
"Kau ingin aku menyeretmu atau keluar dengan tenang," ujar Demetrio.
Mata Zigo menatap Demetrio seakan menyampaikan perlawanan. Namun, dia lebih takut jika pria berbadan kekar itu menyakitinya. Dia beringsut dengan pelan memperbaiki penampilannya dan melangkah keluar dengan tenang. "Sampai bertemu lagi pria berwajah es."
"Seharusnya kau malu, Andrea adalah kekasih saudaramu. Singkirkan fantasi gilamu itu, dia sedang mengandung, dan kau beruntung karena hal itu Malvin tidak membunuhmu."
Zigo menghentikan langkahnya. "Mengandung? Maksudmu Andrea sedang Hamil?" ujarnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Kau sangat terkejut Tuan Zigo Elio. Apa aku harus bersorak ria karena kesempatanmu untuk memilikinya sudah tidak ada?"
Zigo tertawa kasar. Dia melangkah maju mendekwti Demetrio. "Kau pikir aku akan percaya, Malvin tidak akan mengikat dirinya dengan seorang pelayan. Wanita itu seharusnya menjadi wanita penghubur di kel--"
Bugh.
Habis sudah kesabaran Demetrio, dia melayangkan satu pukulan dengan keras di bagaian perut Zigo. "Jaga cara bicaramu. Andrea bukan wanita murahan sama seperti para wanita yang kau tiduri setiap saat. Dia bahkan jauh di atas Arsula," ujarnya penuh penekanan.
Zigo merintih, pukulan Demetrio benar-benar kuat hingga membuat napasnya hampir saja tercekat. Dengan napas yang masih susah karena menahan sakit, Zigo mendongak dengan tatapan menyeringai.
"Jangan konyol, kau pikir aku tidak tahu jika dia adalah pelayan yang kemudian membuat majikanmu itu tergila-gila hingga menghianati kekasihnya. Dia hanya wanita murahan yang-- Aakh!!" Zigo Kembali menjerit saat Demetrio menarik paksa dari leher bajunya, hingga membuat dia bernapas dengan sangat susah karena tercegat leher baju yang mencekik lehernya.
Demetrio mempercepat langkahnya, dia memberi perintah kepada Agrio lewat tatapannya untuk membuka pintu gerbang utama Mansion. "Keluar kau dari sini, Jauhi Andrea dan Mansion ini atau aku patahkan lehermu itu."
Tubuh Zigo terpental keluar gerbang, dia terseret di atas jalan hingga membuat pakiannya menjadi kotor. Ia beringsut, mengatur kembali napasnya, lalu membersihkan tangan dan bagian tubuhnya yang terkena kotoran, juga pakaiannya. Saat berbalik hendak pergi dia baru sadar jika mobilnya masih di dalam Mansion
"Oh s-hit!" Zigo berbalik lagi, menendang pada pintu tinggi yang di lapisi besi tebal itu dengan sangat keras. "Hei mobilku! Buka pintunya sialan!" Pria itu mengumpat keras, memaki tiada henti. "Bagaimana aku bisa kembali jika mobilku masih di dalam sana." Zigo menyapu wajahnya dengan kasar. Dia terus saja berteriak dengan menendang-nendang pintu gerbang itu meminta untuk di buka.
Sedetik setelahnya, pintu gerbang akhirnya di buka dan Demetrio keluar dengan mengendarai Alfa Romeo putih miliknya. Dia berhenti tepat di depan Zigo, setelah mematikan mesin dia mencabut kunci, keluar dan melemparkan kunci itu kembali ke arah pria berjulukan predator itu. "Terima kasih kasih untuk perjalanan singkatnya."
"Sialan!!"
Zigo mengumpat pada pria yang baru saja mengendarai mobilnya. Namun, Demetrio tidak menanggapinya, dia terlihat santai berdiri dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya, seolah tidak melakukan apapun kepada saudara sahabatnya itu. "Kau masih sama seperti dulu, selalu saja ceroboh. Kunci mobilmu itu harusnya kau ambil, jika kau biarkan begitu saja mobil kesayanganmu itu akan di curi."
"Kenapa kau selalu mencari masalah denganku, huh?"
"Aku?" Demetrio menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau yang selalu mencari masalah dengan kami. Kau selalu suka mengusik kebahagiaan orang lain."
Zigo terkekeh, dia menepuk tangan dengan wajah menyeringai. "Sepertinya aku mencium bau kecemburuan di sini?" Zigo meninju pelan pada dada kanan Demetrio. "Apa kau masih tidak ikhlas karena wanita yang kau cintai bersamaku sekarang?"