
"Ayah, aku mencintainya. Sama seperti Malvin, dia ada setengah nyawaku. Lagi pula aku sedang mengandung anaknya, aku mohon jangan seperti ini," potong Andrea. Dia tidak ingin ayahnya kembali mengatakan hal-hal buruk tentang Malvin di depan saudaranya juga Dayla dan Demetrio.
Malvin membeliak, dia kaget karena tiba-tiba Andrea berdiri dan meneriaki Ayahnya. "Maafkan aku Tuan Lazaro." Malvin menarik pelan kekasihnya untuk sedikit menjauh. Pria bermata kelam itu menangkup wajah Andrea dengan kedua tangannya.
"Lihat aku." Malvin memaksa fokus mata Andrea padanya."
"Tidak mau."
"Andrea, semua akan baik-baik saja, lagi pula tidak baik bersuara kasar seperti itu kepada Ayahmu."
"Tapi--"
"Andrea!" Suara teriakan Malvin cukup pelan. Namun, penuh penekanan. "Aku mohon."
"Aku tidak ingin mereka mangatakan hal-hal buruk dan menyakitkan tentangmu, itu benar." Wanita itu mulai menangis.
Malvin menghebuskan napas kasar. "Seharusnya kita membawa Garilla agar bisa menenangkan kebodohanmu ini."
"What?"
"Ayolah Sayang bukankah kau yang mengatakan aku harus bersikap baik di depan Ayahmu. lalu kenapa sekurang kau yang berulah."
"Aku hanya tidak ingin kau di jelek-jelek-kan," ujarnya dengan mata yang mulai berkaca.
"Itu hanya sebuah nasihat, bukan menjelekkan. Dan berhenti menangis Andrea, ku perhatikan sejak kai hamil kau semakin cengeng."
"Itu tidak benar."
Malvin mengecup kening Andrea dengan lembut. "Kau akan menjadi seorang ibu, harusnya kau bisa lebih menjaga emosimu Sayang. Kita akan punya anak, bagaimana jika dia bertingkah seperti ini padamu. Apa kau mau anak mu meneriakimu seperti tadi."
"Apa aku tadi sungguh berlebihan?"
Malvin mengangguk, tatapannya penuh kasih sayang dan pengertian. "Kembalilah dengan lebih tenang. Kau mengerti."
Malvin memberi pelukan singkat lalu menggandeng tangan kekasihnya untuk kembali ke ruang utama. Kedatangan mereka membuat suadana sedikit canggung Karena Malvin lagi-lagi merasa gugup. Entah harus dari mana dia mulai menjelaskannya.
Andrea langsung mengambil tempat duduk di samping Malvin. Lazaro hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala melihat perubahan tingkah putrinya. Dia menjadi sangat manja dan cengeng dari sebelumnya. Semenjak ibunya meninggal Andrea memang selalu lengket dengan Lazaro, apapun yang dia inginkan selalu dia penuhi. Namun, setelah dia remaja dan mengenal Marco, dia semakin nakal dan tidak bisa di kendalikan. Marco bahkan meminta putrinya untuk meninggalkan Puelba dan menetap di Acapulco. Dan bodohnya Andrea yang sudah di butakan oleh cinta itu malah meninggalkan keluarganya dan kembali dengan hutang yang berakhir kembali dengan cinta.
Kali ini Lazaro berharap, kejadian amda lampau tidak akan terulang lagi. Dia tidak ingin putrinya mengalami hal menyakitkan seperti dulu. Untuk itu dia harus menguji apakah Malvin adalah pria yang tepat untuk putrinya atau tidak.
"Kau harus menjaga putriku dengan baik."
"Sì, aku berjanji, akan menjaga dan mencintainya sama seperti yang kau lakukan. Andrea adalah setengah nyawaku, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya." Malvin mengatakannya dengan sunguh-sungguh.
Untuk itu ... " Malvin mendongak wajah kekasihnya. "Aku datang untuk meminta ijin agar kau mau memberikan putrimu untuk aku nikahi."
Orang tua itu ikut menganggukan kepala. "Walaupun awal pertemuan kalian adalah hal yang salah, tapi setidaknya aku sudah bisa melihat jika kau sangat menyayangi putriku."
Lazaro beringsut dari duduknya mendekat kearah Andrea. Ia mencubit pelan pada pipi putrinya. "Sì, aku mengijinkannya. Jaga putri dan calon cucuku dengan baik."
"Ayah ...."
"Dasar anak nakal! Kau pikir aku tidak akan menyetujuinya?"
Mata abu-abu Andrea berkilat karena bahagia. "Ayah." Andrea melebur dan menangis dengan keras di pelukan Ayahnya. "Maaf, aku sudah berkata kasar padamu tadi."
"Sudah-sudah, jangan menangis lagi, kau harusnya senang bukan bersedih."
"Ayahmu benar Sayang, lagi pula kau harusnya memikirkan bayi mu jika kau menangis terus seperti ini, kasihan bayimu," timpal Dayla.
"Ayolah Andrea berhenti menangis kasihan dengan bayi kita."
Melihat keadaan yang terus menjadi sedih Demetrio meminta ijin untuk keluar, pria berwajah es itu memang tidak menyukai hal-hal yang berbau kesidihan dia lebih baik menghirup udara musim semi dan menikmati bunga-bunga di luar sana.