengerlingkan mata kepada wanita-wanita dan mereka akan berakhir di atas ranjangnya. Tetapi tidak dengan Andrea.
"Sayang! Abaikan saja dia, kita harus segera kembali. Aku sangat lelah."
"Oh! Maafkan aku. Kita bisa kembali sekarang Sayang." Andrea mengakhiri percakapannya dengan Zigo, menggandeng erat lengan kekasihnya dan berjalan menuju mobil di mana Demetrio dan Agrio sudah lebih dulu masuk.
Malvin begitu tidak menyukai cara Zigo menatap Andrea, pria itu seperti seekor harimau yang kelaparan. Dia membalas tatapan saudaranya itu dengan sangat tajam, terlihat jika ia sedang memberi peringatan.