
"Andrea .... Andrea ... buka pintunya!"
Tidak ada jawabn dari dalam sana, Andrea sibuk mendinginkan pikiran dan hatinya di bawah guyuran air. Perempuan yang sedang patah hati itu tengah menangisi akibat dari kesalahannya sendiri.
"Andrea!!" Garilla terus berteriak, mengetuk pintu berulang kali hingga suara pintu terbuka dan Andrea berdiri dengan tubuh basah berbalutkan handuk di hadapannya.
"Kau mencuci rambutnya saat malam begini? Kau akan terkena flu Andrea."
"Aku sedikit gerah, untuk itu aku mencuci rambutku."
"Apa yang terjadi? Demetrio menyuruhku untuk melihat keadaanmu."
"Demetrio? untuk apa."
Garilla menatap ke arah tempat tidur. "Apa ini? Kenapa kau mengemasi semua barang-barangmu?" Garilla bertanya dengan khawatir.
"Malam ini aku akan kembali ke Puelba."
"Apa?" Garilla tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. "Dan Signore mengijinkannya."
Andrea terdiam, dia merapikan pakian lalu mengambil yang harus dia kenakan untuk keberangkatannya ke Puelba, dia menggunakan kaos biru Navi dan celana jeans yang membuatnya terlihat ceria, dia harus terlihat baik-baik saja saat menemui keluarganya nanti.
"Andrea, lihat aku." Garilla menangkup wajah sahabatnya memaksa agar fokus Andrea tertuju padanya. "Apa sesuatu terjadi? Kenapa Signore mengijinkan mu kembali ke Puelba, bukankah dia mengatakan menginginkan mu?
"Dia yang menyuruhku pergi Garilla, dia membebaskan ku dari sini."
"Itu tidak mungkin."
"Tetap berbuat yang terbaik Garilla. Aku mendoakan mu agar secepatnya di bebaskan."
"Jangan membuatku harus mengeluarkan air mata Andrea, aku tidak menyukai kesedihan."
Andrea meraih tubuh Garilla dan memeluknya dengan erat, wanita berkulit hitam itu akhirnya mengeluarkan air mata bersama-sama dengan sahabatnya. "Aku akan sangat merindukanmu Garilla."
Wanita yang sedang membereskan riasan yang terkena air mata itu menengok. "Sepertinya dia mendengar semua yang aku katakan padamu."
"Soal, kau masih bingung dengan perasaamu?"
Andrea mengangguk, wajahnya sungguh terlihat sangat sedih.
"Kalian bisa memperbaikinya, ini hanya salah paham. Katakan yang sebenarnya jika kau hanya bingung, bukan menolaknya."
"Tidak Andrea, biarkanlah. Yang terbaik dari kejadian ini adalah, aku bisa kembali kepada keluarga ku."
"Andrea aku mohon jangan pergi, apa kau tidak kasihan padaku? Siapa yang akan membantu ku menyingkirkan Dua wanita jahat itu."
Andrea terkekeh, mengingat Sella selalu bertindak seenaknya dan tidak menghargai Garilla. "Mereka tidak akan melakukannya lagi, Arsula di tahan di ruang bawah tanah. Malvin menembaknya, dia berada di balik bunuh dirinya Nona Daisy."
"Sudah ku duga, wanita itu memang penjahat. Seharusnya Signore langsung membunuhnya."
"Dia harus tetap hidup agar keberadaan Marco bisa di temukan. Pria itu melarikan diri sesaat sebelum Malvin dan Demetrio tiba di Milan."
Alis Garilla terangkat meminta penjelasan, membuat Andrea menghembuskan napas.
"Signore akan mengumumkannya kepada kalian, dia juga akan memberi hukuman kepada Sella karena telah membantunya melakukan kejahatan itu."
"Sebentar." Garilla terlihat berfikir, sebelum akhirnya meraih tangan Andrea dan memaksanya untuk duduk bersamanya. "Dari mana kau tahu semua ini? Apa Signore yang mengatakannya padamu?"
"Tidak," ucapnya dengan berat. Dia menatap Garilla dengan sangat dalam. "Sebenarnya, wanita yang di katakan adalah selingkuhannya Marco itu adalah aku. Aku berada di sini karena itu. Selain aku Arsula adalah wanita yang juga memiliki hubungan dengan Marco, mereka bekerja sama untuk menjebak ku dan Daisy."
Garilla sangat terkejut, wanita berkulit hitam itu menutup mulut dengan kedua tangannya. "Apa ini artinya kau di bebaskan karena terbukti tidak bersalah?"
Andrea tersenyum. "Yah, anggap saja seperti itu."