Endless

Endless
Chapter 78



1 month later




"Bagaimana?"


"Tidak ada siapa pun di sini Signore. Tempat ini kosong, sepertinya mereka baru saja pergi."


Malvin menutup panggilannya, kembali menelan pil pahit. Dalam satu bulan ini sudah beberapa tepat mereka datangi namun kedua boronan itu sama sekali tidak di temukan. Sella selalu menjelaskan tempat yang sama akan tetapi setiap mereka datang selalu tidak menemukan apa pun. Malvin yang baru sadar, dia melangkah panjang ke arah salah satu anak buahnya yang akhir-akhir ini terlihat selalu berada di sekitar dia. Dia bahkan bingung, kenapa akhir-akhir ini selalu terlihat lemas dan tidak bertenaga.


Pria itu terhentak kaget saat senjatanya di ambil alih bersamaan dengan tubuhnya yang di hantam hingga tersungkur. "Beraninya kau mengecoh seorang Malvin."


Demeterio dan Agrio yang baru tiba berlari menuju ruang makan saat mendengar bunyi tembakan. "Signore apa yang terjadi?"


"Sejak kapan kalian tidak peka melihat ada orang baru yang menyelinap masuk ke dalam kelompok kita."


Demetrio menurunkan pandangan. "Maafkan aku, itu kesalahanku."


"Jika terus seperti ini maka kita tidak bisa menemukan mereka." Malvin menggelangkan kepala saat penglihatannya mulai kabur. "Dia sudah cukup kuat untuk menuntun jalan."


Mengerti dengan yang di ucapkan Malvin, Demetrio dan Agrio pun bergegas untuk bersiap-siap.


****


Seorang pria dengan hoddi hitam dan topi berjalan menelusuri gang-gang kecil yang sempit. Sambil merokok pria itu melangkah dengan waspada tenggelam di antara gedung-gedung pencakar langit menuju sebuah perumahan kumuh yang gelap. Tidak ada cukup matahari yang masuk ke sana, hanya tersinari lampu-lampu juga di ramaikan dengan lalu lalangnya orang-orang dengan tingkat sosial yang cukup.


"Tuan!."


"Hallo Santos." Arsula menyapa dengan sensual.


"Apakah tanganmu sudah lebih baik Nona?" tanya pria bertopi hitam yang duduk sambil menghembuskan asap dari sisa rokok di tangannya.


"No! aku sangat menderita di sini, di mana pun ada banyak nyamuk."


Santos mengerutkan kening karena jawaban Arsula yang tidak sesuai dengan pertanyaannya.


"Bisakah kau memindahkanku kami ke tempat yang lebih baik, atau kita kembali saja ke Mansion mu Marco."


"No! Arsula, jangan konyol. Malvin akan menangkap kita berdua jika kau melakukan hal bodoh lagi."


"Lantas aku harus bagaimana, tempat kumuh ini membuat ku hampir gila. Tidak ada makanan, tidak ada internet. Aku bahkan tidak bisa mabuk bersama teman-temanku."


"Kita harus bertahan di tempat ini sampa semua rencana kita berhasil, karena jika Malvin menemukan kita, maka semuanya akan hancur. Kau mengerti!"


"****," umpat Arsula menyandar kasar punggungnya di atas sofa yang sama sekali tidak empuk. "Aku ingin kau mengganti semua perabotan di rumah ini. Itu akan sedikit lebih baik."


"Si, kami akam memggantinya Nona," jawab Santos dengan cepat.


"Apa ada berita menarik yang ingin kau sampaikan padaku."


Santos menggeleng. "Aku tidak bisa bergerak, Demetrio dan anak buahnya ada di mana-mana. Aku hanya bisa mengarahkan orang kota yang menyelinap ke kelompok Malvin dari jauh," ucapnya menyerahkan beberapa lembar foto Sella yang di ambil anak buahnya dari jarak jauh.


"Sella! Apa Malvin menemukannya? Pantas saja di tidak kembali. Aku pikir dia melarikan diri karena tidak ingin terkena masalah."


Marco mengangkat wajahnya menatap Arsula. "Kau selalu memganggap orang yang menghilang telah melarikan diri darimu."


"Aku tidak menyindirmu," ucapnya dengan tatapan terlempar keluar, dari kamar dia menatap daun kering yang yang berguguran di luar jendela.


Marco mematik untuk menghidupkan rokoknya.


"Berhenti bertingkah seperti anak kecil Arsula. Itu tidak cocok dengan karakter kasarmu."


"Kau harus membuat Malvin merengek di bawah kakiku meminta kekasihnya kembali," ucap Arsula dengan kesal. Dia berdiri mengambil tasnya dan berjalan melewati Marco.


"Mau kemana kau?" tanya Marco menahan tangan Arsula membuat langkahnya terhenti.


Arsula mencoba melepaskan. "Aku hanya ingin sedikit menghirup udara segar."


"Kau tahu apa akibatnya jika kau terlihat oleh kelompok Dio della morte."


Arsula memutar bola matanya malas. "Aku tahu, tidak perlu mengingatkanku dengan tatapan seperti itu."


"Aku hanya tidak ingin semua rencana kita gagal karena keegoisanmu itu. Jika kau tertangkap maka aku juga akan ikut terseret bersamamu."


"Shut up," teriak Arsula menepis tangan Marco dengan keras. Dia menghentakan kaki sebelum kembali ke tempat duduknya. "Ini seperti ruang tahanan."


••••••


Jangan lupa mampir ke sini yeah. Ada yang baruuuuu. wkwkwk. maaf promo mulu.



angan lupa mampir yah.