Endless

Endless
Chapter 148



"Malvin!" Demetrio menghadang sahabatnya di depan pintu.


"Minggir! Andrea membutuhkanku."


"Dia tidak akan kenapa-kenapa, ada Dayla dan Marisa yang akan memeriksa keadaan-nya." Ia sedikit melirik ke arah Marisa yang melangkah melewatinya untuk masuk. Wanita itu terlihat tidak suka padanya.


"Minggir Demetrio! Jangan menghalangi jalanku, aku ingin melihatnya."


"Kau akan membuatnya semakin marah, dia pasti hanya sedikit lelah karena terus menerus mual pagi ini. Apa yang kau risaukan, di sini ada keluarganya. Tenangkan dirimu!" Demetrio memekik keras karena Malvin yang sangat tidak bisa mengerti dengan keadaan. "Kenapa sepertinya aku merasa jika kepribadian kalian tertukar."


"Apa maksudmu?" Malvin menepis keras lengan Demetrio yang menghadangnya.


Demetrio terkekeh, ia tahu ini terdengar lucu. Namun, yang ia rasakan memang seperti itu. "Yah kepribadian kalian memang tertukar setelah kekasihmu itu hamil. Kau menjadi pria lembut yang berperasaan dan Andrea menjadi wanita perkasa yang menyeramkan."


"Bodoh!" Malvin meninju tepat di dada kiri Demetrio. "Apa yang tertukar, wanita yang sedang hamil.memang selalu seperti itu, sensitif untuk segala hal. Dan aku adalah calon ayah dari anak yang di kandung oleh Andrea, apa aku harus menjadi monster sama seperti saat aku membasmi musuh-musuh ku?"


"Pria yang sangat romantis,." ujar Demetrio dengan nada malas.


Malvin menaikan ujung bibirnya. "Dasar pria dingin! Mana bisa kau mengerti jika tidak ada lagi hasrat percintaan di dalam dirimu."


Demetrio melirik sejenak ke arah Malvin, menarik napasnya kasar. Dia mencoba memahami keadaan percintaan yang rumit ini. "Cinta memang luar biasa, ia yang kejam bisa berubah menjadi seorang pujangga."


"Tutup mulut dinginmu itu."


Demetrio tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Mau kemana kau?"


"Melihat keadaan Andrea."


"Dia akan baik-baik saja Malvin, tunggulah di sini. Dayla akan memanggilmu jika Andrea sudah lebih tenang," teriak Demetrio ke arah pria yang sepertinya tidak peduli dengan apa yang dia ucapkan.


"Ini sudah cukup lama, aku ingin melihat kekasihku."


"Cukup lama? Demetrio mengerutkan dahinya. "Ini bahkan baru beberapa menit Malvin. Apa yang harus di rindukan, Andrea bahkan tidak ingin melihatmu."


Demetrio terkekeh, dia memang sudah terbiasa dengan kalimat-kalimat mengerikan yang Malvin lontarkan. Tentu saja pria bertato elang itu tidak serius mengatakannya, ini adalah kejadian keseribu kalinya yang Demetrio alami. Malvin selalu begitu, ia menutupi rasa malunya dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Dan itu, hanya Demetrio sajalah yang mengetahuinya.


"Andrea baik-baik saja, dia hanya masuk angin biasa," ujar Dayla saat menutup pintu kamar Andrea.


Malvin dan Demetrio kaget, dan segera menoleh ke arah wanita yang menjadi ibu sambung Andrea itu. Pria dengan manik hitam itu membuah napas legah. "Apa dia masih mual? Bagaimana dengan bayi-nya. "


Dayla tersenyum, dia senang melihat kekhawatiran Malvin untuk putrinya. "Dokter sudah memeriksanya, mereka baik-baik saja. Andrea hanya butuh istirahat, kondisi tubuhnya melemah karena lelah. Sakit di perutnya di sebabkan oleh bekas lukanya."


"Syukurlah!"


Dayla mengusap lembut bahu Malvin agar dia bisa sabar menghadapi tingkah Andrea yang sedikit kekanakan. Ia tahu, Malvin sangat mencintai Andrea, kecemasannya adalah hal yang wajar. Apalagi sekarang Andrea sedang mengandung anaknya.


"Maafkan Andrea Malvin, dia hanya takut kau meninggalkannya."


"Si, aku tahu."


"Kau tidak ingin melihatnya?" tanya Dayla.


"Apa boleh? Bukankah tadi Marisa mengatakan jika dia tidak ingin melihatku?"


Dayla menahan napasnya. "Marisa akan mengantar dokter keluar. Sebaiknya kau masuk dan meluruskan masalah kalian."


"Aku akan mengurus Marisa, kau selesaikan salah pahammu dengan tuntas," ujar Demetrio menambahkan.


"Terimah kasih untuk segalanya Dayla."


Tepat setelah Malvin mengatakan rasa terima kasihnya kepada Dayla, terdengar suara pintu terbuka, dan benar saja, Marisa keluar dengan dokter yang memeriksa Andrea. Malvin tersenyum lebar Ia melangkah meninggalkan Demetrio dan Dayla menunggu Marisa menjauh agar dia bisa masuk.


"Lakukan tugasmu dengan benar Demetrio."


"I know!" ujarnya dengan malas.