Endless

Endless
Chapter 40



Maafkan aku yah. Aku terlalu capek karena perjalann dan tertidur hingga melupakan Grazzy up nya. Kita mulai Grazy hari ini yeah.. Jangan lupa Like, komentar positif dan terus dukung karyaku, dengan Vote dan hadia kalian yeah.💜💜


Selamat weekend. 😫😒😍😋🙏💜.


Yang minta Visual akan ada di part berikutnya 👉





Andrea, mulai beraktifitas seperti biasa setelah beberapa hari istirahat karena luka akibat kecelakaan itu. Mansion terasa seperti kuburan, begitu kelam, sekelam mata sang pemiliknya. Seluruh Mansion seakan tiada penghuni. Arsula, si pembuat onar itu bahkan sama sekali tidak muncul. Dan Malvin, entah kemana dia. Andrea sengaja mencari alasan dengan berjalan-jalan menyusuri semua sisi Mansion. Namun, wajah pria bermanik hitam itu sama sekali tidak nampak.


Entah apa ini namanya, wanita berdarah meksiko itu tiba-tiba daja merindukan sosok pria yang selalu membuatnya tersiksa. "Apa mereka sedang melakukan perjalanan romantis?" Andrea berfikir jika ketiadaan kedua mahluk itu mungkin karena sedang berlibur. Mungkin saja mereka lelah dengan keberadaan Andrea yang seperti pengganggu.


Andrea menoleh dengan tersenyum pada sosok wanita yang usianya sekali di atasnya. Perempuan itu mendekat pada wanita yang baru saja menyapanya.


"Senang melihatmu baik-baik saja Andrea." Garilla tersenyum tulus seperti biasa.


"Apa yang terjadi? Mansion begitu sepi. Apa Nona Arsula berulah lagi. Aku tidak melihatnya beberapa hari ini," tanya Andrea bingung.


"Suasana Mansion akan seperti ini jika Signore sedang berburu."


"Berburu?" Andrea mengulangi ucapan Garilla, dia semakin tidak mengerti.


"Signore sedang ke Milan Andrea, dia dan Demetrio menemukan keberadaan Marco. Dan semoga pria gila itu segera di temukan agar Mansion kembali Normal seperti saat Nona Daisy masih ada."


"Kebiasaan bertanya mu itu tidak pernah hilang."


"Aku tidak akan bertanya lagi setelah kau menjawabnya," ucapnya bagikan janji.


"Sudahlah Andrea, itu tidak penting. Apa kau mau aku buatkan sesuatu untuk camilan?"


"Tidak, terima kasih," jawab Andrea sambil memegang perutnya.


"Baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaanku, kembalilah ke kamar Andrea, jangan melakukan apapun. Signore akan marah jika kau keluar dari kamar dan bekerja tanpa seijinnya."


"Apa dia pikir aku tawanannya!"


Garilla mengembangkan senyum lebarnya. "Kau adalah tawanan cintanya Sayang," gumamnya seraya berjalan pergi.


"Dasar wanita tua! Kau selalu saja menghayal akan hal yang tidak mungkin." Teriakan Andrea semakin membuat tawa Garilla mengeras, wanita tua itu terlihat sangat senang menggoda Andrea setelah kejadian dia memergoki Malvin yang selalu memberi perhatian kepada Aadrea.


Hening beberapa saat hingga akhirnya Andrea memutuskan kembali ke kamar Malvin. Wanita bermata abu-abu itu merebahkan kembali tubuhnya di kasur empuk milik sang majikan. Pikirannya sedang tidak fokus, dia berfikir keras tentang apa yang baru saja di sampaikan Garilla. Jika Malvin sedang berada di Milan untuk mencari Marco, lalu kabar tentang keberadaannya di Acapulco apakah itu bohong. Dan Arsula, mungkinkah Malvin membawanya? Bukankah dia kekasih Marco. Apa Malvin belum menyadari jika kekasihnya itu adalah iblis.


Semua itu berputar-putar putar di kepala Andrea hingga membuat Perempuan itu pusing dan akhirnya tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi, melihat Malvin yang berjalan ke arahnya dengan tersenyum. Pria itu menyingkirkan sejumput rambut yang menutupi wajah Andrea dan memberikan ciuman hangat di dahinya. Andrea tersenyum dalam tidurnya karena ciuman itu. Mimpinya begitu nyata. Wanita itu hanyut dalam mimpinya tanpa tahu jika itu adalah nyata. Karena pada kenyataannya Malvin memang berada di sampingnya sekarang.


Malvin Alexander