Endless

Endless
Chapter 48



"Aku bertanya sekali padamu Arsula Simon. Apa kau bersama Marco merencanakan semua ini?"


Arsula masih beringsut di tanah ketika suara keras Malvin kembali terdengar. Tetap terdiam tanpa suara.


"Apa kalian menikmatinya? Huh! Katakan apa kalian menikmatinya!!"


Arsula menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak melakukan apapun."


"Kau wanita yang luar biasa, kau bisa bersama ku dengan begitu tenang setelah membuat adikku mengakhiri hidupnya."


"Ini hanya salah paham Baby, aku sama sekali tidak melakukan apa pun kepada Daisy, aku bersumpah demi kedua orang tuaku."


"Kau pikir kau berharga, huh! Kau tidak lebih dari seekor hewan yang di telantarkan oleh induknya. Aku memungutmu, menjadikanmu wanita terhormat di Verona, dan sekarang kau bersumpah membawa keluargamu untuk melindungi bajingan itu!"


Malvin menangkup dagu Arsula. "Apa kau memberikan tubuhmu yang tidak berharga ini untuk dia tiduri?"


"Tidak Malvin, tidak sama sekali."


Malvin membuang napas kasar, berdiri dengan menahan emosi yang dia simpan dengan cukup lama. Dia sendiri tidak yakin bisa membuat wanita di depannya untuk mengakui semua perbuatannya. Percuma saja baginya terus memaksa, karena sepertinya Arsula tidak berniat memberitahukan apapun padanya. Jalan satu-satunya dia harus menemukan Marco, agar teka teki ini bisa terjawab.


"Renungi semua kesalahanmu. Dan katakan semua yang terjadi saat aku kembali lagi."


"No Baby! Jangan tinggalkan aku sendiran di sini. Ku mohon lepaskan ikatan ini, rasanya sakit."


"Kesakitan yang di rasakan Adik ku lebih dari pada ini."


"Bukan aku yang melakukannya Malvin, tetapi Marco. Seharusnya kau melakukan ini padanya bukan padaku!"


Malvin terkekeh. "Kau masih saja terus menyalahkan orang lain Arsula, seharusnya kau menyadari semua kesalahanmu dan mengakuinya. Itu akan lebih baik untukmu."


Air mata Arsula mengalir deras. dia bergeser dengan kedua lututnya untuk mendekat di bawah kaki Malvin. "Aku minta maaf untuk semua kesalahanku, aku mengakuinya. Maafkan aku Baby, aku benar-benar menyesal."


"Benarkah, kau menyesal?"


Arsula mengangguk dengan wajah penuh air mata. "Aku akan mengakui semuanya."


"Kalau begitu ceritakan semuanyanya dari awal. ceritakan Apa yang kalian lakukan pada adik ku."


Arsula memalingkan wajah dari tatapan Malvin, menunduk hingga wajah cantiknya tidak terlihat oleh kekasihnya.


"Hari itu, aku dan Daisy membuat janji untuk bertemu dengan Marco. Namun, sebelumnya Marco berencana untuk mengundang Andrea ke restoran itu dan memutuskannya di sana. Daisy melihatnya, melihat bagaimana Andrea tersenyum saat bertemu Marco. karena sakit hati, dia berlari meninggalkan restoran dan kami memutuskan untuk kembali ke Mansion."


Arsula perlahan mengangkat wajahnya, menatap manik hitam Malvin yang begitu teduh. Malam ini pria itu benar-benar berbeda. Dia menatap ke arah Arsula tanpa berkedip.


Andrea menelan ludah dengan sangat susah. Tenggorakannya terasa kering, mengingat terakhir dia di seret ketika sedang mabuk. "A-apa aku bisa mendaparkan segelas air, tenggorokan ku terasa perih."


"Kau akan mendapatkannya saat ceritamu sudah selesai."


"Tapi Baby tenggorokanku terasa sakit."


"Lanjutkan! Atau darah yang akan memenuhi tenggorokanmu itu."


Mata Arsula terbuka dengan sempurnah, begitupun dengan seseorang yang mendengar dari kejauhan.


"Kami tiba di Mansion dengan Daisy yang terus merengek. Aku mencoba menenangkannya. Namun, dia terus mengatakan ingin menemui Marco. Aku menghubungi Marco dan menyarankan beberapa hal kepadanya, tidak ku sangka dia akan mengatakan semua yang aku sarankan kepada Daisy."


"Apa yang kalian katakan!"


"Bahwa Marco tidak mencintainya, dia hanya menganggapnya teman. Dan wanita yang dia lihat di restoran adalah kekasihnya."


"Kau dan Marco membuat seakan-akan Andrea yang bersalah?" Malvin terkekeh seketika. "Untuk itu kau memaksa agar Andrea segera di bawah ke Verona agar kau bisa menyiksanya alih-alih membalas dendamku melainkan karena rasa sakit hatimu karena dia adalah kekasih Marco."


"Aku melakukannya karena terpaksa Malvin, Marco mengancam akan membuat karirku hancur jika aku tidak membantunya."


"Sesederhana itukah alasanmu membuat hidup orang lain menderita? Kau mengenalku lebih dari siapapun Arsula, keinginanmu adalah keinginanku. Kau bisa meminta bantuanku tanpa harus menyakiti orang terdekatku! Apalagi Andrea."


"Aku tahu, itu salah. Aku mengakuinya."


Pengakuan Arsula yang seakan tidak sedang melakukan apapun itu membuat Malvin geram, dengan cepat dia melepaskan 1 tamparan ke arah Arsula, perempuan itu menjerit karena kesakitan. Tamparan Malvin membuat bagian bibirnya pecah hingga mengeluarkan darah.


"Kau akan membayar setiap tetes darah yang menyelimuti adikku, kau akan mendapatkan dendam dari semua duka hatiku, dan kau akan mendapatkan penyiksaan tiada henti karena telah membuatku begitu hancur."


Teriakan Malvin menggema keras hingga burung-burung yang bertengger mencari tempat teduh untuk menikmati dinginnya malam dengan cahaya rembulan itu kaget lalu berterbangan dengan ramai.


Malvin begitu terpuruk selama ini karena belum juga membalaskan dendam untuk adiknya, dia berkelana mencari kesana kemari tanpa mengenal lelah, menyiksa siapapun yang dia tahu memiliki hubungan dengan musuhnya. Dia menyiksa orang yang sama sekali tidak bersalah demi memuaskan hasrat balas dendam tanpa menyadari jika musuhnya begitu dekat dengannya.


Malvin mengarahkan senjatanya tepat di kepala pemilik rambut perak itu, hatinya benar-benar hancur saat ini. "Aku hidup untuk hari ini Arsula, kau pun tahu itu. Di mana aku merasa puas karena menghabisi nyawa musuhku tanpa belas kasihan."


"Tidak Baby, tidak. Maafkan aku, aku mohon jangan lakukan ini."


Dor ....


"Aaaaaahh." Arsula menjerit keras saat peluru Malvin menembus kulit tangannya. Napas wanita itu hampir terhenti, Arsula mengeram seperti orang yang akan sekarat.