
"Kau makan dengan sangat lahap Tuan Elio."
Zigo mengangkat kepala dengan tergesah-gesah menoleh pada wanita yang melangkah dengan anggun menuju ke arahnya. Andrea yang muncul sambil menggandeng lengan Malvin sempat membuatnya tergagap. Apalagi saat melihat tatapan mata Andrea yang begitu dingin mengarah padanya.
"Sedang apa kau di sini?" ujar Andrea dengan nada yang sangat sopan. Namun, tidak dengan tatapannya.Itu dangat tidak sopan hingga hampir daja membuat Malvin mengeluarkan tawa karena ekspresi yang di berikan Zigo sangat di luar dugaan.
"Aku ...." Zigo tergagap. Tenggorokannya seperti tercegat karena Andrea yang muncul tiba-tiba. Semua kalimat perminta maaf yang ia hafal berkali-kali hilang seketika. "Andrea aku-"
"Jika hanya ingin menyampaikan hal-hal yang menyakitkan, lebih baik kau enyah dari sini," potong Andrea dengan cepat.
Dengan wajah tanpa dosa dan polos Zigo berkata. "Andrea, bukankah kita adalah keluarga, aku datang untuk meminta maaf karena sudah mengatakan kata-kata yang kasar dan tidak baik padamu. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."
"Kau menyesal?" Andrea menyela dengan cepat. Nada suaranya pelan. Namun terdengar sangat dingin.
"Sepertinya perang ini akan terus berlanjut," gumam Zigo pelan. Akan tetapi masih terdengar oleh Malvin dan juga Andrea bahkan Garilla yang sedang merapikan atas meja juga bisa mendengarnya.
Malvin bahkan menahan tawanya. Karena pada kenyataannya Sikap kasar Andrea hanya pura-pura saja, dia sudah tidak lagi marah karena Malvin sudah menenangkannya sebelum mereka keluar. Namun, karena masih kesal dengan Zigo Andrea meminta ijin untuk mengerjai saudara kekasihnya itu. Dia mengatakan jika pria menyebalkan seperti Zigo harus di kasih sedikit pelajaran agar tidak seenaknya. Andrea ingin membuat Zigo jerah dan tidak lagi mengganggunya.
"Garilla, bisa kau siapkan makan siang kami?" Malvin segera memotong pembicaraan. Dia merasakan firasat yang buruk. Sepertinya ini akan keluar dari adegan yang sudah di sepakati.
"Si, Signore. Segera aku siapkan."
"Grazie," ucapnya berterima kasih untuk wanita tua yang sudah puluhan tahun ini selalu menyajikan makanan lezat untuknya.
"Signora, apa ada sesuatu yang ingin kau makan? Katakan saja aku akan mebuatkannya untukmu," ujar Garilla kepada Andrea. Kehamilannya membuat Garilla harus berhati-hati dalam memberikan makanan untuknya.
"No Garilla. Aku akan makan apa saja yang kau sajikan."
Mendengar itu Zigo langsung menawarkan makananya. Mungkin saja Andrea akan luluh dengan sikap baiknya itu. "Kau ingin mencoba Gnocchi ku Andrea? Ini sangat enak. Garilla yang membuatkannya untuk ku. Aku yakin kau pasti suka."
Andrea tersenyum kaku. "Apa ini termasuk dalam rencana untuk merayuku?"
"Jika bisa anggaplah seperti itu." Zigo mengedipan satu matanya. Dan itu sontak membuat Malvin tertawa dengan keras. Namun, tidak dengan Andrea.
plak
"Awh ....!" Zigo memekik sambil memegangi kepala yang di pukul dengan keras oleh Andrea. "Ada apa? Kenapa kau memukulku?"
"Hentikan atau aku cungkel matamu."
"Oh God! Mengerikan sekali wanita ini." Zigo menoleh pada saudaranya. "Apa kau yang mengajarkannya."
"Makanlah Sayang, abaikan dia. Anggap saja di depanmu hanya ada kursi yang kosong," ujar Malvin saat Garilla selesai menyajikan makan siang mereka. Dengan cekatan dia menaru lauk di atas piring kekasihnya membuat Andrea tersenyum dan memberikan 1 kecupan di pipi kekasihnya.
"Grazie Sayang."
"Hei! Kursi kosong itu ada penghuninya, berhenti bermesraan di depan mataku. Apa kalian tidak kasihan padaku, aku baru saja di usir oleh kekasihku." Zigo menatap kesal pada dua mahluk yang terus bermesraan di depan matanya.
Andrea sekilas melirik ke arah Zigo. "Apa kau masih akan di situ dan melihat adegan romantis kami yang lain Tuan Elio." Andrea mengatakannya dengan lantang. Namun, sejujurnya itu sangat memalukan. Dia terlihat seperti wanita penggoda saat mengatakannya. Dia membatin dan berharap Malvin dan Zigo tidak berfikir sama sepertinya.
Zigo tampak kaget, ia mengedipkan matanya berkali-kali. "Kekasihmu sungguh terlihat seperti Dewi kematianku."