
Karena hari ini rame sama pengunjung. aku tambahin 1 part lagi untuk kalian. Sebelumnya terima kasih yah sudah mampir. And terima kasih juga buat yang bantuin promo. Semoga rezeki selalu ngalir padamu beb.
•
•
•
•
Segarnya angin membuat Andrea sejenak lupa dengan rasa sakitnya, dia berdiam di taman sambil merenungkan semua kejadian yang menimpahnya. Di sana banyak pohon-pohon besar yang tumbuh. Ada 1 pohon mapel yang tumbuh disana, itulah tempat di mana Andrea sering menyendiri, menangisi kepahitan hidupnya sampai ia tertidur.
Tubuh wanita yang lebam itu terlihat kurus dan pucat itu memejamkan mata, menikmati angin yang bertiup. Meski sesekali dia akan meringis saat angin bertiup lembut menyapu permukaan kulitnya yang luka. Bukan hal yang mudah bagi Andrea untuk bertahan di tempat ni. Tidak ada yang tahu betapa menderitanya dia, tidak ada yang tahu seberapa tersiksanya dia, bahkan Ayahnya pun tidak peduli akan penderitaannya.
"Signore?"
"Ssssttt." Malvin memberi isyarat pada Demetrio untuk diam. "Kembalilah, aku akan berjalan sebentar." ucapnya berjalan menuju titik di mana dia melihat sesuatu.
Langkah kaki Malvin semakin cepat, hanya sedikit cahaya yang masuk dari sela-sela pohon yang besar, itu yang membuat keadaan sekeliling terlihat sedikit menyeramkan. Dan tentu saja tidak ada pelayan yang berani menginjakkan kaki di tempat ini karena sangat dekat dengan Gajebo yang selalu Malvin gunakan untuk menyendiri, terkecuali seseorang.
Pria yang memiliki manik hitam pekat itu memperhatikan Andrea beberapa saat hingga fokus matanya beralih pada lengan Andrea yang memar juga bengkak. Ada sedikit perasaan bersalah karena membiarkan Arsula terus menyiksanya. Namun, mengingat kesakitan yang di rasakan Daisy, membuat pria itu kembali membuang rasa bersalahnya.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?"
Andrea tersentak kaget, dengan segera dia berdiri merapikan pakiannya. "Signore?"
Perempuan itu kembali was-was saat Malvin mulai berjalan ke arahnya. "Menjauh dariku." pinta Andrea. Dia tidak ingin melawan, tenaganya sudah terkuras habis saat terakhir Arsula menyiksanya.
"Aku tidak tahu tempat ini terlarang!" Andrea meronta dengan sisa tenaganya.
"Memohonlah lebih baik, agar aku bisa memberi keringanan untukmu."
Andrea menahan air matanya, dia membalas tatapan itu lekat, memberitahu lewat mata abu-abunya bahwa dia tidak bersalah. "Kenapa? Kenapa kau lakukan semua ini padaku. Apa salahku! Apa yang sudah aku lakukan padamu!"
"Jangan bersandiwara di depanku Andrea, kau dan Marco, kalian harus merasakan akibat dari perbuatan kalian."
"Marco yang melakukannya bukan aku. Aku bahkan di buang dan di campakan oleh pria itu, lalu kenapa harus aku yang menanggung semua dosanya."
Malvin kembali tertawa. "Kenapa harus kau jelaskan padaku, aku tidak menginginkan penjelasan darimu. Aku menginginkan tubuhmu Andrea, seperti saat Marco menginginkan tubuh Adik ku."
Mata Andrea membulat kaget, wanita itu menggeleng dengan air mata yang berderai. "Kenapa harus aku, kenapa? bukankah semua ini kesalahan Marco, aku mohon lepaskan aku." Gadis itu terus meminta memohon agar Malvin melepaskannya.
"Itu karena kau dan kekasihmu bergembira di atas penderitaan adik ku, karena kalian dia meninggalkanku!"
Perempuan itu terus menggeleng, meronta mencoba melepaskan diri dengan sisa tenaganya yang ada.
"Kau harus membayarnya, bahkan kerja kerasmu seumur hidup tidak akan bisa membayar semua hutangmu padaku."
"Aku tidak melakukannya, aku tidak melakukannya ... Bukan aku! Bukan aku ...!"
Tangisan Andrea semakin pecah saat Malvin menghempaskan tubuhnya dan jatuh ke tanah. Dia menangis meraung-raung di sana, mengatakan dengan keras bahwa dia tidak melakukan apapun.