
Malvin ingin sekali mencabik-cabik saudaranya yang sudah sangat tidak sopan mengatakan tentang menggugurkan kandungan. Jika Demetrio tidak menahannya mungkin saja dia sudah mematahkan lehernya.
"Apa kau ingin aku asingkan dari italia?"
"Memangnya apa salahku? Aaah ...." Zigo merintih saat merasakan tulang rahangnya yang sepertinya patah.
Malvin dan Demetrio menendang dan mengantamkan pukulan tiada henti padanya. Untung saja dia adalah seorang Mafia, berkelit dari peluruh sudah biasa apalagi pukulan, itu adalah keahliannya. Namun, tetap saja. Pukulan Malvin tidak pernah meleset, Zigo selalu kalah jika berhadapannya dengannya. Dan akhirnya, dia kembali medapatkan darah segar dari dalam mulutnya.
"Aku minta maaf jika salah bertanya." Lelaki itu terlihat sangat kesakitan saat bicara. Dia menyadari jika memang sudah salah berbicara.
Paris melangkah panjang setelah menenangkan Andrea. Di benaknya saat ini adalah wajah tidak berdosa Zigo yang membuatnya semakin geram. Predator itu selalu saja tidak tahu tempat, dia selaku mengatakan apa yang dia pikirkan tanpa menyaringnya lebih dulu.
"qAaaahh ...." Sekali lagi Zigo merintih kesakitan. Paris menendangnya tepat pada tempat yang baru saja di tinggalkan oleh Malvin. "Sayang!"
"Seharusnya kau ku kuliti lalu ku tinggalkan di hutan belantara agar menjadi santapan hewan buas," ujarnya dengan mata yang sudah memerah dan suara yang bergetar. Paris mengeluarkan ******* panjang menandakan jika dadanya benar-benar sesak.
"What?" Zigo sedikit bergidik mendengar ancaman Kekasihnya. "Begitu teganya kau mengatakan semua itu padaku.
"Kau memang pantas mendapatkannya."
"Oh God! Paris. Itu kalimat yang paling menyakitkan yang pernah aku dengar dari mulutmu."
Demetrio terkekeh melihat bagaimana Zigo tidak berkutik di depan Paris. Namun, sedetik setelahnya dia meubah kembali wajahnya menjadi datar saat tatapan Paris beralih padanya.
"Begitukah caramu mengusir saudaramu sendiri? Zigo berteriak pada pria yang memiliki manik hitam itu. Namun, Malvin tidak peduli, dia berlalu pergi tidak pusing dengan teriakan Zigo. "Dasar Pria kejam!"
Demetrio yang berada di belakang Malvin pun turut mengikuti langkah majikannya. Namun, saat melewati Paris, perempuan itu menahannya.
"Dem."
Demetrio menatap lengan yang di pegang oleh Paris kemudian beralih menatap wajah wanita yang dulu sempat dia elu-eluhkan. "Sì. Apa ada yang kau butuhkan Nona Paris."
Paris menatap demgan ekspresi kaget karena Demertio memanggilya dengan sangat formal. Perempuan berdarah rusia itu menggeleng pelan. "Ti-tidak ada."
"Jangan bicara padanya Paris, aku tidak menyukainya," potong Zigo dengan cepat. Dia tidak ingin kekasihnya kembali berhubungan dengan pria yang pernah menyukainya.
"Aw ...." Zigo kembali memekik. "Kenapa kau menamparku Sayang?"
"Itu karena mulutmu! Mulutmu yang tidak bisa kau jaga!" ucap Paris sedikit berteriak.
"Maaf! Jika tidak ada yang ingin kau katakan aku mohon pamit untuk masuk," ujar Demetrio memotong pembicaraan sepasang kekasih itu. Pemandangan seperti itu sungguh sangat menyakiti harga dirinya. dia sedikit membungkuk, sebelum akhirnya berlalu masuk mengikuti Malvin. Meski dalam hati ingin sekali menyapa Paris. Namun dia menahannya karena tidak ingin kembali mencolek luka yang di buat oleh wanita itu. Dia juga tidak ingin di katakan mengambil kesempatan oleh predator itu.
"Apa Demetrio mengajarimu untuk mengasariku? Ku perhatikan kau menjadi sangat kasar akhir-akhir ini." Zigo mengatakan itu dengan lirikan yang tajam ke arah pria yang hanya terlihat punggung belakangnya.
Paris memutar kedua bola matanya malas. Ia memalingkan wajahnya. Dia hafal betul dengan tingkah laku pria di depannya. Merubah seseorang itu ternyata lebih susah dari pada mencintainya.