
Andrea tidak bisa merasakan apa-apa, tapi dia sadar seseorang tengah mengangkat tubuhnya membantunya menaiki mobil. Beberapa kali kelopak matanya mencoba untuk terbuka. Namun, itu sia-sia, pusing di kepala akibat pukulan itu membuat dia menutup mata dan tidak sadarkan diri
Seorang pria baru saja merampoknya, dia berusaha untuk mempertahankan ponselnya yang ingin di rebut. Akan tetapi hantaman keras di kepalanya membuat dia tidak berdaya, dan pria itu melarikan diri setelah mengambil ponselnya. Beruntung, sebuah mobil melewati jalan itu dan menolongnya.
"Apa yang kau lakukan pada wanita cantik ini?" Paris memekik saat melihat wajah yang sepertinya tidak asing baginya.
"Apa kau pikir aku tahu, aku baru saja tiba di Verona, aku menemukannya saat melewati area pemakaman."
"Aku pikir dia adalah salah satu korbanmu."
"Dasar gila! Dia bukan tipeku."
"Kalau begitu hubungi keluarganya agar mereka bisa tahu bagaimana kondisi wanita ini." Paris memberi saran agar dia tidak terkena masalah karena mengobati orang tanpa identitas.
"Aku tidak mengenalnya Paris, sudah kutakan aku menemukannya di jalanan."
"Entah kenapa aku tidak percaya dengan ucapanmu Tuan predator."
Zigo memutar kedua bola matanya, dia selalu tidak suka dengan panggilan itu. "Bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja?"
"Dia hanya pingsan, mungkin beberapa menit lagi akan sadar."
Tepat setelah paris menyelesaikan kalimatnya, Andrea mulai mengerjab. Perlahan mata abu-abunya mulai terbuka, meski masih terasa sedikit pusing dan berat di kepalanya.
"Hei, Nona! Apa kau baik-baik saja?"
Andrea beringsut, dengan cepat wanita itu mengambil bantal dan menghantamnya berulang kali ke arah Zigo. "Dasar pecundang, beraninya kau melukaiku, kembalikan ponselku kalau tidak kau akan mati jika kekasihku menemukanmu!"
"Hei, Nona! Aw .... Hentikan Aw .... Kenapa kau memukul ku? Hei hentikan!" teriak Zigo dengan keras.
"Wanita gila! Aku menolongmu dan kau membalasnya dengan ini? Jika aku tahu akan mendapatkan pukulan bantalmu, aku tidak akan mau menolongmu."
"Oh, sial. Apa aku salah memukul orang?"
"Tentu saja! Arrghhh, kau harus bertanya dahulu sebelum melakukan tindakan. Jika tidak kau akan salah sasaran dan itu akan mempersulit keadaanmu Nona."
"Maaf! Aku pikir kau adalah pria yang merampokku tadi."
Paris terbahak mendapti wajah Zigo yang begitu kesal. Dia mendekat untuk memberi penjelasan agar Andrea bisa tahu apa yang terjadi. "Hai! Perkenalkan, aku Paris dokter yang merawatmu. Dan pria ini, dia bukanlah penjahat. Namanya adalah Zigo, dan dia adalah kekasihku. Saat menuju ke tempatku, dia tidak sengaja menemukanmu pingsan di jalanan. Dia membawamu kemari dan kami merawatmu."
Sangat jelas, Paris menyelesaikan penjelasannya dan Andrea sedikit merasa malu karena itu. Dia menatap Zigo yang terlihat kesal. "Maafkan aku."
"Baiklah, siapa namamu Nona?" tanya Paris kepada pasiennya yang terlihat begitu cantik.
"Andrea, dokter."
"Apa kau ingat di mana rumahmu? atau mungkin ada seseorang dari keluargamu yang bisa kami hubungi? Aku dan kekasihku harus segera pulang, dan tidak mungkin untuk kami membiarkan pasien sendirian tanpa identitas. Kau tahu bukan, wali mu sekarang adalah kekasihku, karena dia yang menemukanmu. Dia akan melanggar aturan jika meninggalkanmu sendirian."
Andrea terdiam, dia tidak memiliki ponsel dan tentu saja Nomor Garilla dan Agrio ada di sana. Bagaimana bisa dia menghubungi mereka jika ponselnya sudah tidak ada. Jalan satu-satunya adalah dia harus menghubungi Malvin, hanya nomor pria itu yang dia tahu.
"Maaf, apa boleh aku meminjam ponselmu dokter Paris? Aku ingin mencoba menghubungi keluargaku."
"Tantu saja." Paris mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Andrea.
Wanita itu menerimanya dan menekan beberapa nomor di sana untuk melakukan panggilan. Nada masuk berbunyi, Andrea menghembuskan napas berat berulang kali, khawatir jika Malvin tidak mau menerima panggilannya. Ini bahkan sudah sangat larut, pria itu pasti sangat khawatir karena dia yang belum juga kembali.