Endless

Endless
Chapter 25.



Bingung dengan perasaannya sendiri membuat Malvin menyibukan diri dengan melihat keadaan kelab. Ada banyak wajah baru di sana. Namun, tatapan Malvin tertuju pada satu pria dengan jaket kulit berwarna hitam yang menempel pada tubuhnya. Pria itu menatap lurus ke arahnya dengan tajam hingga memaksa Malvin untuk memalingkan wajah.


Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan Demetrio muncul dengan seorang pria berbadan kekar. Pria itu menggunakan jaket kulit yang sama dengan pria yang di luar tadi.


"Ada apa? Bukankah sudah ku katakan jangan menggangguku?"


"Maaf, Signore. Dia adalah pria yang di utus untuk menyampaikan pesan untukmu."


"Apa yang kau inginkan?"


"Daniel, dia adalah pemimpin klan kami Signore."


"Apa dia adalah pria berjaket hitam dengan lambang bintang itu?"


"Sì, Apa anda sudah melihatnya Signore? Dia menunggu untuk di ijinkan bertemu dengan mu."


Dengan penuh kesopanan Malvin mempersilahkan pria berkulit hitam itu untuk duduk di sampingnya. "Suasana hatiku sedang tidak baik hari ini, tapi karena kalian sudah datang maka ku persilahkan kalian menemuiku."


Demetrio mendekat, dia berdiri tepat di samping Tuannya. "Signore."


"Biarkan dia menemuiku."


"Tapi Signore?" Demetrio tampak ragu-ragu. Namun, tidak dengan Malvin. Dia cukup santai.


"Biarkan saja."


"Sì, Signore."


Demetrio mengangguk mengerti. Dia mempersilahkan utusan yang dia bawah untuk keluar bersamanya. Beberapa menit setelah mereka keluar Demetrio kembali dengan pria yang mereka sebutkan tadi.


"Ciao, Signore Malvin Alexsander. Sedang bertemu denganmu." Daniel menyapa dengan sedikit membungkuk.


"Senang bertemu dengan mu Daniel, meskipun sebenarnya aku sedikit tidak suka dengan caramu datang menemuiku."


Daniel tersenyum getir. "Untuk bertemu orang penting seperti anda, kita harus pintar menggunakan kesempatan Signore."


Malvin tersenyum miring mendapati tamunya yang sangat berani. "Apa yang kau bawa untuk ku?"


"Aku membawa satu informasi yang sangat berharga untuk mu Signore."


"Benarkah?"


"Sì."


"Katakan!"


"Marco, aku mengetahui keberadaan pria itu. Kau mencarinya bukan?"


Rahang Malvin mengetat saat mendengar Daniel menyebutkan nama pria yang telah menghancurkan hidup saudara perempuannya. Wajah yang tadinya santai kini berubah menjadi fokus. Pria dengan manik hitam itu menatap lurus ke arah Daniel seakan mengisyaratkan pria berkulit hitam itu untuk memastikan bahwa info yang dia berikan adalah benar.


"Kau bisa memeriksanya langsung Signore. Aku yakin, dia masih di sana."


"Milan." Daniel menjedah ucapannya, memperbaiki posisi duduknya agar sedikit santai. "Sudah beberapa bulan ini aku menyuruh anak buahku untuk mengawasinya. Dia tidak pernah melakukan aktifitas di luar Milan. Dia juga memiliki beberapa klub malam dan sebuah hotel mewah"


Malvin berdecak di dalam hati.


"Kau menggunakan uang ku dengan cukup baik."


"Apa kau yakin itu dia?"


"Aku yakin. Semua identitasnya sudah aku Pastikan."


Malvin menatap Daniel cukup lama, dia tahu maksud dari info yang Daniel berikan, tentu saja mereka menginginkan timbal balik. Namun, Malvin harus hati-hati. Dia harus melihat seberapa kuat klan mereka untuk bisa berbagi informasi dengannya. "Kau penuh dengan kejutan Daniel. Apa yang kau untungkan dengan informasi yang baru saja kau berikan padaku."


Wajah Daniel tersenyum. "Kau lebih tahu apa yang menguntungkan bagi kami jika berbagi dengan mu Signore."


Pria bermanik hitam itu tertawa keras meski sebenarnya hatinya gelisah. "Tapi sebelumnya aku harus memastikan apakah informasihmu itu benar atau hanya trik untuk membuatku terkesan."


"Kau bisa memastikan bersama anak buahku sekarang."


"Tidak perlu. Aku akan mengutus anak buahku untuk memastikannya. Setelah itu aku akan memberikan apa yang kau perlukan."


"Tentu, Signore."


"Baiklah, sampai bertemu kembali." Malvin mengulrkan tangan kepada Daniel, keduanya pun berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan.


Setelah Daniel dan anak buahnya pergi, Malvin kembali merebahkan tubuhnya pada sofa empuk miliknya. Mata Malvin melebar, tiba-tiba pikirannya di penuhi oleh satu nama yang selalu membuatnya tidak bisa tidur beberapa hari ini. dia benar-benar merindukannya.


"Signore?"


Malvin terhentak kaget dari lamunanya karena Demetrio yang muncul secara tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Garilla baru saja menghubungi, dia mengatakan bahwa Andrea terluka parah."


Rahang Malvin kembali mengetat, dia mengepalkan kedua tangannya hingga terlihat jejeran urat nadinya yang muncul. "Apa kau sudah memastikannya?"


"Sì, Agrio sudah mencarinya. Dia tidak da di Mansion, ada yang mematikan sistem pantau Cctv. Kita tidak bisa melihat kejadian saat Arsula memerintahkan Sella membawa Andrea."


"Lalu, apa yang di katakan Garilla. Apa dia tahu kemana mereka membawa Andrea?"


"Dia hanya mengatakan Andrea belum kembali sejak makan siang tadi."


Malvin meninju meja dengan kepalan tangannya. Demeteio terpaku di tempat saat mendapati meja kaca dengan ukuran tebal itu hancur berkeping-keping di hadapannya.


"Signore!"


"Kita kembali sekarang juga!"