
Flash back part 3
Malam itu setelah Marisa mabuk dan tidak ingin pulang, Demetrio membawanya ke hotel. Entah harus dia apakan wanita itu karena Marisa yang terus merancau dengan kalimat-kalimat aneh. Wanita arogan itu bahkan mengumpatinya karena terus membuatnya kesal, sedetik setelahnyaa dia mengatakan jika menyukainya lagi. Terus mengulang seperti itu hingga membuat senyum di bibirnya tidak berhenti mengembang.
"Marisa hati-hati, kau bisa terjatuh." Demetrio menahan tubuh Marisa yang hendak jatuh menimpahnya.
"Dasar pria dingin, kenapa kau terus membuat ku kesal. Apa kau tidak tahu jika menyukai seseorang yang kaku sepertimu itu menyedihkan? Kau terus saja menganggapku pengusik padahal aku hanya ingin mengenalmu."
Demetrio terperangah, tawanya hampir saja pecah mendengar rancauan Marisa. "Jika kau ingin mengenalku, kenapa kau terus berkata kasar padaku."
"Itu karena aku malu. Bugh ...." Bermaksud naik ke atas tempat tidur, Marisa malah jatuh menabrak kursi yang ada di depannya. "Aaah. Kepalaku!" Marisa memajukan bibirnya dengan wajah yang cemberut sambil mengelus kepalanya yang terbentur tangan kursi.
Bukankah sudah ku katakan untuk hati-hati tadi." Demetrio mengulas senyum sambil mengelus kepala Marisa. "Apa sakit?"
"Stop! .... Ugh." Marisa bersendawa. Ia tertawa menyadari hal itu.
Namun, berbeda dengan Demetrio, wajah pria itu menegang saat jemari lentik Marisa berada di bibirnya. Bertambah semakin berdebar jantungnya saat Marisa mulai mendekatkan wajah padanya. "Ma--Marisa apa yang ingin kau lakukan."
"Apa kau gay?"
"Uhuuk ...." Seketika Demetrio terbatuk, ia menjauhkan wajahnya dari Marisa untuk mengambil jarak. "Apa kau bilang! Gay? Dasar gila!" Demetiro mendorong kepala Marisa menjauh darinya. "Aku pria normal."
Marisa tertawa, ia memegangi pipi Demetrio dengan kedua tangannya. "Lalu kenapa kau begitu dingin dan kaku, apa wanita sepertiku tidak menarik perhatianmu?"
Demetrio kembali tertawa kecil. "Apa yang kau inginkan dari ku."
Marisa menampilkan raut wajah menggoda. Ia menarik kerak baju pria itu mendekatkan wajah kepadanya. "Dirimu!"
Tubuh keduanya lalu jatuh di atas ranjang dengan posisi Demetrio dibawah. Tanpa menunggu ijin, Marisa menaiki tubuh Demetrio dan mencium bibirnya. Marisa benar-benar mabuk parah. Ia tidak sadar jika yang ia lakukan akan berakibat fatal.
"Marisa, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini?"
"Hentikan Marisa, atau kau benar-benar akan menyesal."
Dalam setengah kesadarannya Marisa menjawab. "Aku tidak akan menyesal jika itu adalah dirimu."
"Apa kau ya-- argh." Demetrio mengerang putus asah saat Marisa meremas benda berharga miliknya.
Marisa semakin menggoda Demetrio, ia menggesekan dengan lembut sambil memberi ciuman pada sudut bibir Demetrio yang hampir saja ia gigit karena sedang menahan diri.
"Jangan salahkan aku, karena kau sendiri yang memulainya." Demetrio membalas pagutan Marisa. Sedikit kasar dengan napas yang memburu. Ciuman itu akhirnya menjadi semakin menuntut. Tubuh keduanya manjadi sangat panas hingga menuntut tangan mereka untuk melepaskan pakaian.
"Aaaah ...." Tubuh Marisa melenguh Saat tangan Demetrio tidak sengaja menyentuh titik rangsangannya.
Demetrio membalikan posisi dengan tubuh Marisa berada di bawahnya, jarinya menyingkirkan sejumput rambut yang sedikit menutupi wajah wanita pelukis itu.
Demetrio mengigit bibir bawah Marisa lalu menslusuri tubuh wanita itu dengan menggunakan bibirnya. Marisa mengerang saat merasakan bibir pria itu mengecup di bagian pahanya. Tanpa melakukan pemanasan ia memasuki tubuh Marisa dengan pelan dan lembut. Menggerakan pinggulnya perlahan karena sepertinya ini adalah pengalaman Marisa yang pertama.
Dan benar saja, saat kulit tipis itu Demetrio tembus. Marisa memekik merasakan sengatan yang luar biasa hingga tubuhnya bergetar. Merasakan tubuh wanitanya bergetar, Demetrio membelainya dengan memainkan pada puncak dadanya. Cukup liar pria itu melakukannya dengan sedikit meremasnya. Sangat bergelora, Namun, sedikit kaku. Mungkin karena sekian lamanya ia membiarkan tubuhnya hampa tanpa sentuhan wanita.
"De-Demetrio ...." Marisa memanggil nama kekasihnya karena merasa cukup kesakitan saat pria itu bergerak dengan gerakan yang sedikit cepat. "Aku sepertinya ... Aaahh."
Marisa mengerang keras saat Demetrio menekan lebih dalam. Rasanya ia sekan ingin meledak, di terjang oleh perasan nikmat yang belum pernah ia rasakan. Marisa meremas rambut Demetrio yang lebat. "Lebih cepat."
Demetrio mengerang karena bagian tubuhnya yang di jepit oleh Marisa, ia menambahkan tempo gerakannya lebih cepat sesuai permintaan wanita yang matanya berkabut dengan napsu membara, hingga keduanya meledak bersama-sama.
Demetrio berpindah dan tidur di samping Marisa dengan jarak yang masih samgat dekat. "Kenapa kau memberikannya padaku?"
Marisa meletakan kedua telapak tangannya di dada Demetrio. "Karena aku baru sadar jika kau serius denganku sejak kau mengatakan tidak ingin pria lain menyentuhku."