Endless

Endless
Chapter 94



Arsula Simon, itu adalah nama pada nisan yang Andrea lihat. Pukulan telak baginya, pria itu ternyata bukan tidak sengaja mengatakan pertanyaan yang sama padanya, tetapi memang sedang merindukan kekasihnya. Bukan kesal yang dia rasakan melainkan hanya alasan agar bisa pergi tanpa harus menunggu persetujuan Andrea.


Andrea mendesah. "Dasar pria bajingan."


Andrea meninggalkan pemakaman tanpa menyapa, bahkan hari yang sudah mulai gelap tidak memupus langkahnya untuk berhenti. Wanita Puelba itu melangkah tanpa mempedulikan bunyi klakson mobil angkutan yang berbunyi sedari tadi untuk menawarkan tumpangan. Dia bahkan memaki beberapa pria yang sengaja mengganggunya di jalanan. Entah langkah ini membawanya ke mana dia pun tidak tahu. Rasa kesal dan kecewa membuat pikirannya tertutup.


"Apa ini, apa kau sedang menguji kesabaranku? Ataukah kau sedang melihat apakah aku sanggup bertahan di atas begitu banyaknya kenangan manismu bersama Arsula?" Andrea membuang napas panjang. Langkah kakinya terhenti. Ia menunduk, memeluk kedua kakinya dengan erat lalu menangis dengan keras di sana. Tanpa dia sadari tangisannya mengganggu seseorang yang sedang terlelap di balik semak-semak.


"Oh Signorina, perché sei così rumorosa? (Oh Nona, kenapa kau berisik sekali.)"


Andrea terhentak kaget dan langsung terduduk. Ternyata tangisannya mengganggu seorang pria tua dengan baju yang lusuh yang sedang tertidur.


"Lo siento señor, perturbé su sueño. (Maaf Tuan, aku mengganggu tidurmu.)" Andrea menyapu air mata yang tersisa lalu berdiri dengan sedikit membungkuk.


"Apa kau orang Spanyol?" Pria tua itu bertanya saat mendengar Andrea yang berbicara dengan menggunakan bahasa Spanyol.


Andrea menggeleng. "Puelba, Meksiko. Aku berasal dari sana."


"Kau beruntung Nona, aku membebaskanmu karena sudah mengganggu tidurku. Jika saja kau adalah warga di sekitar sini, aku akan melaporkanmu karena telah mengganggu ketenanganku," ujar pria tua yang kemudian kembali melanjutkan tidurnya.


Andrea menelan kasar ludahnya, mata abu-abu sampai tak mampu berkedip saat mendengar dia akan di laporkan. "Ga--grazie Signore, scusa di nuovo (Te--terima kasih Tuan, sekali lagi maafkan aku.)


"Hmmm ...." Pria itu bergumam dengan senyuman tipis di bibirnya.


Tentu saja ancaman itu hanya gurauan. Mana mungkin dia bisa melaporkannya hanya karena tidurnya terganggu. Bahkan jalanan ini adalah tempat umum di mana semua orang bebas melakukan apapun. Pengemis seperti dia pun tidak akan mampu membuat laporan polisi.


Dan Andrea, gadis itu bergegas dengan langkah panjang meninggalkan pria tua yang sedang menertawakan ketakutannya. Jika saja dia dan Malvin tidak bertengkar dia tidak akan takut karena pria itu bahkan bisa memenjarakannya bahkan lebih dari itu. Namun, sekarang keadaannya berbeda, pria itu membuat dia kecewa. Jangankan meminta tolong nanti ketika dia tertangkap, untuk kembali ke Mansion saja dia enggan melakukannya.


"Apa di Verona tidak sengaja mengganggu orang akan di laporkan?" Andrea menggerutu di dalam hati. "Sungguh orang-orang di sini sangat suka menindas orang lemah."


Andrea kembali menangisi takdirnya, sungguh menyedihkan jika kau tidak memiliki orang terdekat di negara orang lain. Saat dia sedang mendalami kesedihannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wanita itu baru ingat jika dia memiliki ponsel, Malvin baru saja memberikannya karena takut jika sedang berada di kuar dia merindukan wanitanya.


"Oh God! Aku memiliki benda ini. Lalu kenapa tadi tidak menghubungi saja, kenapa harus datang dan mencari hingga melihat hal yang seharusnya tidak perlu di lihat." Andrea memijat pelipisnya, wanita berambut panjang itu membuang napas kasar. Menarik kembali napasnya dengan lembut sebelum menjawab panggilannya.


"Hallo Garilla. Ada apa?"


"Signora, anda di mana? Ini sudah gelap seharusnya anda sudah kembali sebelum Signore dan Demetrio tiba."


"Aku belum ingin kembali Garilla, sebentar lagi."


"Tapi Signora--"


"Kau ingin ke mana? Jangan melakukan hal aneh Andrea." Suara g


Garilla begitu tegas hingga dia lupa jika Andrea bukan lagi sahabatnya yang dulu, dia bahkan lupa memanggilnya dengan sopan.


Andrea tertawa di sana. "Hahahahah. Aku merasa sedang berbicara dengan sahabatku sekarang."


Menyadarinya, Garilla langsung menutup mulutnya. "Signora, maafkan kelancanganku. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


"Garilla, kita adalah sahabat sebelum semua ini terjadi. Tetaplah seperti itu aku mohon."


"Baiklah! Tetapi sekarang kau harus mengatakan padaku, di mana kau sekarang, untuk apa dompet itu, tempat mana yang ingin kau kunjungi. Signore akan membunuh kami jika dia datang dan kau tidak ada."


"Biarlah, dia bahkan pergi tanpa memberitahuku."


"Ayolah, Andrea. Jangan seperti anak kecil, katakan di mana kau. Aku akan menjemputmu."


"Aku tidak tahu ini di mana Garilla. Tetapi sepertinya masih dekat dengan area pemakaman. Tidak ada taksi di sekitar sini. Dan kau tahu seorang pria gila baru saja akan melaporkanku karena mengganggunya. "


"What? Daerah pemakaman." Garilla memekik keras. Bagaimana tidak, biasanya akan banyak pengemis tua yang berkeliaran di sana, mereka sering mabuk dan tertidur hingga pagi.


"Aw .... Pelankan suaramu Garilla."


"Andrea, kembali sekarang juga, aku mohon."


"Dengan siapa kau berbicara Garilla, di mana Andrea."


"Signore!"


Andrea menarik npas saat mendengar suara kekasihnya. "Aku tutup telponnya Garilla, jangan katakan apapun padanya. "


"No, tunggu!"


Tut ... tut ... tut ....


"Oh God!" Garilla memekik keras saat panggilannya terputus. Dan hari semakin gelap, jam sudah menunjukkan pukul 7. Jika dia tidak kembali, maka seperti yang diperkirakan Malvin akan membunuh mereka.


******


Note : Jangan lupa kasih dukungan kalian yah. Karena akan ada hadiah menarik untuk 3 top Fans saat angka Popnya sudah 1M nanti. Selamat membaca