Endless

Endless
Chapter 118



"Apa aku melewatkan sesuatu?" Andrea bertanya saat terbangun dengan mendapati wajah kekasihnya yang terlihat serius menatapnya.


Malvin menggeleng. "Bagaimana perasaanmu, aku menyuruh Kriss untuk memberikan sedikit suntikan vitamin untukmu."


"Vitamin?" Andrea mengerutkan kedua alisnya.


"Kau memuntahkan semua isi perutmu tadi Sayang, itu membuatku sangat khawatir."


"Aku baik-baik saja Malvin, mungkin hanya sedikit masuk angin dan kau tidak perlu memanggil dokter. "


"Aku takut jika sesuatu terjadi padamu, kau terus saja muntah bahkan wajah cantikmu ini menjadi sangat pucat." Malvin mengelus pada pipi kekasihnya.


Andrea menghela napas pelan. "Kau berlebihan Sayang, aku baik-baik saja."


"Tenanglah Sayang, jangan banyak bergerak." Malvin menahan tubuh kekasihnya yang hendak turun dari pembaringan. Malvin menempelkan jemarinya pada satu sisi pipi Andrea. Tatapannya lembut mengarah pada wanita yang baru saja membuatnya bahagia luar biasa. "Tetaplah di tempatmu, aku mohon!"


Andrea tersenyum manis. Dia menghargai kekhawatiran kekasihnya dan kembali ke pembaringan. "Berbaringlah di sampingku, aku ingin memelukmu."


Dengan gerakan yang sangat lembut Malvin beringsut dan berbaring di damping kekasihnya. Andrea, dengan cepat menempelkan tubuhnya pada pria bermata hitam itu, menenggelamkan wajahnya di dada berkotak yang selalu membuatnya tenang. "Aku baik-baik saja, sungguh." Perempuan itu mendonggak untuk memberi tatapan meyakinkan untuk kekasihnya bahwa dia memang baik-baik saja.


Malvin membalas tatapan wanita yang akan menjadi calon istri dan juga ibu itu dengan serius. "Ada yang ingin aku katakan padamu Sayang." Dengan gerakan sangat lembut dia mengelus di bagian perut yang masih terlihat datar itu.


"Apa? Kau telihat serius."


"Sebelum aku mengatakannya, aku ingin bertanya kepadamu. Apa kau serius saat menerima lamaranku waktu itu? Apa kau bersedia menjadi ibu dari anak-anak ku nanti?"


Andrea mengecup di sudut bibir kekasihnya. "Tentu saya Sayang, kita bahkan membuat permintaan bersama untuk Tuhan agar memberikan bayi yang cantik dan tampan."


"Ada apa, kau terlihat sangat dramatis hari ini."


"Terima kasih telah mengabulkan permintaanku."


Andrea tertawa kecil. Namun, jauh di benaknya dia tidak mengerti dengan apa yang sedang di ucapkan kekasihnya. Belum sempat Andrea menjawab, Malvin sudah lebih dulu mengatakannya.


"Kau sedang mengandung Sayang, kau hamil." Malvin membawa tangan Andrea ke bibirnya, memberikan beberapa kecupan di sana.


Andrea menatap mata Malvin, ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sulit menggambarkan perasaan Andrea saat ini, dan Malvin menyadarinya saat wanita itu mengeluarkan air mata.


"Sayang ...." Malvin mencoba menangkan kekasihnya, dia takut jika Andrea akan syok sama seperti yang di katakan Kriss


"Aku ha--hamil?"


"Ya!" Malvin mengangguk. Tatapan pria itu tidak fokus ada banyak ketakutan di dalam matanya, jika Andrea benar-benar menolaknya maka sungguh, itu adalah kehancuran terbesarnya.


Andrea tertawa kecil dengan mata berkaca. Dia menunduk sambil mengelus perutnya. "Jadi, di dalam sini ada seseorang?"


"Yah!" jawabnya dengan sangat pelan. Namun penuh dengan penekanan.


"Oh god! Benarkah? Ini sungguh luar biasa." Andrea menangkuk pipi Malvin, Air mata itu kini menetes tiada henti. "Kita akan memiliki anak Malvin, kau akan menjadi seorang Ayah."


Malvin mengangguk pelan, pendar matanya benar-benar berkilau. Sungguh, tangisnya sudah hampir meledak saat ini. Sekuat tenaga dia menahan. Namun, rasa harunya benar-benar sudah mengusainya. Air mata itu akhirnya lolos, sepasang kekasih itu berbagi kebahagiaan dengan saling memberi kecupan. Malvin berulang kali mengecup pipi Andrea sambil mengelus perutnya.


"Terima kasih Sayang, Aku mencintaimu."