Endless

Endless
Chapter 141.



Sepeninggalan Demetrio, Marisa juga pamit, waktu sudah mulai sore dan dia harus segera menyiaiapkan makan malam untuk keluarganya. Sudah lama mereka tidak makan dengan anggota keluarga yang lengkap seperti ini. Di tambah lagi sekarang ada dua personil baru yang akan bergabung. Tentu saja satu pengawal itu tidak di hitung oleh Marisa. Ia hanya menghitung Malvin dan calon keponakannya.


Ngomong-ngomong soal pengawal, Marisa baru sadar jika Demetrio belum kembali setelah dia meminta ijin untuk keluar. "Kemana pria dingin itu, apa dia sedang membuat bunga-bunga di taman menjadi beku?" Marisa merinding kedinginan memikirkan kenyataan bunga-bunga akan menjadi es seperti yang ia tonton di film Frozen.


"Marisa!"


"Sì." Marisa menyahut, perempuan bermanik cokelat itu menoleh dengan tersenyum saat Malvin mendekatinya.


"Maaf, apa kau melihat Demetrio? Maksudku sahabatku yang datang bersamaku tadi."


Marisa sedikit berfikir. Namun, dia kembali sadar jika yang di maksud Malvin adalah Demetrio pria si wajah es. "Ow, apa yang kau maksud adalah pria dingin itu?"


Malvin menyahutinya dengan tertawa. "Kau melihatnya? Tuan Lazaro mengundang kami untuk menyantap makan malam. Akan tetapi aku tidak bisa menemukannya dari tadi."


Marisa menepuk pundak calon iparnya. "Tenang saja, aku akan membantumu untuk mencarinya. Mungkin saja, dia tertitur di taman samping. Angin di sana cukup enak apalagi hamparan bunga yang tumbuh membuat sekitarnya harum, orang akan cepat tertidur jika berada di sana. "


Malvin mengangguk. "Grazie, Marisa."


Beberapa menit setelah itu, Marisa pun bergegas menuju taman. Seingatnya Demetrio mengatakan ingin ke sana tadi. Marisa tersenyum saat ujung netranya melihat sosok pria yang ia cari. Ia segerah melangkah ke bawah pohon di mana pria dingin yang sedang menikmati hamparan bunga yang mulai meredup karena hari yang sudah mulai gelap itu berdiri.


"Bunga-bunga itu akan menjadi es saat melihat wajahmu Tuan Ruiz."


Demetrio menghentikan langkahnya sesaat. Tanpa melihat pria dengan wajah dingin itu sudah bisa tahu siapa yang berbicara dengannya. Demetrio terkekeh, apalagi nada suara Marisa seakan sedang mengejek karena raut wajahnya yang terlalu datar.


"Menurutmu?"


"Kalau begitu artinya tidak. Lagi pula aku bukan gunung es yang bisa membekukan semua yang ada di sekitarku."


Marisa tersenyum di dalam hati. "Bahkan senyummu bisa membuatku beku," gumam Marisa pelan.


"Maaf apa anda mengatakan sesuatu Nona Marisa?" Demetrio menatapnya dengan begitu intens, suara bisikan Marisa melewati pendengarannya. Namun, itu terdengar tidak jelas.


Merasa gugup dengan tatapan pria dingin itu, ia lalu berdehem, kemudian mundur dan menetralkan kembali perasaan canggung yang tiba-tiba datang. "Ti-tidak!" Marisa mengelak. Jika Demetrio benar-benar mendengar suara gumamnya maka itu akan sangat memalukan.


"Benarkah?" Demetrio sedikit berfikir, matanya menyipit. Jelas-jelas dia mendengar jika wanita di depannya mengatakan sesuatu. Namun, itu terdengar samar di pendengarannya. Demetrio memelototi Marisa, wajah cantik wanita itu terlihat sedikit ketakutan. "Lalu sedang apa kau di sini, Nona Marisa. Apa kau sengaja mengikutiku?"


"Aku mengikutimu?" Marisa menunjuk wajahnya sendiri, bibir tipisnya mengulas senyum hambar, menahan untuk tidak tertawa dengan lelucon yang barus saja ia dengar. "Selain berwajah dingin, kau ternyata cukup percaya diri tuan Demetrio Ruiz. Aku hanya mencarimu karena Ayahku dan juga yang lain, sedang menunggumu di ruang makan. Buka karena menguntitmu."


Demetrio menaikan sebelah alisanya. "Menungguku?"


"Si," jawab Marisa singkat. "Maka dari itu bergegaslah, jangan sampai mereka juga akan menjadi beku menunggu kedatanganmu." Marisa segera berlalu pergi setelah mengatakan itu.


"Omong kosong apa yang dia bicarakan. Beku? memangnya dia pikir aku adalah pendingin berjalan."