
"Sekarang katakan, apa yang kau lakukan dengan Demetrio di hotel hingga pagi? Apa kau sudah menerimanya?"
"Sayang, alangkah baiknya kalian membahas ini nanti saja, kita akan terlambat ke bandara. Demetrio sudah menunggu di sana."
"Tapi, aku ingin tahu."
Malvin melengkungkan senyum menatap wanita yang selalu saja mudah berbelas kasih itu dengan penuh pengertian. "Bukankah Marisa akan ikut bersama kita ke Verona, kalian bisa membahasnya sepanjang perjalanan nanti."
"Benarkah?" Mata wanita itu berbinar mendengar penjelasan kekasihnya.
"Tentu saja Sayang. Demetrio sudah mengatakan semuanya kepada orang tuamu, sekarang dia akan membawa Marisa untuk bertemu dengan keluarganya."
"What?" Marisa terbelalak, menatap dengan bola mata terbuka sempurnah. "Kapan dia melakukannya. Apa kau bercanda Malvin?"
"Tidak aku sama sekali tidak bercanda. Dia baru saja meminta ijin untuk membawamu Marisa, dan Dayla menyetujuinya. Kau beruntung karena Demetrio ada pria yang baik. Dayla menyukainya."
Andrea cekikian kegirangan melompat-lompat kecil di samping Marisa. "Kau harus berterima kasih padaku, ini berkat usaha kerasku tadi."
Marisa memutar kedua bola matanya malas. Bahkan mereka hampir ketahuan membohongi Dayla. Namun, di satu sisi dia bahagia karena Andrea ternyata tidak membedakan status mereka karena memiliki Ayah yang berbeda darinya. Marisa selalu takut Andrea akan memutuskan persahabatan mereka karena pernikahan kedua orang tuanya.
Marisa mendekat dan memeluk wanita bermanik abu-abu itu, Andrea yang semula masih ingin berkata menjadi diam dan balas memeluk Marisa. "Bersiaplah, jika tidak kita akan benar-benar terlambat," ujar Andrea memberi jedah pelukan mereka, tatapan meyakinkannya membuat Marisa hampir saja meneteskan air mata.
"Sayang, apa barang-barangmu sudah di siap? mereka akan membawanya ke dalam mobil."
"Baiklah." Malvin mengecup singkat kening Andrea sebelum beranjak dari kamar Andrea.
Sementara itu, Demetrio baru saja menyelesaikan persiapan di bandara, karena kedatangan mereka kemarin menggunakan pesawat pribadi keluarga Alexander maka ia harus memastikan apakah pesawatnya aman dan para awak di dalamnya sudah siap apa belum. Apalagi, dia akan membawa Marisa, keberangkatan kali ini membuat degup jantungnya benar-benar tidak normal. Untuk pertama kalinya dia melakukan penerbangan bersama pasangan wanitanya.
1 jam lagi adalah jadwal keberangkatan mereka, dan Malvin Andrea dan Marisa belum juga sampai. Demetrio tampak sedikit gelisah karena taku Dayla berubah pikiran lagi. Wanita tua itu masih tampak sedikit ragu memberi ijin saat Ia mengatakn jika dia menyukai Marisa. Meskipun Dayla menyukai dirinya. Namun, memberi hak atas anak perempuannya itu adalah hal yang berat. Apalagi setelah tiba di Verona Demetrio akan melakukan penerbangan lagi ke Prancis bersama Marisa untuk menemui keluarganya di sana.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa belum-belum juga sampai." Demetrio merogoh saku jasnya mengambil ponsel miliknya berniat untuk menghubungi Malvin. Namun, saat hendak menekan ikon panggilan tiba-tiba terdengar Malvin meneriaki namanya.
Demetrio tersenyum senang melihat Marisa ada di antara mereka, wajahnya semakin berseri-seri tatkala Marisa tersenyum me arahnya. Diam-diam ia mengumpat di dalam hati karena senyuman Marisa yang begitu manis hingga membuat dadanya bergetar. Jika bukan di bandara, mungkin ia sudah menarik wanita itu di pojokan dan melahap habis bibir wanita itu.
Demetrio setengah berlari mendekat pada Marisa dan lainnya. Tanpa menghiraukan Malvin dan Andrea, Demetrio menghampiri Marisa dan menggenggam tangannya dengan lembut sambil berkata. "Apa kau menyukainya?"
"Huh?" Marisa sedikit mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Demetrio. Dua orang di sampingnya sampai terheran-heran melihat perubahan pria dingin itu.
•
•
Apa ada yang penasaran dengan apa yang Demetrio katakan kepada Dayla dan Lazaro hingga mereka menyetujui hubungan Demetrio dan Marisa? Kita lanjut di bab berikut. 😆😆🙏