Endless

Endless
Chapter 123



"Katakan, apa kau masih tidak menerima jika Paris adalah kekasihku sekarang? Apa karena itu kau selalu ikut campur di dalam urusanku?"


Demetrio menyeringai, "Kau pikir aku sama sepertimu yang menginginkan kekasih orang lain."


"Paris adalah mililku, dia tidak menyukaimu kawan."


Zigo kembali mengungkit bagaimana sampai dia dan Demetrio sangat tidak akur. Itu bermula saat keduanya kedapatan menyukai wanita yang sama. Wanita yang mereka taksir adalah sahabat sekampus yang tidak lain dalah Paris. Demetrio dan Paris adalah sahabat sejak awal mereka kuliah, kedekatan keduanya bisa di bilang adalah sahabat sejati, sama seperti Malvin dan Arsula. Apapun yang ingin Paris lakukan dia selalu menanyakan pendapat Demetrio terlebih dahulu. Namun, wanita itu tiba-tiba berubah dan lebih memilih bersama Zigo dan memutuskan hubungan persahabatan dengan Demetrio karena permintaan Zigo.


Tentu saja itu sangat menyakitkan, Paris dan Demetrio bersahabat cukup lama hingga akhrinya tumbuh rasa-rasa mengecewakan itu. Demetrio juga tidak berkomentar saat keduanya sudah menjalin hubungan karena tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya, hanya saja melihat wanita yang dia cintai bersama pria lain itu sangat memilukan. Apalagi Zigo mendapatkan Paris menggunakan kelicikannya. Dan yang lebih menyakitkan bahwa Paris tahu pria itu menyukainya. Namun, dia mengabaikan perasaan tulusnya itu karena karena mulut busuk Zigo. Dia mengatakan jika Demetrio hanya ingin bertaru untuk mendapatkannya, dia tidak benar-benar menyukai Paris. Dari situlah mereka mulai tidak saling menyukai, mereka selalu saja berselisih paham dalam hal apapun dan semakin tidak akur.


"Lebih baik kau pergi Tuan Zigo, aku takut jika kekasihmu tahu kelakuan mu hari ini dia akan meninggalkanmu."


"Ahahahah!" Zigo kembali tertawa. "Kekasihku adalah wanita yang sangat perngertian. Kau pikir ini bisa membuatnya marah dan meninggalkan aku. No kawan! Dia selalu memaklumi semua yang ku lakukan, itu karena dia takut kehilangan diriku."


Demetrio sungguh tidak menerima, dia dari dulu sebenarnya tidak suka dengan perlakuan Zigo kepada Paris. Dia selalu mempermainkan sahabatnya dengan sesuka hati, bahkan kadang dia merayu wanita di depan mata Paris. Namun, anehnya Paris sama sekali tidak marah, sikap cueknya itu yang membuat Demetrio kecewa hingga menjauhkan diri dari keramaian wanita dan memutuskan untuk tidak pacaran. Dia takut semua wanita akan sama seperti Paris, tidak ingin memiliki komitmen, hanya ingin kesenangan semata. Apalagi melihat bagaimana kisah cinta Arsula dan Malvin, itu membuatnya semakin yakin jika wanita memang selalu membuat sakit perasaan, mereka memang selalu menjadi racun.


Zigo menyunggingkan senyuman licik di ujung bibirnya. "Kau menantangku?"


Demetrio menggeleng, pria yang terkenal dengan sikap dinginnya itu tertawa kecil. "Kau terlalu percaya diri, sampai pada titik di mana Paris akan bosan dengan tingkah mu dan dia meninggalkanmu, di situlah kau akan menyesal." Demetrio berbalik dan melangkah pergi, dia tidak ingin melanjutkan perdebatan karena yakin jika Zigo akan terus membuat dia terbakar. Dia memilih pergi dan kembali masuk ke dalam Mansion dari pada melayani predator itu.


Setelah Demetrio masuk, Zigo berniat pergi. Namun, saat hendak masuk ke mobil kesayangannya suara seseorang yang begitu dia kenal terdengar memanggilnya, mata Zigo membulat dan segera menghentikan gerakannya. Ia berbalik dengan sangat pelan, bukan karena takut tetapi lebih ke arah tidak percaya.


"Sedang apa kau di sini Tuan Zigo Elio."


"Pa--Paris! Kau di sini? Bukankah hari ini kau ada jadwal operasi hingga sore?" Matanya menatap kaget melihat kehadiran wanita yang baru saja mereka perdebatkan.


Paris melempar tas guci hitam yang selalu dia gunakan untuk bekerja ke arah Zigo. "Aku menunggumu di Apartemenku Tuana Elio." Dokter cantik itu melaju dengan mobil meninggalkan Zigo setelah mengatakan kalimat singkat itu.


Sementara itu, Zigo hanya merespon dengan dengan tatapan kaku. Dia melihat bagaimana wajah Paris saat pergi, itu berbeda dengan yang sering dia lihat. Sepertinya akan ada perdebatan besar hari ini. "Perang akan segera di mulai." Dia menginjakan pedal gas mobilnya dan melaju mengikuti kekasihnya.